Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 261: Perhatian Jeha


__ADS_3

Jeha memperhatikan Ares yang duduk sendirian di bangku taman kampus. Dia sudah memperhatikan Ares selama beberapa waktu dan menyadari bahwa kakak tingkatnya itu seringkali terlihat murung dan cemas. Setelah berpikir sejenak, Jeha memutuskan untuk mendekati Ares dan mencoba memulai percakapan.


"Hai, Ares," sapa Jeha dengan senyuman ramah.


Ares terkejut dan melirik ke arah Jeha. "Oh, hai Jeha," jawabnya singkat. Sejak dulu Ares memang terkenal dingin dengan lawan jenis. Hanya Irene yang bisa membuatnya bersikap apa adanya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Jeha lagi.


Ares tersenyum seraya menggelengkan kepalanya dan memberi jawaban yang sama, "Aku baik-baik saja."


Namun, Jeha merasa tidak sepenuhnya yakin dengan jawaban itu dan mencoba mengetuk hati Ares.


"Aku bisa melihat bahwa kamu tidak dalam kondisi yang baik, Ares," kata Jeha dengan lembut. "Aku yakin ada kaitannya dengan Irene?"


Ares mengangkat kepalanya dan menatap Jeha dengan tatapan kosong. Setelah beberapa saat, ia akhirnya mengangguk perlahan.


"Ya, mungkin itu terkait dengan Irene," jawab Ares dengan suara rendah.


Jeha membulatkan mata. Sebenarnya ia tidak menyangka Ares akan mau bicara dengannya. Ia sudah membayangkan bahwa lelaki itu akan mengusirnya karena mengganggu.


Jeha merasakan bahwa ada lebih dari sekadar kesedihan di hati Ares. Dia bertanya dengan lembut, "Apa yang terjadi, Ares? Bisakah kamu ceritakan padaku?"


Ares terdiam sejenak sebelum akhirnya ia menjawab. "Aku mencintai Irene, Jeha. Aku mencintainya sangat dalam. Tapi sayangnya, perasaanku tak terbalas. Dia hanya mencintai kakakku, Alan."


Jeha bisa melihat rasa sakit di mata Ares. Ia merasa senang Ares bisa sedikit terbuka kepadanya. Dia tahu betapa sulitnya bagi Ares untuk menerima kenyataan bahwa cintanya pada Irene tak berbalas.


"Aku tahu itu sulit, Ares. Tapi kamu harus mencoba untuk melupakan Irene dan membiarkan waktunya menyembuhkan luka hatimu," kata Jeha memberi nasihat.


Ares menatap Jeha dengan tatapan kosong. Dia tahu bahwa Jeha mengatakan hal itu dengan baik hati, tetapi dia tidak yakin apakah dia bisa melupakan Irene. Irene sudah menjadi bagian dari hidupnya selama satu tahun terakhir dan dia merasa kehilangan tanpa kehadirannya.

__ADS_1


"Kamu pasti berpikir kata-kata memang terlalu mudah untuk diucapkan. Belum tentu apa yang diucapkan bisa dilakukan. Maafkan kalau itu menyinggungmu," kata Jeha.


Ares tertawa. "Santai saja, itu tidak masalah bagiku."


Jeha merasakan rasa tidak nyaman dalam hatinya. Dia tahu bahwa Ares mencintai Irene sangat dalam dan tidak mungkin mudah untuk melupakan perasaan itu. Namun, dia memutuskan untuk terus memberikan dukungan pada Ares dan membantunya untuk melewati masa sulit ini.


"Aku akan selalu di sini untukmu, Ares. Kapanpun kamu butuhkan seseorang untuk diajak bicara atau berbagi cerita, aku akan selalu ada untukmu," ucapnya.


"Woi, Ares!"


Glen, teman Ares berseru seraya berjalan menghampiri ke arah mereka. Jeha merasa kecewa dengan kedatangan lelaki itu. Kebersamaannya dengan Ares jadi berakhir.


"Kenapa masih di sini? Buruan ke tempat latihan, yuk!" ajak Glen.


"Ah, iya. Aku sampai lupa." Ares bangkit dari duduknya. "Jeha, aku pergi dulu, mau main basket," pamitnya.


Jeha memasang senyum kaku. "Oh, iya. Pergilah!" katanya.


