
"Aduh! Kak!" pekik Irene saat tubuhnya tiba-tiba ditarik oleh Alan. "Kak Alan ...," rengeknya.
Alan hanya tertawa-tawa kecil mendengar keluhan Irene yang tidak bisa lagi lari darinya. Sengaja ia menarik punggung sang istri hingga menempel pada dadanya.
Perlahan ia mendekapnya seraya menyandarkan dagu pada bahu Irene.
Sang istri masih tetap menunduk sembari memegangi bagian tubuh depannya. Ia berusaha menahan diri dari rasa geli bercampur desiran aneh saat Alan mulai menciumi lehernya dengan lembut.
"Enaknya, mandi berdua," ucap Alan yang tidak henti-hentinya membuat jantung Irene semakin berdebar.
"Kak, sudah hentikan. Geli," pinta Irene.
Debaran jantungnya semakin terpacu. Darahnya seakan mengalir lebih deras oleh sentuhan bibir dan bulu-bulu jambang yang membuatnya merinding. Ia tak bisa diam, mencoba menghindar, namun Alan semakin gemas untuk menciuminya.
"Uh, cantiknya istriku," puji Alan yang masih tak mau berhenti menggoda istrinya.
"Geli, geli, geli, ah ... Sudah!" rengek Irene lagi. Alan terus saja mengganggunya.
Ia terdiam sesaat ketika bagian belakang tubuhnya seperti bersentuhan dengan sesuatu yang keras. Irene menelan ludah. Rasa gugup semakin menghinggapi. Ingin ia segera kabur dari sana.
__ADS_1
"Yah, ada yang bangun," bisik Alan dengan nakal. Ia sengaja semakin menempelkan tubuh mereka.
"Jangan malam ini, please, aku takut!" seru Irene sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hahaha ...." Alan tertawa. Ia mencium pipi istrinya. "Kalau takut tinggal tutup mata saja, biar aku yang melakukan semua," bujuknya.
Irene semakin merasa canggung bercampur malu. Antara ingin lari tetapi sungguh memalukan jika ia kabur hanya karena hal itu. Alan akan terus menertawakannya. Namun, ia benar-benar merasa belum siap melakukan apa yang biasa pengantin baru lakukan.
"Ah!" Irene memekik kaget saat Alan memegangi dadanya. Reflek ia membuka mata dan mencoba melepaskan tangan-tangan kokoh itu dari sana.
"Ini memang tugasku, biar aku yang memegangnya. Biar aku pijat, ya," kata Alan sembari menggerakkan tangannya perlahan.
Irene menghela napas pasrah, kini ia dalam jerat perangkap sang suami dan tak bisa terlepas lagi.
"Aku akan membantumu agar bisa siap. Kamu jangan mencemaskan apapun. Percayalah, ini tidak menyeramkan seperti bayanganmu," kata Alan dengan rayuannya. Ia terus memberikan sang istri ciuman agar wanita itu terlena dan menyerah kepadanya.
"Lakukan seperti yang aku katakan, tutup matamu kalau kamu takut," imbuhnya.
Alan memiringkan kepala Irene seraya memagut bibir manis istrinya. Mereka saling mengecup satu sama lain dengan lembut. Perlahan Alan membalikkan tubuh Irene hingga keduanya saling berhadapan.
__ADS_1
Alan memeluk pinggang Irene, sementara sang istri melingkarkan kedua tangannya di leher Alan. Keduanya terus bercumbu dengan mesra.
Alan melakukannya dengan sangat lembut. Ia tak terlihat terburu-buru sehingga membuat istrinya turut rileks dalam dekapannya.
Bahkan saat ia mulai menjajahi permukaan kulit mulus sang istri, tak ada lagi suara rengekan dan protes. Sesekali terdengar lengkuhan yang menandakan sang wanita menikmati sentuhannya.
Alan menghentikan aktivitas ciuman mereka sejenak. Keduanya saling memandang dengan penuh cinta. Alan begitu terpana dengan kecantikan dewi di hadapannya. Dengan mata yang bening serta wajah memerah dan polos, Irene malu-malu memandangi Alan.
"Berikan tanganmu," pinta Alan.
Irene menurut. Ia menurunkan satu tangannya yang segera digenggam oleh Alan. Tangan itu dibimbing oleh Alan ke bawah menyentuh bagian tubuh Alan.
Mata Irene membelalak berusaha menarik kembali tangannya, namun ditahan oleh Alan.
"Rileks, ini tidak memalukan atau menyeramkan," kata Alan. Ia kembali memagut bibir sang istri agar tidak terlalu canggung ketika tangannya menyentuh miliknya.
Alan tampak menghela napas seraya memejamkan mata merasakan begitu menggairahkan ketika tangan halus dan lembut yang lebih kecil darinya itu memegangi miliknya.
"Sayang, kita lanjutkan di kamar, ya," ajak Alan.
__ADS_1
Irene yang sedari tadi menjadi pendiam hanya mengangguk pasrah.
Alan lebih dulu keluar dari dalam bathtube dan mengulurkan tangan agar Irene turut berdiri. Dengan cekatan Alan menggendong wanitanya di depan tubuh. Ia kembali tersenyum memandangi sang istri yang kembali malu-malu.