
"Oh, iya. Album barumu sepertinya sukses besar, ya? Dimana-mana lagumu diputar," kata Alan.
"Oh, tentu. Laguku kan memang bagus," jawab Arvy dengan nada sedikit sombong.
Alan berdecih dengan gaya adiknya. "Lagumu benar-benar mirip gaya bernyanyi Hyena. Aku tidak menyangka dia mau membantu orang sepertimu."
"Hahaha ... Kenapa, Kak? Circle pertemananku bagus, kan? Aku yakin Kak Alan pasti iri karena aku bisa dekat dengan Hyena. Kakak kan salah satu fans berat si misterius Hyena," ledek Arvy.
"Kalau Kakak mau, aku bisa meminta Pak Ron untuk mengenalkan Kak Alan pada Hyena. Siapa tahu kalian jodoh!" imbuh Arvy.
Alan terkejut sang adik berkata seperti itu. Ia melirik ke arah spion melihat respon Irene terhadap perbincangan mereka.
"Kamu ini ada-ada saja, ya! Aku suka Hyena karena talenta dan karya-karyanya," kilah Alan.
Lelaki itu berusaha menjelaskan agar Irene tidak salah paham padanya.
"Kak Alan ini sejak putus dengan Ulat Bulu itu aku rasa tidak dekat dengan wanita manapun, ya? Kecuali Irene Gosong, sih ... Tapi, dia tidak masuk hitungan," kata Arvy.
Irene langsung melotot mendengar perkataan Arvy. Padahal kemarin ia sempat merasa bersalah karena dirinya Arvy mendapat banyak hujatan penggemarnya. Tapi, mendengar Arvy mengejeknya, ia menyesal sudah membuat klarifikasi.
"Kenapa, Irene? Kamu kan memang hitam, jadi aku panggil gosong, hahaha ...." Arvy begitu puas mengejek Irene.
"Hati-hati, kalau tertawa jangan lebar-lebar. Takutnya pas konser mic tertelan," ucap Irene kesal.
"Arvy, kamu jangan begitu sama Irene," tegur Alan.
"Iya, iya ... Maaf. Aku hanya bercanda. Pokoknya Irene itu tetap wanita tercantik di rumah kita," kata Arvy sembari mengedipkan sebelah mata kepada Irene.
__ADS_1
Alan kembali menoleh sekilas ke arah spion yang memperlihatkan raut kesal Irene karena kelakuan Arvy.
"Oh, iya. Kak Alan tidak berubah haluan, kan?" tanya Arvy.
"Berubah haluan? Apa itu?" tanya Alan bingung.
"Kak Alan masih suka wanita apa nggak, sih? Atau Kakak sudah beralih suka pada sesama lelaki?"
Ckit!
Alan membanting kemudinya ke sisi kiri seraya mengerem. Pertanyaan Arvy membuatnya kaget sampai harus menghentikan mobil. Untung saja mereka tidak kecelakaan.
"Kamu kalau bicara jangan ngawur, Arvy," ucap Alan kesal.
"Benarkah? Kak Alan suka cowok?" Irene ikut-ikutan penasaran sampai mendekatkan diri ke jok depan.
Alan memutar malas bola matanya. Ia merasa sudah bergabung dengan dua orang yang tidak waras.
Arvy dan Irene langsung tersenyum kaku. Mereka tidak berani melanjutkan untuk menggoda Alan.
"Iya, Kak. Kita hanya bercanda."
Usai Arvy dan Irene tenang, Alan kembali mengemudikan mobilnya.
***
Tok tok tok
__ADS_1
Ares mengetuk pintu kamar Irene. Butuh waktu beberapa lama sampai pintu itu mau terbuka. Irene tampak keluar mengenakan setelan baju tidur panjang dengan wajah dilumuri masker.
"Aduh! Aku kira ada Hulk keluar," kata Ares sembari mengusap dada kaget dengan penampilan Irene.
"Ada apa? Aku sedang sibuk!" ucap Irene.
Wanita itu sedikit kesal. Baru saja ia pulang dari kampus dan mandi berniat menyenangkan diri di kamar. Tiba-tiba Ares mengetuk pintu. Terpaksa ia pakai masker untuk menutupi wajahnya.
"Sibuk apa? Sibuk perawatan? Jelek kok dirawat, dioperasi dong!" celetuh Ares.
Irene langsung saja menoyor kepala lelaki mulut bocor itu. "Cepat bilang! Kamu ada perlu apa?"
Bukannya menjawab pertanyaan Irene, Ares justru nyelonong masuk ke kamar Irene. Dengan santainya ia merebahkan diri di ranjang Irene.
"Heh! Kamu sudah gila ya, masuk kamar orang sembarangan!" protes Irene.
"Numpang sebentar merasakan kamarnya anak pintar di kampus. Siapa tahu waktu ujian bisa dapat ilham mengerjakan ujian," kata Ares.
"Kalau mau dapat ilham ya sana belajar bukannya masuk ke kamar orang!" protes Irene.
"Aku ini sedang bosan belajar saja. Rasanya agak gugup hari senin sudah mulai ujian. Takut hasilnya kurang memuaskan," kata Ares dengan wajah yang terlihat pesimis.
Irene jadi tidak tega untuk mengusirnya. "Hasil itu kan bukan segalanya. Yang penting sudah berusaha. Makanya coba tenangkan diri dan tidur yang nyenyak," kata Irene bijak.
Ares tersenyum mendengar nasihat dari orang seusianya. "Jadi itu saran dari anak pintar, ya? Sungguh sangat simpel tapi entah aku bisa melakukannya atau tidak," gumamnya.
"Hah! Ya sudahlah! Aku mau kembali ke kamar dulu!" kata Ares.
__ADS_1
Irene benar-benar heran dengan kelakuan lelaki itu. Setelah masuk begitu saja ke kamar orang, kini ia keluar seenaknya tanpa menutup pintu.
"Dasar Ares!" umpat Irene.