Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 248: Pergi (II)


__ADS_3

"Ren, maafkan sikap Kakakku, tapi jangan pergi dari sini," pinta Ares.


Ia meraih tangan Irene dan menggenggamnya. Hal itu membuat Hamish bertambah panas dan mendekatkan ujung pistol ke kepala Ares.


"Kak! Ini sudah keterlaluan!" Irene menjauhkan pistol itu dari Ares.


"Jangan dekati kekasihku!" kata Hamish dengan tatapan intimidatif.


Ares tertegun tidak paham dengan apa yang terjadi di sana.


"Sudah ya, Res. Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Kakakku orangnya tempramen. Aku pamit dulu," kata Irene.


Ia menggandeng tangan Hamish dan membawanya menjauh dari Ares. Kedua pengawal juga mengikuti dan turun kembali ke lantai bawah menggunakan lift.


Para pelayan hanya terdiam melihat Irene berjalan di hadapan mereka. Wanita yang selama ini sering mereka remehkan ternyata cantik dan punya power luar biasa. Pengawalnya banyak dan Irene terlihat elegan sekaligus menyeramkan.


"Siapa kalian?"


Alan baru saja pulang. Ia heran melihat ada banyak orang di rumahnya. Apalagi melihat beberapa orang mengacungkan senjata ke arah ibunya.


"Irene!" seru Alan saat melihat keberadaan Irene di sana.


Irene menundukkan kepala. Hamish yang menyadari perubahan sikap Irene langsung tahu bahwa lelaki yang baru saja datang itu adalah Alan. Hamish menatap sinis sosok Alan. Ia sengaja merangkul mesra pinggang Irene untuk menunjukkan kedekatan mereka.


Alan sama sekali tak gentar meskipun ditodong oleh beberapa pistol.


"Menyingkir dari jalan kami!" pinta Hamish ketika berhadapan dengan Alan yang berdiri tepat di depan pintu.


"Siapa kamu? Aku ingin bicara dengan Irene." Alan tak mau pergi. Ia justru ingin berbicara berdua dengan Irene dari hati ke hati.


Hamish menjawab dengan mengacungkan pistolnya. "Menyingkir atau aku tembak!" tegasnya.


"Kita berduel saja. Kalau aku menang, ijinkan aku bicara dengan Irene!" tantang Alan.


"Hah! Kamu mau menantangku?" Hamish merasa tertantang. Ia memasukkan pistol ke sakunya dan melepaskan jas dan memberikan kepada anak buahnya.


"Alan, apa yang kamu lakukan? Sudah, biarkan saja mereka pergi!" seru Indira.

__ADS_1


"Kak, Jangan!" Irene berdiri di hadapan Hamish berusaha menghentikan keinginan lelaki itu. Namun, