
"Ron, bisa bantu aku melacak keberadaan Adila? Dia sudah terlalu lama menghilang dan belum ada kabar sampai sekarang." pinta Irene.
Ia tengah melakukan panggilan telepon dengan Ron. Perasaannya selalu resah selama Adila belum ditemukan. Ia masih penasaran kenapa Adila menghilang begitu saja tanpa jejak.
"Baik, Nona. Kami akan melakukan yang terbaik."
"Adila itu sangat aneh, Ron. Dia bisa pulang ke tanah air dengan meminta identitas baru ke kedutaan besar. Kalau memang dia merasa hilang, seharusnya meminta dicarikan keluarga atau teman-temannya, bukan malah meminta dipulangkan. Setelah pulang, dia juga tidak kembali ke rumahnya."
"Iya, Nona. Anda harus bersabar. Saya dan yang lain pasti akan membantu Nona."
"Apa mungkin ada yang berusaha menyembunyikan jejak perjalanan Adila, Ron? Bagaimana menurutmu?" tebak Irene.
"Itu mungkin saja, Nona. Biar kami yang memikirkannya."
Irene menghela napas. "Ya sudah kalau begitu, Ron. Aku sangat mengharapkan kabar baik darimu."
Tok tok tok
Irene mendengar suara pintunya diketuk. "Ron, teleponnya sudah dulu, ya! Ada yang datang ke kamarku," ucap Irene.
"Iya, Nona. Anda tolong jaga kesehatan dan jangan sampai sakit."
"Iya, Ron. Terima kasih atas perhatianmu."
__ADS_1
Irene menutup telepon dan meletakkan ponselnya di atas nakas. Sebelum membuka pintu, ia melihat dirinya di cermin memastikan penampilannya masih dalam mode penyamaran.
Saat membuka pintu dan melihat sendiri siapa yang datang, Irene tertegun dan merasa tak percaya. "Kakek! Nenek!" serunya.
Segera ia memeluk dua orang tua yang telah membesarkan dan merawatnya sampai saat ini. Ia tidak menyangka jika keduanya datang menemui dirinya. Padahal nenek bilang kemarin mereka tengah berlibur ke luar negeri.
"Kakek dan Nenek membohongiku, ya, kemarin? Katanya kalian sedang di luar negeri dan baru pulang minggu depan?" kata Irene sembari merengut.
"Ini memang rencana Alan. Dia yang telah menjemput dan membawa kami ke sini, katanya dia tidak tega membiarkanmu melewatkan Imlek tanpa keluarga," ucap nenek.
Irene terharu. Ia tidak menyangka jika Alan memikirkan sejauh itu. Padahal, ia berencana pergi ke desa karena sengaja ingin menghindar dari Alan. Ternyata lelaki itu malah menghadirkan kakek neneknya di sana.
Irene menyuruh neneknya masuk ke dalam kamar, sementara sang kakek akan menemui Alan di bawah. Ia sangat menikmati pertemuan mereka dengan bermanja-manja ria.
"Nenek sudah tahu belum kalau Kakek Narendra sebelum meninggal memberikan wasiat agar aku dan Kak Alan menikah?" tanya Irene.
Irene terdiam tak menjawab.
"Kalau memang kamu tidak menyukainya, jangan memaksakan diri. Nenek akan mencoba berbicara dengan kakek. Bagaimanapun juga, pernikahan tidak boleh dipaksakan," ucap nenek.
"Tidak seperti itu, Nek. Aku sangat menyukai Kak Alan."
"Kamu yakin?" tanya nenek memastikan. Dari sorot matanya, Irene seperti masih menyembunyikan suatu beban yang tak ingin diceritakan.
__ADS_1
Irene kembali memeluk neneknya. "Benar, Nek. Aku sangat mencintainya. Nenek tenang saja, aku pasti akan bahagia dan hidup dengan baik."
***
Irene baru naik ke atas setelah mengantarkan kakek dan neneknya ke kamar bawah. Sebelum memasuki kamar, ia berpapasan dengam Alan. Lelaki itu tersenyum kepadanya.
"Apa kakek dan nenekmu sudah beristirahat?" tanya Alan.
Irene mengangguk. "Mereka sudah ada di kamarnya. Kak Alan belum tidur?"
"Aku belum mengantuk."
Irene terlihat cukup gugup berhadapan dengan Alan. Ia bahkan tak berani menatap langsung pada mata Alan.
"Em, Kak ... Terima kasih ya, sudah membawa kakek dan nenek datang ke sini. Aku sangat terkejut," ucap Irene.
"Kamu tidak perlu berterima kasih. Kita kan memang sudah seperti keluarga."
Alan berjalan mendekat. Irene menjadi merasa semakin gugup. Ia ingin lari tapi punggungnya telah menempel pada di dinding. Alan membelai rambutnya.
"Ada daun kecil di rambutmu," kata Alan seraya mengambil benda itu dari rambut Irene dan membuangnya.
Lelaki itu mulai mengelus pipi Irene dengan lembut, membuat Irene serasa gemetar tubuhnya. Apalagi Alan semakin mendekatkan bibirnya ke wajah Irene.
__ADS_1
"Em, maaf, Kak! Aku mau tidur dulu!" seru Irene seraya mendorong tubuh Alan. Ia berlari masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.
Di balik kamar, napas Irene masih terengah-engah. Ia tidak percaya jika Alan hendak menciumnya tadi.