Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 41: Mengisi Kegabutan


__ADS_3

"Kakakmu sudah gila, ya ... kita baru datang malah langsung diusir. Sekarang, mereka menahan kita di sini."


Irene tercengang di tempatnya. Ia tidak menyangka Alex bisa bersikap galak kepada mereka. Biasanya, Alex selalu memperlakukan Irene dengan baik dan sabar, bahkan saat Irene bertingkah begitu menyebalkan. Seakan Irene bisa melihat sisi lain Alex di kantornya.


Irene berjalan ke arah pintu. Benar saja, ada empat orang sekuriti yang berjaga di depan ruangan itu. Ia hanya bisa menghela napas. "Seharusnya tadi kita jalan-jalan saja ke tempat lain, kenapa malah ke sini? Bukannya mendapatkan pekerjaan malah jadi tahanan," gerutu Irene.


"Sudahlah, marah-marah juga tidak ada gunanya." Ares memilih duduk bersantai di sofa ruangan Alex yang nyaman.


"Tapi aku lapar!" keluh Irene.


"Salah siapa tidak sarapan? Tuh, di sebelah sana ada kulkas dan dapur kecil. Cari makanan sendiri saja siapa tahu masih ada." Ares menunjuk ke salah satu sudut dekat toilet.


"Kok kamu tahu." Irene berjalan menghampiri kulkas. Pagi tadi ia melewatkan sarapan karena merasa belum n4fsu makan. Setelah sampai di kantor Alex, ia jadi merasa lapar.


"Kak Alex orang sibuk. Dia malah kadang menginap di kantornya. Tuh, pintu di sebelah sana ada kamar. Kamu juga bisa tidur kalau ngantuk. Rapatnya paling akan lama."


Irene membuka kulkas. Di dalamnya terisi penuh dengan minuman, makanan ringan, bahkan frozen food yang tinggal dipanaskan dengan microwave sudah langsung bisa dimakan. Tempat itu daripada disebut ruang kerja lebih cocok dinamakan apartemen dalam kantor.


Irene mengambil satu cup mie instan untuk diseduh dengan air panas. Ia membawa mie instan dan air mineral ke arah sofa. "Kamu mau?" Irene sengaja menggoda Ares dengan bau harum dari mie yang diseduhnya.


"Mau, nggak ...." Lagi-lagi Irene menggodanya.


Ares hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah konyol yang dilakukan Irene. Ia lebih memilih membaca majalah bisnis yang tergeletak di atas meja. Sementara, Irene mulai memakan mie yang telah diseduhnya.


Satu artikel yang terdapat di dalam majalah itu tiba-tiba menarik perhatian Ares untuk membacanya. Kisah sukses seorang anak muda yang berhasil menjadi pengusaha berawal dari pedagang asongan. Menjalani hidup dengan gigih sebagai anak jalanan, berjualan asongan, menjadi kuli bangunan, sampai akhirnya bisa membeli gerobak untuk berjualan pisang goreng.

__ADS_1


Pemuda itu tidak menjual pisang goreng biasa, tapi mengkreasinya menjadi nugget pisang yang belum pernah ada sebelumnya. Ditambah dengan topping warna-warni, dagangannya menarik minat untuk membeli. Hingga secara bertahap gerobak dagangan yang awalnya hanya satu mulai bertambah satu demi satu.


Usahanya kian terkenal, sampai pemuda itu membuka bisnis waralaba. Kini pemuda itu menjadi salah satu pengusaha muda inspiratif yang disegani.


"Orang yang tidak berasal dari keluarga kaya saja bisa jadi sukses. Seharusnya aku yang lahir di keluarga yang sangat berkecukupan juga bisa menggunakan privillege ini untuk menjadi sukses," gumam Ares.


Perkataan Ares ikut menyindir Irene. Selama ini ia juga hanya menjadi beban keluarga. Modal kecerdasan yang dimiliki tidak digunakan sebagaimana mestinya.


"Ares, kamu bisa coding, kan?" Tiba-tiba terbersit suatu ide di kepala Irene.


"Bisa ... sedikit. Memangnya kenapa?" Ares merasa heran Irene menanyakan kemampuannya melakukan coding.


