
"Bagaimana dengan kuliahmu? Apa ada kendala?" tanya Alan di sela-sela pesta dansa. Sebenarnya ia juga merasa gugup mendekap tubuh Irene sembari mengikuti irama. Ia sengaja mencari topik pembahasan agar tidak merasa kikuk.
"Tidak ada kendala apa-apa, Kak. Semuanya lancar." untung saja wajah Irene berada di dada Alan. Tak terbayangkan malunya jika Alan melihat wajahnya yang saat ini sangat memerah.
"Irene!" sapaan Alex menghentikan dansa yang Alan dan Irene lakukan. Sejenak pelukan di antara keduanya terlepas.
Alex mengulaskan senyuman saat menatap Irene. "Mau berdansa denganku juga?" tanyanya.
Irene membisu. Ia cukup terkejut dengan tawaran yang Alex ajukan. Ia sangat tahu Alex selalu menjadi lelaki yang baik, namun dirinya jadi canggung setelah Alex menyatakan perasaannya.
Ia berniat mengulurkan tangannya namun Alan mengambil kembali tangannya seakan tidak rela Irene berpindah dansa dengan Alex.
"Ini anak beban, Alex. Tidak terhitung berapa kali dia menginjak kakiku. Lebih baik kamu memilih pasangan dansa yang lain saja. Aku sengaja menahannya agar tidak menyusahkan orang lain," ucap Alan.
Irene tersenyum canggung. Alan selalu menyebalkan. Seperti menolong dirinya tapi sebenarnya hanya ingin mengejeknya saja di hadapan Alex.
"Kak Alan benar, biar aku dansa dengan Kak Alan saja. Aku suka menginjak-injak kakinya," balas Irene.
Alex tampak tersenyum kecewa. Ia merasa baru saja tertolak. "Baiklah, aku akan berdansa dengan Erika saja," ucapnya seraya mundur perlahan menjauh dari keduanya.
Alex menghampiri Erika yang tengah berbincang dengan teman-temannya. Ia berbisik lirih mengajak wanita itu untuk berdansa. Tanpa disangka, Erika langsung setuju. Ia meninggalkan temannya untuk turun ke lantai dansa bersama Alex.
Mata Alex terus tertuju kepada pasangan dansa Alan dan Irene. Ia masih saja heran dengan perlakuan yang Alan berikan kepada Irene. Sejak awal kehadiran Irene di rumah mereka, Alan merupakan lelaki yang paling tidak tertarik dengan Irene. Apalagi saat itu Alan telah berpacaran dengan Sovia.
Tidak mungkin seorang Alan yang sudah terbiasa berpacaran dengan wanita secantik Sovia berpindah haluan menyukai wanita kampungan yang dekil.
"Tumben kamu mengajakku berdansa," ucap Erika yang tampak nyaman memeluk tubuh Alex.
"Aku hanya ingin saja," ucapnya asal.
"Jangan berusaha membodohiku. Sebenarnya kamu melakukan ini agar bisa memandangi wanita yang ada di depan kita, kan?" tebak Erika.
Alex terdiam, menunjukkan bahwa tebakan Erika benar.
"Kamu benar-benar menyukai Irene, ya?" tanya Erika.
__ADS_1
Alex masih terdiam, tidak menyangkal maupun membenarkan ucapan Erika.
Erika semakin mengeratkan pelukannya, bergerak beriringan dengan Alex mengikuti alunan nada. Hatinya terasa sakit meskipun Alex hanya diam. Bertahun-tahun ia telah mencintai lelaki itu, namun kehadiran Irene yang baru sebentar saja telah mencuri lelaki yang dicintainya.
Alan mengajak Irene meninggalkan lantai dansa. Tangannya terus ia pegangi dan membimbingnya berjalan ke sebuah ruangan yang ada di lantai dua rumahnya. Saat Alan membukakan pintu, sebuah piano besar berwarna putih berdiri gagah di tengah ruangan. Sementara, alat musik lainnya berjajar dengan rapi mengisi setiap sudut ruangan tersebut.
Alan mengajak Irene mendekati area piano. Irene berdiri di sebelah piano sementara Alan duduk di kursi memainkan jemarinya di atas tuts piano.
