Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 313


__ADS_3

Dalam helikopter yang bergetar dengan suara baling-baling yang berputar, Alan duduk di belakang pilot dengan peta dan peralatan pencarian di tangannya. Di sebelahnya, Irene duduk tegang, matanya terus memandang ke bawah mencari tanda-tanda keberadaan Arvy.


"Sayang, apakah kita akan menemukannya? Aku begitu khawatir tentang Arvy," ucap Irene.


Alan menggenggam tangan Irene. "Kita akan mencarinya sampai kita menemukannya, Sayang. Kita tidak akan berhenti mencari sampai kita membawa Arvy pulang dengan selamat."


"Tuan Alan, kami sedang menyusuri pesisir pantai bagian timur. Tidak ada tanda-tanda keberadaan yang mencurigakan sejauh ini," kata sang pilot lewat alat komunikasi.


"Coba cari di kawasan lain atau putari kawasan pulau!" pinta Alan.


"Baik."


Di belakang mereka, dua kru tambahan duduk dengan tegang, memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan Alan dan pilot. Suasana di dalam helikopter terasa tegang, namun mereka semua mengumpulkan kekuatan dan fokus pada misi pencarian.


Irene mengamati ke bawah menggunakan teropong. "Sayang, lihat! Aku melihat sesuatu di pinggir pantai!" serunya kegitangan.


"Apa itu, Sayang? Apakah itu tanda-tanda keberadaan Arvy?"

__ADS_1


"Ya, aku yakin itu Arvy! Tulisan "help" terlihat jelas di pasir. Mari kita menuju ke sana!" kata Irene bersemangat.


Alan lantas meminta teropong yang Irene pegang. Ia memandang ke tempat yang tadi ditunjukkan.


"Tolong arahkan helikopter ke sebelah kiri pulau. Ada tulisan yang sepertinya dibuat oleh orang," pinta Alan kepada sang pilot


Pilot mengkonfirmasi. "Baik, Tuan. Kami akan mengarahkan helikopter ke titik tersebut."


Helikopter segera mengubah arah menuju lokasi yang ditunjukkan oleh Irene. Dalam beberapa menit, mereka semakin mendekati pantai yang ditandai dengan tulisan "help" di pasir. Helikopter mendarat dengan hati-hati di dekat pantai.


Alan dan Irene turun dari helikopter. Terlihat Arvy dan Adila tengah berdiri di bawah pohon kelapa. Mereka berlari mendekat ke arah Alan dan Irene seraya berpelukan. Suasana seketika menjadi haru. Bahkan Adila menangis dalam pelukan Irene.


Arvy menggigit bibir karena tidak mau menangis dan terlihat cengeng. "Terima kasih sudah datang dan menyelamatkan kami, Kak," ucapnya.


"Sudahlah, sekarang sudah tidak apa-apa. Jangan cemas," kata Alan menenangkan. Bagaimanapun juga, ada perasaan khawatir yang dipendam oleh Arvy selama sehari terdampar di tempat itu.


"Adila, tenangkan dirimu. Semuanya sudah baik-baik saja." Irene turut menenangkan Adila yang sepertinya trauma berat sampai tidak bisa bicara.

__ADS_1


"Lebih baik kita segera naik dan beristirahat," pinta Alan.


Mereka kembali naik ke dalam helikopter. Alan duduk berdampingan dengan Arvy, sementara Irene dengan Adila. Sejak tadi Adila terus memegangi tangannya dengan erat.


"Tidak apa-apa, Adila. Kami sudah ada di sini," kata Irene.


Adila masih berusaha menyeka air matanya. Ia sangat bahagia akhirnya ada yang berhasil menyelamatkannya. "Aku kira aku tidak akan bisa pulang," ucapnya.


Irene tersenyum. "Nanti kamu akan kami antar pulang, buanglah rasa khawatirmu, pintanya."


Setibanya di hotel, Arvy dan Adila disuruh untuk beristirahat. Alan menelepon ke rumah.


"Alan, bagaimana?" tanya sang ayah dengan nada gemetar.


"Papa tidak perlu khawatir. Semuanya baik-baik saja. Kami sudah menemukan Arvy," jawabnya.


"Oh. Syukurlah. Kami akan menyusul ke sana!"

__ADS_1


"Tidak usah, Pa! Arvy baik-baik saja. Besok akan aku ajak dia pulang." Alan tak ingin membuat ayahnya repot.


__ADS_2