
"Apa aku yang paling ketinggalan di sini?"
Alfa baru saja tiba di bandara. Ia bergabung dengan ketiga saudaranya yang lain menyambut kedatangan orang tua mereka yang masih hidup.
Irene merasa senang melihat wajah-wajah bahagia mereka. Tampak jelas raha haru dan lega di wajah Indira ketika berjumpa dengan anak-anaknya setelah sekian lama. Sayangnya, keberadaan Irene di sana seperti tidak dianggap. Ia hanya bisa menjadi penonton yang melihat. Mungkin seharusnya ia tidak ikut datang ke sana.
"Bagaimana kalau kita pulang sekarang? Kalian pasti lelah dan butuh istirahat," kata Alan.
Indira mengelap air matanya. Ia masih tak bisa menahan tangis saking bahagianya bisa bertemu dengan putra-putranya.
"Biar Papa aku yang bantu dorong," kata Alfa.
"Kak," panggil Irene. Ia menahan tangan Alan saat hendak berjalan pergi persama keluarganya yang lain.
Irene sudah menahan diri diabaikan di sana dan ia merasa perlu berbicara dengan Alan. Apalagi mereka sudah lama tidak saling berkomunikasi. Ia mengajak Alan ke tempat yang agak sepi untuk bicara.
"Kak Alan masih belum memaafkanku?" tanya Irene dengan raut wajah yang sendu.
Bam!
Irene terkejut saat Alan memukulkan kedua telapak tangannya pada tembok dengan keras. Lelaki itu menyudutkan dirinya sembari memberikan tatapan tajam.
"Kamu pasti sudah tahu jawabannya, kan?" Alan tampak kesal dan marah. "Berani sekali kamu menunjukkan wajah ini di hadapanku!" nada bicara Alan terdengar serius.
__ADS_1
Mata Irene berkaca-kaca. Baru kali ini ia melihat sikap Alan yang terlampau kasar padanya. "Apa jujur itu salah, Kak? Aku melakukannya karena tidak ingu. Mengecewakanmu lebih jauh lagi. Aku bisa saja tetap berbohong untuk mempertahankan hubungan baik kita selama ini. Tapi, aku sangat mencintaimu dan ingin kamu tahu yang sebenarnya tentang diriku."
"Aku tahu sejelek apapun Irene tidak masalah bagimu. Tapi, setiap kali mendengarmu dicemooh karena kejelekanku, siapa yang bisa tahan? Apa tidak boleh jika aku ingin berdiri di sisimu sebagai diriku yang sebenarnya agar tidak ada lagi orang yang bisa merendahkan aku dan Kak Alan?"
Penjelasan Irene membuat Alan terdiam. Namun, ia tetap belum bisa menerima perbuatan Irene yang sebelumnya.
"Aku tidak peduli apapun pembenaran yang kamu katakan. Aku rasa kita cukup bicara sampai di sini saja!" tegas Alan.
"Kalau Kak Alan sudah tidak peduli pada Irene, biarkan aku yang peduli padanya!" seru Ares. Ternyata sejak tadi dia berada di sana mendengarkan percakapan mereka.
Ares berjalan maju menarik Irene menjauh dari kakaknya. Ia sangat kesal melihat sikap kakaknya terhadap Irene.
"Kenapa diam saja? Kamu bisa memukul atau menamparnya seperti yang biasa kamu lakukan kalau sedang kesal, kan?" gerutu Ares.
"Sudah benar orang salah minta maaf, memangnya harus apalagi? Kayak nggak pernah punya salah aja!" terlihat Ares yang kesal dengan sikap Irene menghadapi kakaknya.
"Ares, kamu tidak mau satu mobil dengan mama?" tanya Indira.
Ares menoleh ke arah Irene yang ada di sampingnya. Irene tampak merengut karena kejadian barusan.
"Aku satu mobil dengan Irene, Ma. Biar Kak Alan saja yang ikut kalian," kata Ares. Ia lantas mengajak Irene menaiki mobil lain yang tersisa. Sementara, Arvy dan Alfa menaiki mobil masing-masing.
Indira memandang sinis sosok Irene sampai wanita itu tak terlihat lagi dari pandangan matanya. Ia merasa keluarga Narendra selalu mengganggu kehidupannya.
__ADS_1
"Katanya dia calon istrimu. Apa dia juga menggoda adik-adikmu?" sindir Indira kepada Alan yang duduk di bagian depan samping sopir.
Alan tak bisa menjawab. Meskipun masih kesal dengan Irene, namun ia juga tidak suka melihat lelaki lain dekat dengan Irene termasuk adiknya sendiri.
"Lebih baik cepat kamu putuskan wanita itu dan suruh dia pulang! Aku takut Ares akan terpengaruh olehnya. Ares terlalu baik dan lembut hati, dia tidak akan tega melihat wanita yang merengek padanya," kata Indira.
"Kamu ini kenapa? Kita baru pulang dan belum mengenal dia secara personal. Perkataanmu terlalu kasar ditujukan untuk gadis itu," ujar Vito yang duduk di sebelah Indira.
"Dia keturunan keluarga Abraham, Pa ...."
"Memangnya kenapa kalau dia dari keluarga Abraham?"
Indira jadi kesal dengan suaminya. "Papa ... Kesulitan yang kita hadapi selama belasan tahun, bagaimana bisa berkata seenteng itu? Gara-gara keluarga Abraham kita menderita dan berpisah dengan anak-anak!"
"Apa gadis itu yang harus bertanggung jawab? Dia mungkin tidak tahu apa-apa." Vito mencoba bersikap bijak.
Indira tidak terima. "Pokoknya keluarga Abraham adalah musuh. Sampai anak cucu yang mereka lahirkan selamanya tidak boleh bersatu dengan keluarga Narendra!"
"Ayah saja setuju dan menjodohkan mereka. Itu artinya gadis itu pasti baik untuk Alan."
"Itu kan kelihatannya saja! Bisa jadi dia memang sengaja masuk untuk menghancurkan keluarga kita. Lihat saja Ares yang sudah berhasil dia pengaruhi!"
Alan memijit keningnya. Ia merasa pusing mendengarkan perdebatan kedua orang tuanya.
__ADS_1