Jeha melihat Ares pamit pergi dan merasa sedikit kecewa karena tidak mendapatkan kesempatan untuk direspon. Ia ingin Ares tahu akan keberadaannya. Ia juga ingin Ares tahu bahwa ia peduli padanya. Namun, dia memahami bahwa Ares harus pergi untuk berlatih basket dan berharap mereka bisa melanjutkan percakapan mereka nanti.


Selama berlatih, Ares dan Miko terus membicarakan pertandingan basket antar kampus yang akan datang. Miko menunjukkan beberapa trik dan strategi baru yang ia pelajari dan Ares merasa senang bisa belajar darinya.


"Kamu memang hebat, Miko," kata Ares dengan senyum. "Kamu selalu punya trik-trik baru yang mengagumkan."


Miko tertawa dan mengangkat bahu. "Aku hanya berusaha mempelajari dan mengembangkan keterampilan saya. Itu saja."


"Aku juga harus lebih banyak belajar, terutama dalam memimpin tim," kata Ares dengan sedikit khawatir. "Aku merasa seperti aku masih banyak yang harus ditingkatkan."


Miko menghentikan langkahnya dan menatap Ares dengan tajam. "Apa yang kamu bicarakan, Ares? Kamu selalu menjadi pemimpin yang kuat di tim kita. Kamu selalu bisa menginspirasi kami untuk bekerja keras dan mencapai tujuan kita."

__ADS_1


Ares tersenyum dan merasa terharu dengan kata-kata Miko. "Terima kasih, Miko. Kamu selalu menjadi teman yang baik dan mendukungku."


Miko tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya. "Tentu saja, Ares. Kami semua ada di sini untuk mendukung satu sama lain, baik dalam basket maupun dalam kehidupan."


Sambil berjalan, Ares dan Miko terus berbicara tentang strategi dan trik basket hingga mereka tiba di ruang ganti. Miko berpamitan untuk pulang dan Ares masuk ke rumah, masih memikirkan tentang percakapan dengan Jeha tadi pagi.


***


Beberapa hari berlalu dan Ares mulai merasa lebih baik. Jeha berhasil membuatnya tersenyum lagi dan mengalihkan perhatiannya dari Irene. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, berbicara tentang hal-hal yang ringan dan kadang-kadang serius.


Suatu hari, ketika mereka sedang duduk di sebuah kafe, Jeha menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya berkata, "Ares, aku harus mengaku sesuatu padamu."


Ares menatap Jeha dengan rasa penasaran. "Apa itu, Jeha?"


Jeha menggigit bibirnya sebelum akhirnya berkata dengan suara lirih, "Aku mencintaimu, Ares. Aku sudah merasa seperti ini sejak lama. Aku tahu bahwa kamu masih mencintai Irene dan mungkin tidak akan pernah mencintai aku seperti yang aku harapkan. Tapi, aku hanya ingin kamu tahu perasaanku."


Ares merasa kaget dan tak tahu harus berkata apa. Dia tidak pernah membayangkan bahwa Jeha menyukainya.


"Aku tidak tahu harus berkata apa, Jeha," kata Ares dengan suara lembut. "Aku masih merasa sulit untuk melupakan Irene."


Jeha mengangguk dan memahami perasaan Ares. "Aku mengerti, Ares. Kamu tidak perlu terburu-buru dalam memutuskan apa yang harus kamu lakukan. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku akan selalu di sini untukmu, tanpa syarat."


Ares merasa lega karena Jeha bisa memahami perasaannya. Dia tahu bahwa mungkin perasaannya pada Irene tidak akan pernah hilang, tetapi dia juga merasa bersyukur memiliki teman seperti Jeha yang selalu ada untuknya.


"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi aku tahu bahwa aku akan selalu menghargai pertemanan kita."


Jeha tersenyum dan merangkul Ares erat-erat. Dia merasa senang karena mereka masih bisa menjadi teman yang baik meskipun perasaan cinta Ares tidak terbalas.


"Mari kita nikmati hari ini dan berharap yang terbaik untuk masa depan," kata Jeha.

__ADS_1


Ares tersenyum dan mengangguk. Dia merasa optimis tentang masa depan dan bersyukur memiliki teman seperti Jeha yang selalu ada untuknya. Meskipun cinta Ares tidak terbalas, dia tahu bahwa dia masih bisa bahagia dengan cara lain dan memiliki hubungan yang kuat dengan teman-temannya.


__ADS_2