"Mau diterima kerja di sini, kan?" Irene tampak antusias mengatakannya.


Ares menatap penuh curiga ke arah Irene. "Iyalah ... tentu saja. Kenapa tanya? Aneh!" Ia yakin Irene punya ide tidak masuk akal.


"Jangan membuat masalah, Irene ... aku yang bisa kena masalah nanti." Ares sudah melotot untuk mengingatkan Irene.


"Hidup tidak akan berubah jika kita tidak berani mengambil resiko."


Irene mengutak-atik komputer yang ada di hadapannya. Ia tahu komputer di dalam perusahaan itu pasti terhubung dengan satu server utama yang menyimpan banyak data penting.


"Aku jamin setelah ini kita akan langsung direkrut menjadi karyawan," ucap Irene dengan senyuman lebar.


"Hentikan, Irene ... kamu sedang menggali kubur kita sendiri. Mereka akan memenjarakan kita!" Ares merasa Irene sudah gila bisa nekad berniat menjebol sistem keamanan perusahaan yang sangat ketat.

__ADS_1


"Untuk mendapatkan hasil yang besar bukankah punya resiko yang besar juga? Tidak apa-apa kalau aku dipenjara ada temannya. Hahaha ...."


Irene tak mau menghentikan apa yang dimulainya. Ares menggigit jari saking khawatirnya. Pasti namanya akan terbawa-bawa.


"Please, Irene ... kamu harus berhenti sekarang," bujuk Ares.


"Tidak mau!" Irene tetap keras kepala. "Mau bantu nggak? Ini tidak boleh gagal. Kalau aku gagal, kamu juga akan ikut dipenjara. Aku akan bilang kalau kita bersekongkol." Irene punya cara yang licik untuk memaksa Ares mengikuti sarannya.


Irene bangkit dari kursinya. Terpaksa Ares duduk di sana dan melanjutkan apa yang tadi baru Irene mulai. Sementara Ares sibuk dengan monitor yang ada di meja Alex. Irene beralih pada monitor lain yang ada di belakang meja kerja.


"Ayo kita jebol sistem keamanan perusahaan ini. Salah siapa mereka sombong tidak mau menerima kita," ujar Irene.


Ares yang merasa sudah terbawa arus, jadi ikut bersemangat mengisi kegabutan mereka dengan meretas sistem yang ada di perusahaan. Mereka harus tahu kalau tidak boleh meremehkan anak muda yang sangat butuh pekerjaan.


"Aku rasa perusahaan ini punya hacker yang cukup hebat," gumam Irene saat kesulitan mencari celah untuk masuk dalam sistem dan mengambil alihnya.


"Tentu saja, ini perusahaan besar. Data-data rahasia adalah harta berharga yang harus dilindungi. Selain karyawan nyata juga ada karyawan bayangan yang bekerja secara diam-diam mempertahankan perusahaan ini," jawab Ares.


Keduanya tampak fokus berkutat pada layar yang ada di hadapan masing-masing. Niat mereka datang awalnya memang ingin melihat-lihat perusahaan. Tapi, berakhir dikurung dalam ruangan oleh Alex cukup membuat kesal. Bukan sambutan seperti itu yang diinginkan, meskipun memang mereka tetap salah karena datang tanpa pemberitahuan.


Anak muda yang baru meninggalkan masa remaja menuju masa dewasanya rata-rata punya jiwa pembangkang. Makin dikekang, mereka akan semakin berusaha melawan. Termasuk Ares dan Irene.


"Sudah bisa masuk?" tanya Irene.


"Belum ... sabar dulu, tidak ada sistem yang sempurna. Pasti masih ada celah untuk masuk." Ares semakin bersemangat untuk menjebol sistem perusahaan keluarganya sendiri. Kalau ia berhasil, para petinggi di sana juga pasti akan melirik dirinya yang selama ini diremehkan sebagai anak kecil yang tidak bisa apa-apa.

__ADS_1


"Aku bisa!" seru Irene. "Bantu aku, Ares! Cepat ikut masuk ke tautan ini. Kita selesaikan secepatnya sebelum ada yang yang menyadarinya."


"Oke! Ayo kita masuk sekarang!"


__ADS_2