Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 210: Obat Pereda Kemarahan Wanita


__ADS_3

Alan mengerutkan dahi. "Apa itu?" tanyanya penasaran. Ia ingin mendengarkan saran dari asistennya.


"Bapak bisa coba berikan buket bunga kepada calon istri Bapak. Itu akan terlihat romantis sekali. Wanita biasanya akan luluh kalau diberi kejutan yang romantis," kata Finn.


Alan mangguk-mangguk. Saran dari Finn menurutnya masuk akal juga. Ia rasa sudah cukup lama tidak memberikan hadiah bunga kepada Irene.


"Kalau itu masih belum mempan, Bapak bisa mencoba cara yang kedua," lanjut Finn.


"Apa lagi selain bunga?" tanya Alan.


"Coklat, Pak."


Alan kembali mengerutkan dahi. "Coklat?"


"Iya, Pak, coklat! Wanita suka yang manis-manis seperti coklat. Kalau makan coklat juga bisa mengenyangkan perut. Biasanya orang marah-marah karena kelaparan. Jadi, kalau wanita tidak lapar kemungkinan untuk marah bisa lebih rendah."


Alan membayangkan saran yang Finn berikan. Memang terdengar masuk akal. Selama ini Irene juga suka makan. Wanita itu selalu terlihat bersemangat dan ceria saat diajak makan. Ia bahkan tidak bisa berpikir sampai ke sana.


"Lalu, yang ketiga apa?" tanya Alan.


"Yang ketiga uang, Pak!" kata Finn dengan lantang. "Wanita sangat suka dengan uang. Semarah apapun kalau disodori tumpukan uang, wanita pasti akan luluh."


Cara nomor tiga menurut Alan yang paling menggelikan. Selama ini Irene selalu berpenampilan sederhana, tidak pernah meminta barang-barang yang mahal padahal tahu jika dirinya seorang presdir.


"Jadi, Bapak mau pakai cara nomor berapa?" tanya Finn.


"Pakai ketiganya!" jawab Alan.


Finn tertegun sebentar mendengar jawaban Alan. "Pakai ketiga-tigannya, Pak?" tanyanya memastikan.


"Iya, kamu bilang itu kan cara yang manjur untuk meluluhka wanita. Aku mau pakai semuanya supaya calon istriku memaafkan kesalahan yang bahkan aku tidak tahu. Sekarang, kamu pergi belikan buket bunga mawar merah yang paling cantik dan juga coklat paling enak dan mahal lalu kirimkan ke kampus XXX untuk Irene Abraham di Fakultas Ekonomi."


"Ah, iya, Pak, baiklah!"


Finn telah mencatat dengan cepat permintaan atasannya. Ia bergegas pergi dari sana untuk mendapatkan apa yang Alan inginkan.

__ADS_1


Alan menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya yang empuk. Ia memandangi layar ponselnya, membuka i-banking lewat browser.


Ia sedang memikirkan cara ketiga yang Finn katakan, memberikan uang yang banyak agar wanita tidak marah. "Aku kirim berapa, ya?" gumamnya.


***


Ting!


Irene dikejutkan dengan bunyi ponsel saat sedang memainkan game. Ada notifikasi pesan masuk ke ponselnya.


"Aku keluar game dulu, ya! Ada pesan masuk," kata Irene pada Ares.


"Ah! Ganggu saja. Kenapa tidak kamu abaikan? Ini sebentar lagi mau menang!" gerutu Ares.


Mereka tengah bermain game bersama di dalam ruang kelas yang masih kosong sembari menunggu perkuliahan selanjutnya dimulai. Mereka datang memang terlalu awal.


Irene menutup aplikasi game dan membuka notifikasi yang masuk. Mata Irene melebar saat membaca pemberitahuan yang baru saja masuk. Alan mentransfer uang 500 juta ke nomor rekeningnya.


Sepertinya aku tahu kenapa calon istriku menjauh. Apa mungkin karena dia tahu aku pergi menemui wanita yang sudah aku anggap mantan sampah?


Irene, tidak ada wanita lain di hatiku ketika aku menerima perjodohan itu. Aku menyetujuinya karena aku mencintaimu.


Biarlah aku menjadi miskin asalkan kamu tidak marah lagi padaku.


Your silent treatment is driving me crazy.


Please, forgive me!


"Pfft ... Buahaha ...."


Irene tertawa terpingkal-pingkal membaca catatan penjelasan yang Alan sematkan pada laporan transfer yang dilakukannya. Perutnya sampai terasa kaku saking lucunya pesan yang Alan kirimkan.


Ares melihat tingkah Irene dengan heran. Ia ikut mematikan game-nya dan melihat Irene yang masih tertawa terbahak-bahak. "Kenapa tertawa-tawa? Kamu kesurupan?" tanyanya.


"Hahaha ... Ini lucu banget!" Irene tertawa sampai air matanya keluar.

__ADS_1


Ia menyerahkan ponselnya agar Ares bisa membaca apa yang membuatnya tertawa terbahak-bahak.


Membaca pesan Alan yang begitu menggelikan, Ares ikut tertawa terpingkal-pingkal bersama Irene. "Hahaha ... Tidak mungkin kakakku seperti ini. Apa dia sudah gila? Hahaha ...." Ares menertawakan kakaknya sendiri.


"Benar, kan? Aku juga tidak percaya kalau ini Kak Alan. Mana mungkin dia bisa mengirim pesan menggelikan seperti ini," ujar Irene.


"Permisi ...."


Tawa Irene dan Ares terhenti saat ada suara dari arah pintu. Dua orang kurir datang menghampiri mereka membawakan buket bunga merah dan buket coklat.


"Dengan Nona Irene, ya?" tanya salah satu kurir memastikan.


"Iya, benar," jawab Irene agak bingung.


"Ini ada kiriman bunga dan coklat dari Tuan Alan Narendra, Presiden Direktur Narendra Grup untuk Nona. Silakan tanda tangani bukti terimanya dulum"


Dengan perasaan masih terkejut, Irene menuruti permintaan kurir tersebut. Ia lantas mendapatkan dua buket sekaligus dan kurirnya pergi setelah menyerahkannya.


"Ini benar dari kakakku untukmu, ya? Sepertinya memang dia sedang benar-benar gila, sih," gumam Ares yang tidak menyangka kakaknya bisa seperti itu. Selain mentransfer uang, kakaknya juga mengirimkan bunga dan coklat untuk Irene langsung ke kampus.


"Iya, aku rasa kakakmu memang sedang gila," kata Irene mengiyakan.


Irene masih memandangi kiriman yang baru saja didapatkannya. Bunga mawar itu tercium harum dan coklat yang diberikan sepertinya sangat enak. Seketika perasaan Irene menjadi lebih baik. Ia senyum-senyum sendiri mendapatkan hadiah yang tidak pernah disangkanya.


"Kamu hebat, ya! Bisa membuat kakakku jadi gila seperti ini," kata Ares.


"Apasih! Menurutku ini biasa saja!" jawab Irene cuek. Ia pura-pura tidak tersentuh dengan kiriman yang Alan berikan untuknya. Padahal, di dalam hatinya ia sudah berjingkrak-jingkrak bahagia.


"Aku rasa kakakku baru kali ini bisa melakukan hal di luar kebiasaan gara-gara kamu."


"Benarkah?" tanya Irene.


Ares menoyor kepala Irene yang sejak tadi terkesan songong berbicara dengannya. "Sini coklatnya aku minta! Aku lapar!" katanya seraya berusaha merebut buket coklat dari Irene.


Irene segera mengamankan kedua hadiah itu dari Ares. "Tidak boleh! Beli sendiri kalau mau!" ketus Irene.

__ADS_1


"Pelit ah!"


"Biarin!"


__ADS_2