
"Saya optimis bahwa mega proyek kita kali ini akan sukses. Tidak perlu diragukan lagi, kawasan baru yang akan kita bangun dalam waktu 5 tahun ke depan akan menjadi kawasan yang menjadi incaran kalangan menengah ke atas dalam menentukan hunian. Selain itu, tempat wisata yang akan kita bangun akan menjadi salah satu alternatif wisata bagi masyarakat perkotaan untuk melepas penat."
Alex berdiri di depan sebuah layar proyektor menjelaskan gambaran denah dan bentuk tiga dimensi dari rencana pembangunan kawasan perumahan, hotel, serta tempat wisata di daerqh pinggiran kota. Ia meyakinkan seluruh investor dan dewan direksi perusahaan bahwa proyeknya kali ini pasti akan berhasil dan mendatangkan keuntungan bagi semua pihak.
"Bagaimana dengan akses jalan menuju ke sana? Orang tentunya akan malas bepergian jika akses jalan sulit." Pak Frans dari salah satu perusahaan konstruksi yang minat bergabung dengan proyek Alex masih menimbang-nimbang keputusan finalnya.
"Tentu saja hal tersebut sudah menjadi pertimbangan kami, Pak. Kita bisa lihat akses jalan menuju kawasan yang akan kita bangun. Akses jalannya sangat mudah." Alex menunjukkan gambar yang menunjukkan rute-rute yang bisa ditempuh untuk menuju lokasi proyek mereka.
"Apa proses pembebasan lahan sudah final?" sahut Pak Luhung dari perusahaan properti.
"Sebagian besar sudah final dan dilakukan pelunasan. Hanya sedikit warga yang masih alot untuk melepaskan lahannya. Namun, saya rasa jika diberikan harga yang sesuai, mereka juga akan melepaskannya."
"Untuk akses internet di daerah sana masih terbilang sulit, makanya saya juga mengundang Pak Irul untuk menjadi provider jaringan internet di sana."
"Proyek kita termasuk dalam proyek jangka menengah sampai jangka panjang. Memang, hasilnya tidak akan instan langsung bisa dirasakan. Anggaplah ini sebagai proyek investasi yang pada akhirnya akan membuat kita tersenyum di masa depan."
Penyampaian Alex di depan para koleganya sangat apik. Bahasanya begitu tertata dan mudah dipahami. Bahkan para pengusaha yang jauh lebih senior darinya kagum akan kecerdasannya dalam hal public speaking.
Rapat berlangsung dengan baik. Mereka saling mengungkapkan ide gagasan serta permasalahan yang mungkin akan dihadapi dalam realisasi proyek. Seluruh peserta rapat saling menghargai pendapat masing-masing pihak.
"Kira-kira kapan proyek tersebut akan dimulai?" tanya Pak Januar, Paman Alex yang menjabat sebagai komisaris perusahaan.
"Rencananya akan dilaksanakan akhir tahun ini setelah penandatanganan ...."
__ADS_1
Krik! Krik! Krik!
Perkataan Alex terhenti saat terdengar suara aneh dari speaker yang ada di dalam ruangan. Seperti ada suara jangkrik yang diputar. Layar proyektor juga ikut eror, gambar yang ditampilkan tiba-tiba menghilang dan muncul gambar acak yang bergerak sangat cepat.
Kondisi rapat seketika menjadi heboh. Mereka bertanya-tanya kepada satu sama lain tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Alex memberi kode pada staf yang bertanggung jawab untuk mengatur tampilan layar di ruang rapat itu. Akan tetapi, staf tersebut juga terlihat bingung dengan monitornya sendiri.
"Ada apa ini?" tanya Januar.
"Saya juga belum tahu, Om. Akan saya cari penyebabnya dengan segera." Alex berlari menghampiri staf bagian operator.
Erika yang turut terlibat dalam rapat tersebut hanya bisa memperhatikan tingkah Alex. Ia sendiri tidak tahu dengan apa yang terjadi. Rapat yang semula berjalan lancar seketika berubah kacau. Ia khawatir Alex akan gagal menjalankan salah satu proyek impiannya.
