
Setelah momen yang mengharukan, saatnya bagi Irene untuk melemparkan buket bunga pengantinnya. Para tamu undangan berkumpul di depan panggung dengan senyum cerah di wajah mereka, semuanya bersemangat untuk menjadi penerima buket yang membawa keberuntungan.
Irene memegang buket bunga yang indah dan harum dengan lembut, matanya berbinar penuh kegembiraan. Dia berdiri di tengah-tengah panggung yang dipenuhi dengan cahaya yang lembut. Sorotan lampu dan tawa riang menciptakan atmosfer yang ceria di sekitarnya.
Irene mengangkat buket bunga itu dengan hati yang berdebar. Dia mengepalkan tangannya dan mengarahkannya ke arah tamu undangan yang menantikan momen ini dengan gembira. Saat dia meluncurkan buket itu ke udara, senyumnya terpancar dengan harapan dan kebahagiaan.
Tepukan riuh mengiringi lemparan buket itu. Ada kegembiraan dan semangat di udara saat para tamu undangan, Winda, Jeha, Bian, dan Arvy, berebut untuk menangkap buket bunga yang akan membawa keberuntungan bagi mereka.
"Oh, Kak Arvy ternyata mau ikutan," ucap Jeha ketika melihat keberadaan Arvy di sana.
"Ini acara bebas, kan? Katanya yang belum menikah boleh ikutan," jawab Arvy dengan ketus. Ia memasang wajah sok cool di hadapan mereka.
Sebenarnya ia sangat malu harus turut serta dalam acara itu. Kalau bukan kemauan Adila, ia tak akan mau bergabung dengan orang-orang di sana yang ingin memperebutkan satu buket bunga.
Adila tidak dapat ikut hadir dalam acara itu karena kekasih Arvy itu ada jadwal konsultasi dengan dokter. Permintaan wanita itu, Arvy harus pulang membawa buket bunga dari pernikahan Alan dan Irene.
Jeha jadi merasa kikuk setelah mendapat jawaban yang ketus dari rekan artis satu manajemennya itu.
"Kak Arvy, boleh minta foto dulu? Aku ingin sekali posting foto bersama Kak Arvy di sosial mediaku," kata Winda dengan nada sopan. Ia sangat senang bisa bertemu dengan salah satu artis yang digemarinya.
"Aku tidak sedang melayani jumpa fans! Kalau mau foto atau minta tanda tangan nanti saja di belakang!" lagi-lagi Arvy menjawab dengan ketus.
Winda hampir saja emosi. Jeha dan Bian berusaha menenangkan.
"Sudah, sudah ...." kata Jeha menenangkan.
"Kamu seperti tidak kenal Kak Arvy saja. Dia bisa baik tapi bisa juga sadis," kata Bian dengan nada setengah berbisik.
"Mendengar ucapan ketusnya itu secara langsung rasanya membuat kesal!" keluh Winda.
__ADS_1
"Benar apa yang dikatakan Kak Arvy, dia bukan sedang fan meeting, jadi bersabarlah," ucap Bian.
"Benar apa yang Bian bilang. Nanti kamu bisa minta foto setelah ia tidak sibuk," usul Jeha.
Mendengar ucapan Jeha membuat perasaan Winda sedikit tenang. Mereka sengaja agak menjauh dari tempat Arvy berdiri agar tidak terjadi keributan. Mereka kemudian fokus terhadap prosesi pelemparan buket bunga yang akan dilakukan.
Tepat saat buket bunga meninggalkan tangan Irene, kekacauan riang terjadi. Para tamu undangan saling berlomba, berusaha menangkap buket yang membawa harapan akan cinta dan pernikahan yang bahagia.
Winda melompat dengan gesit, mencoba menangkap buket bunga itu, tetapi Jeha juga meloncat tinggi dengan kecepatan kilat, mencoba meraihnya dari samping. Bian dengan gerakan lincah berusaha menghindari hambatan dan berebut posisi untuk memenangkan buket itu. Arvy melangkah maju dengan percaya diri, berusaha memenangkan permainan tangkap ini.
Tawa riang dan candaan terdengar di udara saat mereka saling bersaing dengan penuh semangat. Mereka saling dorong, melompat, dan berebut posisi, semua ingin menjadi orang yang beruntung mendapatkan buket bunga dari tangan Irene.