Irene terperanjat saat Alan mulai memainkan melodi musik yang dikenalnya. Sebuah lagu yang selalu membuatnya terharu serta terkenang akan masa lalu. Lagu yang menjadi salah satu sountract Drama Korea favoritnya itu seakan memiliki daya pikat yang menariknya untuk ikut serta duduk di sebelah Alan.
Alan keheranan saat Irene ikut memainkan melodi lagu yang sedang dimainkannya. Judulnya Dream yang dipopulerkan oleh duo asal Korea Selatan, Bolbbalgan4.
Kau jauh di sana
Ku tak bisa melihatmu
Tak pernah ku membayangkan
Sosokmu di depanku
*
Dan jangan mendekatiku
Hatiku yang telah membeku
Tak bisa ku memelukmu
*
Bunga berguguran
Iringi sedihku
Tutupi mataku yang memerah
__ADS_1
Andai aku bisa
Kuingin kembali pada masa yang indah itu
*
Alan lebih terpana saat Irene menyanyikan lagu tersebut dalam versi Bahasa Indonesia. Suaranya terdengar sangat merdu hingga menyentuh hati siapapun yang mendengarnya. Bahkan sembari bernyanyi, wanita itu masih bisa mengimbangi permainan piano yang Alan lakukan.
Melihat air mata yang mengalir di pipi Irene semakin membuat Alan merasa penasaran. Sosok wanita di sampingnya begitu menghayati musik hingga terharu.
Semakin hari semakin ia tertarik dengan wanita itu. Apapun yang Irene lakukan selalu membuatnya terkesima. Ia menjadi semakin penasaran tentang asal-usul Irene yang belum terlalu jelas baginya. Segala macam usaha telah ia lakukan untuk mencari tahu tentangnya, namun hingga saat ini hasilnya nihil.
Keduanya terus memainkan melodi lagu dengan kompak. Suara nyanyian Irene terdengar merdu sepanjang lagu dimainkan, meskipun air mata tak henti mengalir dari pipinya. Saat melodi yang dimainkan selesai, tangisan Irene pecah.
Alan menarik tubuh Irene agar bersandar kepadanya. Ia menepuk pundak wanita itu untuk menghiburnya. Baru kali ini ia melihat Irene sedih dan menitihkan air mata. Biasanya, wanita itu selalu terlihat ceria dan berani. Tidak ada satupun orang yang bisa menindasnya. Bahkan jika sudah bersama Ares, rumah seakan tempat perang akibat kericuhan keduanya.
"Padahal aku memainkan lagu ini sebenarnya untuk berniat pamer kepadamu," ucap Alan.
Irene tertawa. Ia mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Kesedihannya terganti setelah mendengar kata-kata Alan. "Tapi, Kak Alan sudah berhasil mempermainkan perasaanku," ucapnya.
"Apa yang membuatmu sampai menangis memainkan lagu ini? Pasti karena Hwarang, ya?" tanya Alan.
Irene kembali tertawa. Ia tidak menyangka jika Alan ternyata juga tahu tentang drama tersebut. Meskipun tidak terlalu sering menonton drama, tapi salah satu drama yang pernah ia tonton adalah Hwarang yang juga menurutnya memiliki jalan cerita yang bagus.
"Ya, aku suka Hwarang, terutama tokoh Sam," jawabnya.
"Aku kira kamu suka Ah Ro." Alan berucap karena merasa Ah Ro sama seperti Irene, wanita yang ceria dan kuat.
"Tidak ... Aku suka yang ganteng-ganteng. Ah Ro di situ cengeng, sering nangis."
"Kayak kamu sekarang!" ledek Alan. Ia senang melihat ekspresi kekesalan yang ditunjukkan Irene. Baginya, itu sangat menggemaskan.
Irene melotot ke arah Alan. "Aku menangis bukan karena cengeng, tapi terharu," kilahnya.
Irene menghela napas. "Kalau mendengarkan lagu ini, aku jadi merindukan kedua orang tuaku yang telah meninggal." Kalau sudah berbicara tentang orang tua, Irene selalu menjadi melankolis. Ia belum puas menjalani kehidupannya bersama kedua orang tua.
__ADS_1
Alan menepuk kepala Irene. "Sudahlah, kamu juga sudah besar dan sangat pintar menjaga diri. Orang tuamu di sana pasti sangat bangga melihatmu sudah tumbuh dewasa dan mampu menghadapi kesulitan hidup sendiri."