Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 227: Kejujuran Irene


__ADS_3

"Gara-gara promosimu tadi, aku yakin besok Alfa akan kewalahan menerima banyak pesanan," kata Alan.


"Oh, bukankah itu hal bagus? Kak Alfa bisa cepat kaya," ujar Irene.


"Iya, memang kasihan juga dia. Gudang bahannya terbakar itu kerugiannya entah sudah berapa banyak. Aku tawarkan bantuan tapi dia tidak mau," gumam Alan.


"Benarkah? Bukannya Kak Alfa selalu menyindir Kakak untuk mau membantunya?" tanya Irene heran.


"Itu hanya sekedar bentuk candaannya. Alfa orang yang gengsian, tidak mungkin mau aku bantu. Padahal uang perusahaan juga uangnya juga."


"Kalau Kak Alfa tidak mau uang Kakak, mending buat aku saja," kata Irene.


Alan tersenyum lebar. "Tidak aku sangka kamu juga suka uang, ya?"


"Memang siapa di dunia ini yang tidak suka uang, Kak?"


"Aku kira kamu hanya suka makanan."


"Beli makanan kan butuh uang juga."


Keduanya baru pulang dari pesta pernikahan Violet dan Jimmy. Mereka terlihat mesra terus bergandengan tangan hingga memasuki rumah.


Kondisi rumah sudah sepi hanya tersisa beberapa pelayan yang masih membereskan rumah.


Irene dan Alan masuk ke dalam lift. Di dalam lift, Alan sempat memberikan ciuman singkat yang mampu membuat Irene tersipu malu.


"Terima kasih untuk malam ini ya, Kak. Aku mau langsung tidur," ucap Irene seraya membuka pintu kamarnya.


Alan bukannya pergi ke kamarnya sendiri malah ikut nyelonong masuk ke kamar Irene dan menutupnya.


"Kakak ...," tegur Irene. Ia selalu merasa jantungan setiap kali Alan masuk ke salam kamarnya. Kalau sampai ketahuan orang rumah, ia akan malu sendiri.


Alan tak menggubris ucapan Irene. Ia menarik tangan wanita itu dan mendudukkannya di atas ranjang. Bibirnya dengan agresif memberikan kecupan mesra kepada Irene. Keduanya saling memagut bibir satu sama lain.


Irene melingkarkan tangannya pada leher Alan berusaha menikmati keintiman yang tengah mereka lakukan. Ia baru menghentikan ciuman saat merasakan sesuatu menempel di lehernya.


"Apa ini?" tanya Irene heran. Ternyata saat mereka tengah berciuman, Alan memasangkan sebuah kalung pada lehernya. Kalung berwarna putih dengan liontin berbentuk matahari yang terlihat indah.


"Selamat ulang tahun, Irene," ucap Alan.

__ADS_1


Irene sampai lupa kalau hari sudah berganti setelah melewati pukul 12 malam. Ini adalah hari ulang tahunnya.


"Terima kasih, Kak."


Irene merasa terharu dengan hadiah yang Alan berikan. Ia kembali memeluk pelaki itu dengan erat.


Menurut Irene, ini adalah hari ulang tahun yang paling istimewa baginya. Seumur hidup, baru kali ini ia merasa bahagia dan spesial mendapat pemberian dari seseorang di hari pentingnya.


"Kak, aku sangat mencintaimu," ucapnya.


Alan tersenyum. Ia mengelus punggung Irene dan membalas pelukannya. "Aku juga sangat mencintaimu. Terima kasih sudah masuk ke dalam kehidupanku," kata Alan.


Irene melepaskan pelukannya. Ia memandang wajah tulus yang selama ini memberikan cinta kepadanya.


Meskipun pertemuan pertama mereka diawali dengan rasa saling tidak suka, namun seiring waktu ketulusan dan cinta tumbuh dengan sendirinya.


"Kak," panggil Irene.


"Hm?" Alan masih memusatkan perhatian pada sosok wanita yang tak mau ia tinggalkan itu. Kalau bisa, ia mau tetap di kamar itu sampai besok pagi.


"Boleh aku berkata jujur?" tanya Irene.


Irene membulatkan mata melotot kepada Alan yang malah mengajaknya untuk bercanda padahal ia ingin bicara serius.


