Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 109


__ADS_3

"Padatkan saja jadwal pertemuan dengan para investor. Aku akan berusaha meyakinkan mereka agar tetap percaya kepada perusahaan kita," pinta Alan.


"Tapi Bapak butuh istirahat. Sejak kemarin Anda selalu bekerja sampai larut malam," ucap sekertaris Alan.


"Aku mengatakan hal ini artinya aku kuat, kamu tidak perlu khawatir."


"Baik, Pak."


Alan berjalan beriringan sekertarisnya dengan langkah cepat. Mereka baru saja menyelesaikan rapat dan hendak kembali ke ruangan Alan untuk memeriksa dokumen.


"Walaupun Ares dan Alfa bisa diandalkan, tapi kamu tetap harus mengawasi pekerjaan mereka. Jangan sampai ada celah yang bisa Alex manfaatkan untuk menjatuhkan perusahaan ini."


"Baik, Pak. Saya sudah mencatat pesan Anda." sang sekertaris memperlihatkan catatannya di tablet miliknya.


Klek!


Pintu ruangan terbuka. Alan menghela napas panjang. Di ruangannya ia bisa sedikit bersantai meskipun harus tetap bekerja.


"Pak!" seru sang sekertaris seraya menunjuk ke arah sofa.


Di sana ada Irene yang tengah tertidur di atas meja bersama tumpukan dokumen perusahaan. Alan hampir lupa jika dia meminta Irene untuk membantunya.


"Kamu keluar dulu. Istirahatlah dan nanti jam tujuh masuk lagi ke ruanganku!" pinta Alan.


Sang sekertaris langsung menuruti kemauan Alan.


Alan berjalan mendekati sosok wanita yang tertidur di ruangannya. Wajahnya tampak kelelahan. Seharian ini ia bahkan tidak sempat menyapanya karena harus menghadiri beberapa rapat dalam satu hari.


Alan memandangi wajah Irene dalam jarak yang lebih dekat. Wanita sederhana itu memiliki hati yang baik dan tulus. Meskipun awal hubungan mereka kurang baik, namun akhir-akhir ini hubungan mereka cukup menyenangkan.


Wajah polosnya ketika tertidur tak bosan untuk dipandangi olehnya. Adanya wanita itu membuat dirinya mendapatkan kekuatan untuk menghadapi permasalahan yang terjadi.


"Irene, Irene ...." Alan berusaha membangunkan Irene dengan mencubit kecil pipinya.


Irene mengerjapkan mata. Dengan tubuh yang masih lemas rasa kantuk, ia memaksakan diri untuk bangun. Sejak pagi ia sudah ada di sana membantu Alan membereskan tumpukan dokumen di sana.


"Ini sudah sore, pulanglah dulu," ucap Alan dengan nada lembut.


Irene meregangkan tangannya. "Hm, maaf aku ketiduran. Baru setengahnya aku teliti, ini belum selesai." Ia terlihat menyesal karena tidak tuntas memberikan nantuan kepada Alan.


Alan menyunggingkan senyum. "Tidak apa-apa. Nanti biar aku lanjutkan dengan sekertarisku. Bantuanmu benar-benar sangat meringankanku," pujinya.

__ADS_1


Irene terlihat murung. Ia belum mau pergi dari sana. Rasanya masih ada beban jika ia membiarkan Alan melewati malam ini dengan lembur sementara ia bisa beristirahat di rumah dengan nyaman.


"Aku juga mau ikut lembur denganmu. Kondisi perusahaan harus secepatnya ditangani. Jangan sampai berimbas pada saham perusahaan, Kak!" Irene mengkhawatirkan kondisi perusahaan.


Alan mengusap rambut Irene dengan perlahan. "Pulanglah, semua akan baik-baik saja!" katanya untuk meyakinkan Irene agar mau pulang.


"Tapi ...."


"Kamu juga butuh istirahat. Meskipun kondisi perusahaan penting, kesehatanmu juga penting. Untuk apa kita mati-matian mempertahankan perusahaan jika kita semua jadi sakit karena ini?"


Perkataan Alan terdengar meneduhkan. Lelaki itu menampakkan kepeduliannya kepada orang lain.


"Tapi, Kak Alan juga butuh istirahat," ucap Irene.


"Tentu saja aku pasti beristirahat. Apalagi aku pimpinan tertinggi di perusahaan ini, kesehatan yang paling utama agar bisa memastikan perusahaan dalam kondisi yang baik, juga dengan para karyawannya."


Mendengar ucapan Alan yang tulus, Irene tak enak menolak perintah Alan agar dia pulang. Ia yakin Alan pasti telah memiliki cara tersendiri untuk menyelesaikan masalah yang menimpa perusahaan.