Erika punya rasa yang mendalam kepada Alex sejak dulu. Ia tak berani mengungkapkannya hanya untuk menjaga hubungan pertemanan mereka. Alex tipe lelaki yang tidak segan untuk menjauh jika berhadapan dengan hubungan yang dianggap mengganggu profesionalitas kerjanya.
Tiba-tiba layar proyektor menampilkan gambar Shinchan di dalamnya. Semua mata tertuju pada monitor yang menampilkan gambar itu secara otomatis, entah siapa yang melakukannya. "Mama ... Mama ... lihatlah mereka. Lucu sekali wajah mereka yang kebingungan. Kasihan ... pasti mengira jaringannya rusak. Hehehe ...." terlihat kartun Shinchan yang meledek mereka.
Alex masih berusaha mengutak-atik monitor utama di ruang rapat. Akan tetapi, sistemnya benar-benar berjalan sendiri, tidak bisa dihentikan. Ia malu sekali mendapatkan hal semacam itu di saat sedang serius membahas tentang proyeknya.
Sementara, di layar proyektor gambar Shinchan masih saja diputar dan mengejek mereka. Sesekali terdengar suara beberapa peserta rapat yang tertawa dan mengejek Alex. Ia harus menebalkan telinga dan tetap fokus menangani masalah.
Brak!
__ADS_1
"Permisi, Pak!"
Seorang lelaki berpenampilan santai dengan celana jeans dan hoodie masuk secara paksa ke dalam ruang rapat. Alex yang tahu tentang siapa orang tersebut segera menghampirinya. Begitu juga dengan Januar dan Harris, kedua paman Alex itu turut menghampiri lelaki muda yang berdiri di depan pintu.
Namanya Gean, kepala bagian cyber security yang tugasnya menjaga sistem keamanan dan data perusahaan. Tugasnya memantau CCTV, memastikan keamanan jaringan internet di kantor, serta mengamankan data-data perusahaan jika suatu saat ada perusahaan lawan yang berniat meretas data mereka.
"Ada apa, Gean?"
Hal yang paling Alex khawatirkan adalah bertemu Gean. Dia merupakan salah satu karyawan yang sangat tidak ingin ia temui. Gean hanya akan muncul jika dirasa ada kondisi genting yang terjadi. Pekerjaannya bisa dikatakan santai, ia bebas masuk kantor atau bekerja dimanapun. Akan tetapi, tanggung jawabnya terhadap perusahaan sangat besar. Jika terjadi goncangan dalam perusahaan, maka dia yang akan paling dipersalalahkan.
"Maaf, Pak. Ada yang sedang bermain-main dengan sistem keamanan kita," ucapnya.
"Apa pekerjaanmu terlalu santai sampai kecolongan seperti ini? Kamu tidak tahu seberapa besar kegaduhan yang kamu sebabkan? Dasar bodoh!" Harris tidak tahan untuk memaki Gean. Ia ikut malu karena rapat terswbut dihadiri oleh banyak orang penting.
"Perusahaan mana yang berusaha mengutak-atik perusahaan kita? Apa ada salah satu dari mereka?" tanya Januar.
Gean tampak bimbang mengatakannya. Ia tahu hal itu merupakan kesalahannya karena terlalu santai dalam bekerja. Akan tetapi, ia belum tahu pasti siapa pelakunya. Saking paniknya, ia yang tadinya sedang bersantai di kamar apartemennya langsung pergi ke kantor.
"Katakan saja, Gean. Kita akan coba atasi bersama." Alex berusaha bersabar agar Gean mau bicara lebih jelas.
"Sepertinya hacker kali ini tidak bermaksud mengganggu perusahaan, Pak. Mungkin dia hanya ingin iseng."
"Apa? Iseng katamu? Gara-gara hal sepele seperti itu bisa menggagalkan proyek perusahaan ini!" Harris terlihat semakin emosi.
__ADS_1
"Dimana kira-kira posisi pelakunya? Aku ingin tahu siapa orang yang berani mencari masalah dengan perusahaan Narendra Group." Januar juga sama. Ia tidak bisa tinggal diam jika ada pihak yang berusaha menghancurkan perusahaan kebanggaan mereka.