"Jangan melotot begitu, aku jadi takut. Siapa tahu di malam ulang tahunmu mau aku temani tidur supaya lebih spesial," canda alan.


Irene memukul ringan lengan Alan. Ia lantas mengambil tasnya dari atas meja dan membawanya kepada Alan.


"Apa itu?" tanya Alan penasaran saat Irene mengeluarkan sebuah spons dan botol cairan berwarna bening.


Irene sudah merasa cukup menyembunyikan jati dirinya. Ia lelah berperan sebagai orang lain di hadapan Alan. Padahal, perasaannya terhadap lelaki itu bukanlah rekayasa.


"Kak, jangan kaget kalau melihat wajahku yang tanpa make up," kata Irene.


Alan tertegun sejenak. Ia tak tahu maksud Irene. Selama ini ia juga sudah sering melihat Irene dalam tampilan paling dekil sampai yang rapi.


Irene menuangkan cairan dari dalam botol di atas spons lingkaran pipih yang lebar itu. Ia menyerahkannya pada Alan. "Kak, bantu aku menghapus make up aku, ya!" pintanya.


"Baiklah." Sebenarnya Alan agak ragu untuk melakukan permintaan Irene. Namun, ia tetap menerima benda yang Irene berikan kepadanya.

__ADS_1


Irene menatap Alan lekat-lekat. Ia berusaha mengatur napas dan menenangkan diri. Apapun respon Alan terhadapnya, ia akan berusaha siap untuk menerimanya.


Alan mengulurkan tangannya. Ia mulai menyapukan spons yang dipegang ke wajah Irene.


Alan mematung saat usapan spons yang dilakukannya seperti baru saja mengangkat noda yang sangat tebal dari wajah Irene. Usapan yang ia lakukan meninggalkan bekas putih di wajah Irene seperti sebuah topeng.


"Kak, jangan berhenti. Tolong lakukan sampai akhir," pinta Irene lagi. Ia tahu bahwa Alan sangat syok dengan apa yang dilihatnya.


Alan berusaha tenang. Ia mencoba menggerakkan kembali tangannya membersihkan make up yang ada di wajah Irene. Setiap sapuan yang dilakukan seakan tengah menguliti topeng yang selama ini Irene kenakan.


"Ini tidak mungkin," lirih Alan.


Tubuhnya terasa lemas saat melihat wajah Irene secara sempurna tanpa make up. Itu bukanlah wajah baru bagi Alan. Ia sudah sering melihatnya namun belum menyadari kalau itu adalah wajah asli Irene.


"Ini ... Sebenarnya apa maksudnya semua ini?" tanya Alan dengan nada bergetar. Ia tak tahu lagi harus merespon apa dengan apa yang tengah ia lihat sekarang.


"Aku minta maaf, Kak." hanya kalimat itu sepertinya mampu Irene sampaikan pada Alan.


Alan menghela napas. "Aku sama sekali tidak bisa memahami perbuatanmu." ia menampakkan wajah kesal dan kecewanya.


"Maaf, Kak ...."


"Jadi, selama ini kamu hanya ingin menipuku? Bahkan menipu semua orang? Pasti selama ini kamu puas menertawakan kebodohanku di belakang, ya? Aku tidak habis pikir kamu bisa melakukan hal itu!"


Alan sudah tidak tahan lagi. Perasaannya campur aduk. Ketika hendak pergi, Irene menahan tangannya.


"Kak, aku tidak pernah bermaksud seperti itu," kilah Irene.


"Kalau kamu memang tidak berniat seperti itu, sejak awal kamu tidak perlu melakukannya. Aku jadi merasa sangat bodoh selama ini bisa kamu tipu sesuka hati!"


Alan melepaskan tangan Irene darinya.


"Kak!" panggil Irene.


Alan tak menggubris. Dengan langkah cepat ia keluar dari kamar Irene dan masuk ke kamarnya sendiri.


Brak!


Dari arah kamarnya, Irene bisa mendengarkan suara pintu yang dibanting oleh Alan. Irene menutup kembali pintu kamarnya. Ia jatuh lunglai di belakang pintu sembari menitihkan air mata. Sudah ia duga jika Alan tak akan bisa terima dengan kejujurannya.

__ADS_1


__ADS_2