"Kalau begitu, aku pulang dulu, Kak. Besok aku datang lagi ke sini," ucap Irene seraya bangkit dari tempatnya.


Sekali lagi Alan menepuk kepala Irene. "Pulanglah! Sopir ada di bawah, kamu tinggal memintanya untuk mengantar pulang. Tidur yang nyenyak dan jangan pikirkan hal-hal yang aneh!"


Irene mengangguk dan menuruti kemauan Alan.


"Hoammm ...."


Irene meregangkan tubuhnya di atas ranjang. Tubuhnya terasa ringan dan rilek setrlah dibawa tidur semalaman. Saat matanya terbuka, ia merasa sedikit silau menatap sinar yang masuk melalui celah-celah jendela kaca yang tertutup tirai.


Ia membelalakkan mata saat menatap ke arah jam dinding. "Jam 10?" pekiknya kaget.


Ia bergegas menuju ke cermin, menatap dirinya yang masih polos dengan penampilan aslinya. Bergegas ia menuju ke kamar mandi dan melaksanakan ritual mandinya secepat mungkin. Tak lupa ia menggunakan riasan penyamaran sebagai Irene yang biasanya dikenal oleh orang rumah.


"Bibi ... Bibi ... Kenapa tidak ada yang membangunkanku? Aku kan sudah bilang, bangunkan aku jam lima pagi!" gerutu Irene sembari berlari menuruni tangga.


"Nona, silakan sarapan terlebib dahulu," ucap sang pelayan dengan ramah.


"Sarapan apa? Ini sudah hampir makan siang!" kesalnya. Meski demikian, ia tetap duduk di kursi ruang makan karena lapar.


"Maaf, Nona. Kami tidak berani membangunkan karena perintah dari Tuan Muda Alan," bawab sang pelayan.


"Kak Alan yang menyuruh?" tanya Irene heran.

__ADS_1


"Benar, Nona."


Irene menikmati sarapan paginya yang sudah telat. Ia masih tidak mengka jika Alan cukup perhatian agar para pelayan tidak mengganggunya karena masih tidur.


Irene ngutak-atik ponselnya sembari makan. Ia mencari perkembangan berita tentang perusahaan Narendra Group. Hal mengherankan kembali terjadi. Disebutman bahwa terdapat beberapa mitra baru yang bersedia bergabung di saat kondisi perusahaan dalam guncangan. Saham perusahaan yang sebelumnya sempat turun kembali naik.


Irene tersenyum dengan berita tersebut. Ia mempercepat makannya agar bisa segera ke perusahaan untuk memastikan kebenarannya.


Irene diantar sopir ke perusahaan. Ia langsung menuju ke ruangan Alan dengan mudah.


"Irene, kamu sudah datang?"


Perbincangan Alan dan sekertarisnya terhenti saat melihat kedatangan Irene.


"Kak, apa benar kondisi perusahaan sudah kembali stabil?"


Alan tersenyum melihat ekspresi ingin tahu yang Irene perlihatkan.


Seakan tahu situasi, sekertaris Alan pamit meninggalkan ruangan tersebut meninggalkan Alan dan Irene berdua.


"Kamu tadi lewat lobi bawah, kan?" tanya Alan.


"Ya iyalah! Kakak pikir aku spiderman yang bisa masuk pakai merayap di dinding?"


"Hahaha ...." Alan tertawa dengan lelucon Irene yang muncul sebagai bentuk kekesalan Irene.


"Kamu tadi memperhatikan kondisi di lobi seperti apa?" tanya Alan lagi.


"Iya, Kak. Maksudnya apa? Aku benar-benar pusing kalau disuruh jawab pertanyaan saat ini. Memangnya kita sedang ujian?"


Irene sudah cukup pusing memikirkan masalah perusahaan. Jika ditambah lagi ia bisa gila.


"Seperti yang bisa kamu lihat, perusahaan sudah bisa berjalan normal seperti biasa. Semua berkat kerja keras semua orang, termasuk kamu."


Irene merasa lega mendengarkan kenyataan itu.


Alan mengusap kepala Irene. "Kamu sudah sangat bekerja keras untuk perusahaan. Terima kasih, ya!"


"Cuma terima kasih?" sindir Irene.


Alan tersenyum-senyum. "Tentu saja tidak. Untuk karyawan rajin sepertimu, aku rasa traktiran di restoran yang enak adalah sesuatu yang pantas!"

__ADS_1


Irene mengacungkan jempolnya karena Alan peka dengan sindirannya.


__ADS_2