Dan akhirnya, dalam kekacauan yang riang, buket bunga itu jatuh ke pelukan Jeha. Dengan senyum yang tak terbendung, dia memegang buket bunga itu dengan penuh kebahagiaan.
"Yeay! Aku dapat!" seru Jeha dengan bahagianya. Semua orang salut dengan perjuangan Jeha yang beruntung mendapatkan itu.
Jrha tersenyum lebar. Ketika melihat Arvy yang penuh semangat tapi gagal mendapatkannya, perasaan kasihan menyelinap ke dalam hati Jeha. Senyumannya memudar, merasa kasihan kepada Arvy.
Jeha melihat ekspresi kekecewaan Arvy, dan di dalam hatinya muncul keputusan spontan. Dia ingin memberikan buket bunga itu untuk Arvy. Ia tahu kondisi Arvy saat ini kurang baik semenjak hubungannya dengan Adila mulai terekspose. Apalagi Adila tengah mengalami amnesia.
"Jeha, kamu mau kemana?" seru Winda yang tiba-tiba melihat temannya itu hendak pergi.
Dengan cepat, Jeha melangkah maju dan menghampiri Arvy yang masih terkejut dengan keputusannya. Dia menatap Arvy dengan tulus dan tersenyum.
"Ngapain kamu ke sini?" ketus Arvy. Ia kesal karena merasa Jeha datang seperti ingin meledeknya.
"Apa kamu mau mendapatkan ini untuk Adila?" tanya Jeha dengan nada lembutnya. Ia tahu jika Arvy seorang yang baik meski terkadang seperti orang yang ketus.
"Memang apa urusannya denganmu?" tanya Arvy dengan nada masih ketus.
__ADS_1
"Kalau memang untuk Adila, ambil saja!" kata Jeha sembari menyodorkan buket bunga di tangannya. "Aku juga tidak terlalu percaya dengan hal semacam itu, hanya untuk seru-seruan dengan teman makanya aku ikut rebutan," ucapnya.
Arvy terdiam mendengar ucapan Jeha. Meskipun ia bersikap seperti itu, Jeha tetap berusaha sopan kepadanya. Padahal di kantor terkadang ia juga memperlakukan juniornya dengan keras.
"Ambil saja, Kak, tidak apa-apa," ucap Jeha lagi.
Arvy masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Matanya memancarkan rasa terima kasih yang dalam, dan dia dengan cepat menggenggam buket bunga itu dengan hati yang penuh syukur.
"Terima kasih," kata Arvy singkat.
"Sama-sama, Kak. Aku harap Adila bisa secepatnya sembuh," kata Jeha.
"Aku dengar kamu ikut panggilan audisi film horor, ya?" tanya Arvy.
Artis yang sejak tadi berkata ketus itu tiba-tiba menjadi ramah saat berbicara dengan Jeha.
"Ah, ternyata Kak Arvy juga dengar, ya? Tawaran itu baru masuk kemarin dan masih aku pertimbangkan," jawab Jeha.
"Kalau menurutku tolak saja," usul Arvy.
Jeha merasa kaget mendengar usulan Arvy. "Kenapa, Kak?"
Tawaran film sangat dinanti-nantikan oleh Jeha. Selama ini, ia terhitung sepi job sebagai seorang artis baru. Menurut manajernya, dengan menerima tawaran film horor itu akan membuat namanya semakin terkenal.
"Produser filmnya sudah banyak membuat masalah di karya-karya sebelumnya. Dari segi cerita juga kurang menarik dan sangat pasarang. Dia memang suka mencari artis baru supaya bayarannya murah. Lebih baik kamu terima tawaran iklan atau sinetron dulu," kata Arvy memberikan penjelasannya.
Jeha menjadi sedikit tercerahkan. "Begitu ya, Kak? Manajerku agak mengeluh karena tidak ada tawaran masuk. Aku jadi tidak enak kalau tidak ada kerjaan," ujar Jeha.
"Besok datang saja ke ruanganku, akan aku kenalkan pada seseorang. Kalau kamu beruntung, mungkin kamu akan mendapatkan proyek besar," kata Arvy. Setelah mengatakan hal itu, ia berjalan pergi meninggalkan Jeha.
__ADS_1