Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 142


__ADS_3

"Ini barang-barangmu mau ditaruh dimana?" tanya Alan yang masih menenteng tas belanja milik Irene.


"Tolong bawakan sampai ke kamarku bisa kan, Kak? Aku malas bawa soalnya berat," kata Irene sembari tersenyum lebar.


Alan hanya menurut karena sudah terlanjur ia membawakan barang-barang Irene sampai di rumah. Keduanya naik lift menuju ke kamar Irene.


"Kakak kayaknya benci banget sama Sovia ya, sekarang?" tanya Irene.


"Memangnya kamu berharap aku masih dekat dengannya?" Alan menaikkan sebelah alisnya.


"Ya ... Nggak! Aku malah suka Kakak menjauhi wanita ular itu," kata Irene.


"Hah? Apa?" Alan tidak terlalu mendengar ucapan Irene.


"Tidak, tidak ... Lupakan saja!" Irene tidak berani menjelek-jelekkan Sovia secara langsung di depan Alan.


"Ah, Iya. Jonathan kok bisa bareng Sovia? Lelaki itu sepertinya hobi membuat masalah," kata Irene mengalihkan pembahasan.


"Dia musuhnya Arvy? Katanya mereka tidak akur."


"Jonathan parah, Kak! Dulu dia sering menghina Kak Arvy. Tidak aku sangka sekarang mereka berdua sama-sama menduduki 10 besar penyanyi top pendatang baru."


Ting!


Pintu lift terbuka. Irene dan Alan bejalan kembali memasuki kamar Irene.


Ini pertama kalinya Alan masuk ke kamar Irene lewat pintu. Kamarnya tertata dengan rapi dan aromanya wangi. Ia kembali teringat saat dulu pernah memasuki kamar itu dan melihat seorang wanita cantik yang mengaku hantu bernama Miss A.


"Kamu ... Pernah lihat hantu di sini?" tanya Alan.


Irene mengernyitkan dahi. "Hantu? Kalau manusia yang seperti hantu sering. Dia tinggal di kamar sebelah!" kata Irene. Tentu saja dia sedang menyindir Ares yang sering menjadi teman bertengkarnya.


"Ya sudah, lupakan saja!" ucap Alan seraya meletakkan barang-barang Irene di meja. "Kalau begitu, aku keluar dulu," katanya.


"Makasih ya, Kak!" kata Irene.

__ADS_1


"Ya!" Alan segera keluar meninggalkan ruang kamar Irene.


Setelah Alan keluar, Irene langsung berjingkrak-jingkrak kegirangan. Ia merebahkan diri di ranjang dengan senyuman lebar. Hatinya serasa sedang berbunga-bunga mengingat kembali kesenangannya hari ini.


Ini pertama kalinya ia merasa spesial jalan berdua dengan Alan. Lelaki itu memperlakukannya dengan sangat baik seolah mereka sedang berpacaran.


Alan dengan sabar menemaninya berbelanja dan membayar semua yang dibelinya. Lelaki itu bahkan terus tersenyum dan memberikan perhatian-perhatian kecil selama di mall. Kegundahannya karena ulah hacker dan bertemu Sovia ditepis oleh kehadiran Alan.


***


Irene keluar dari dalam kamar bersiap untuk makan malam. Samar-samar ia mendengar suara gaduh dari arah kamar Ares. Perlahan ia berjalan mendekat dan suara itu semakin jelas terdengar.


Brak!


Irene membuka pintu kamar Ares dengan keras. Ares yang tengah berbaring di atas ranjang dengan kaki diangkat ke arah dinding langsung terkejut melihat kehadiran Irene. Apalagi ia sedang tidak memakai baju, hanya cela na da lam saja.


"Aah!"


Keduanya berteriak bersama-sama. Irene langsung berbalik badan melihat pemandangan tidak senonoh yang baru saja dilihatnya.


"Irene! Kalau masuk kamar orang ketuk pintu dulu!" seru Ares seraya langsung melombat dari ranjang dan mengambil pakaian untuk menutupi tubuhnya.


"Ck! Aku sudah pakai baju!" kata Ares dengan nada kesal. Ia tidak menyangka akan ketahuan oleh Irene dalam penampilan seperti itu.


Irene kembali berbali, melihat penampilan Ares yang sudah normal. "Kemarikan ponselmu!" pinta Irene.


"Kenapa?" tanya Ares heran.


"Kemarikan saja dulu!" paksa Irene.


Ares menurut dan memberikan ponselnya pada Irene. Tampak di layar aplikasi permainan game yang Ares mainkan masih menyala. Irene segera mematikannya.


"Heh! Kenapa dimatikan? Aku belum selesai main!" Ares naik darah dengan perbuatan Irene. Jika ia keluar dari permainan begitu saja, maka akan dianggap kalah. Teman-temannya pasti akan protes.


"Kamu lupa, ya? Sudah aku bilang jangan main kecuali untuk kompetisi. Akan aku kembalikan ponselnya setelah kamu masuk ranking 3 besar di hasil tes nanti."

__ADS_1


Ares membulatkan mulutnya. "Itu keterlaluan. Aku butuh ponselku, Irene!" protesnya.


"Kamu masih bisa hidup tanpa ponsel. Aku juga akan menyimpannya baik-baik."


"Irene ...." keluh Ares.


"Kalau masih protes, aku anggap kesepakatan kuta batal!" ancam Irene.


Ares menghela napas pasrah. Ia butuh Irene membantunya agar lolos kompetisi. "Baiklah, terserah kamu saja!" jawabnya.


"Kita turun ke bawah, yuk! Kak Alan katanya malam ini mau masak," kata Irene.


"Benarkah?" Mata Ares berbinar-binar kegirangan. Sudah lama ia tidak mencicipi masakan Alan yang selalu terasa lezat dan menggugah selera.


Ares langsung berlari ke arah lift menuju lantai bawah meninggalkan Irene di sana.


Irene geleng-geleng kepala melihat tingkah Ares. Ia turut berjalan keluar dari kamar Ares menyusul lelaki itu ke bawah.


"Hmm ... Ini spaghetti bolognise dan beef lasagna, kan?" Ares sangat antusias saat mencium aroma masakan lezat dari arah dapur.


Tampak Alan sedang menghias masakan yang baru selesai dibuatnya. Tangan Ares yang mencoba untuk mencolek masakannya ia tepis.


"Jangan pegang makananku!" ucap Alan.


"Yah, Kak, bukannya Kakak masak untuk dimakan?" Ares cemberut karena dilarang makan. Dua menu yang kakaknya buat adalah makanan yang termasuk favoritnya.


"Irene, kemari!" panggil Alan saat melihat Irene yang baru turun dari lantai atas. "Coba cicipi masakanku, mungkin masih ada yang kurang," katanya.


Ares bertambah kesal karena dia yang lebih dulu sampai tapi Irene yang disuruh mencicipu masakan itu lebih dulu.


Irene yang hobi makan juga berbinar-binar saat melihat makanan enak di hadapannya. "Ini enak, Kak!" puji Irene setelah mencicipi makanan itu.


Alan tersenyum lega mendengar Irene menyukai makanannya. Ia menyembunyikan tangannya di belakang badan yang telah dibalut dengan perban.


"Ayo kalian makan bersama! Aku memang membuat ini untuk kalian," kata Alan.

__ADS_1


"Lah, Kak Alan tidak makan?" tanya Irene heran.


"Aku sudah makan tadi," jawab Alan.


__ADS_2