
"Sebenarnya sih banyak! Aku yang tidak mau saja," ucap Myria membela diri. "Oh, iya. Kamu sudah menyiapkan gaun dan cincin pernikahan apa belum?" tanya Myria.
"Kak Alan semua yang mengurusnya, katanya semua sudah siap," ucap Irene.
"Wah, benarkah? Aku jadi semakin penasaran apa lelaki itu benar-benar menyukai kamu? Cucumu itu kan jelek, ya, Ma ... Nggak nyamar aja jelek apalagi nyamar begini kan dia kayak pengemis," ledek Myria.
Irene rasanya ingin menghentikan mobil dan mengajak bibinya itu berkelahi.
"Kamu jangan begitu, Irene cucu Mama yang paling cantik!" Nenek memukul kecil kepala Myria yang sedari tadi berusaha membuat Irene kesal.
"Iya, iya ... Mentang-mentang cucu kesayangan disanjung terus ... Aku yang anak kandung sudah dibuang jauh, kayak nggak diakui lagi!" protes Myria. Ia memasang wajah memelas seolah tampak menderita.
"Seharusnya Nenek dulu nggak usah kirim Tante ke luar negeri, biar saja dia diambil penjahat, aku kan jadi tidak ada saingan dan tidak ada yang mengganggu!" sahut Irene.
***
"Kalian mau kemana?" tanya Myria melihat Irene dan Alan sepertinya telah bersiap-siap akan pergi pagi itu.
"Kak Alan mau mengajakku ke butik milik Kak Alfa, membahas desain baju pengantin," ucap Irene.
"Alan, kenapa kamu tidak membiarkan Irene membuat pakaiannya sendiri? Dia kan bisa merancang busana," usul Myria.
Alan menoleh ke arah Irene. "Benarkah?" tanyanya. Ia sama sekali tidak tahu jika Irene bisa melakukannya.
Irene tersenyum kaku. Bibinya memang sangat mengesalkan dan usil serta tidak bisa diam. "Aku hanya bisa sedikit-sedikit saja," ucapnya merendah.
__ADS_1
"Kata siapa bisa sedikit? Dia bohong, tuh! Rancangannya bagus-bagus, kok. Takutnya nanti kalau pesan ke orang lain malah hasilnya jelek."
Irene melotot ke arah Myria memberi isyarat agar wanita itu diam.
"Sudah, Kak. Kita berangkat sekarang saja. Kalau kelamaan nanti keburu Kak Alfa pergi," ajak Irene. Ia tidak ingin berlama-lama ada bersama bibinya yang berbahaya.
Alan menurut. Ia mengemudikan mobilnya menuju tempat kerja Alfa.
"Ini ada beberapa model gaun yang sangat aku rekomendasikan. Kira-kira kalian menginginkan yang mana?"
Alfa menyodorkan setumpuk model gaun terbaru rancangannya untuk dilihat oleh Alan dan Irene.
"Bagaimana, kamu suka yang mana?" tanya Alan dengan nada lembut.
Suara itu membuat hati Irene bergetar. Ia merasa tengah diratukan oleh lelaki itu. Irene memperhatikan satu per satu gambar rancangan gaun buatan Alfa. Semuanya memang terlihat bagus.
"Oh, ini memang model terbaru yang belum lama ini aku buat," ucap Alfa. Ia memanggil salah seorang asistennya untuk menemani Irene masuk ke dalam ruangan fitting.
"Badan Irene sebenarnya sangat bagus, Kak. Dia cocok mengenakan hampir semua model busana. Hanya saja ... Aku rasa tim make up yang nantinya agak kesulitan untuk meyesuaikan riasan wajahnya agar masuk ke tema," ucap Alfa.
Alan menutup album foto yang tengah dilihatnya. Ia menoleh ke arah Alfa dengan tatapan kurang suka. "Apa kamu mau mengatakan kalau Irene itu jelek?" tanyanya.
Alfa menjadi tidak enak hati telah mengucapkan hal semacam itu. "Maksudku bukan seperti itu. Tapi, bagaimana aku menjelaskannya agar Kakak tidak salah paham," ucap Alfa.
Dia tidak berniat mengatakan kalau Irene jelek. Setiap orang memang memiliki sisi cantiknya sendiri. Namun, seorang Alan yang merupakan pengusaha muda terkenal tentunya akan banyak orang yang berekspektasi bahwa pasangannya nanti pasti sangat cantik. Ia hanya tidak ingin Irene diolok-olok nantinya.
__ADS_1
"Menurutku, Irene sudah cantik. Sekalipun tidak ada yang menyukainya, aku tetap akan menjadi orang yang menyukainya."
Perkataan Alan langsung membungkam ucapan Alfa.
Tak berselang lama, Irene keluar mengenakan gaun yang ingin ia coba. Pakaian itu sangat pas di badannya.
"Bagaimana, apa kamu suka?" tanya Alan.
Irene tersenyum kaku. "Ini memang bagus sih, Kak. Nyaman dipakai juga. Tapi, menurutku gaun ini terlalu berat. Untuk acara pernikahan yang lama, ini bisa membuat pengantin cepat kelelahan. Potongan bahannya juga tidak terlalu membentuk tubuh sehingga terlihat menggemuk di pinggang. " Irene memberikan penilaiannya terhadap gaun yang ia kenakan.
"Penggunaan bahan organza memang sedikit terlihat kaku dan mengembang. Tapi, bahan ini yang paling membuat kesan mewah sebuah gaun. Apalagi ada kesan glossy saat terkena sinar lampu. Lalu, menurutmu bahan apa yang bisa aku gunakan untuk menggantinya supaya lebih ringan, ramping, tapi tetap elegan?" tanya Alfa. Ia agak tersinggung mendengar kritikan yang Irene sampaikan. Sebagai seorang perancang busana, ia telah mempertimbangkan segala aspek untuk membuat sebuah gaun yang indah.
"Mungkin Kak Alfa bisa menggunakan jenis kain satin silk yang lebih jatuh," ucap Irene.
Wajah Alfa terlihat muram. Memang, ia sendiri yang meminta pendapat. Namun, mendengar saran yang Irene berikan ia sedikit tidak suka. Seolah Irene lebih tahu dibandingkan dirinya.
"Apa kamu meragukan rancanganku?" tanya Alfa.
Irene sadar ia telah menyinggung perasaan lelaki tersebut. "Ah, maksudku tidak seperti itu, Kak," ucap Irene.
"Sudah, sudah ... Kalian tidak perlu berdebat." Alan berusaha menengahi.
"Kalau kalian memang tidak percaya padaku, carilah perancang busana yang lain," kata Alfa.
"Kamu jangan seperti itu." Alan memegang lengan Alfa. "Irene hanya menyampaikan pendapatnya. Kalau memang kamu tidak setuju untuk mengubah gaun itu, bagaimana kalau kamu berikan kesempatan pada Irene untuk mengubahnya sendiri," usul Alan.
__ADS_1
"Ya, silakan saja untuk menggantinya. Aku harap hasilnya tidak akan lebih merusak estetikanya," ucap Alfa. Ia tidak yakin Irene bisa melakukannya.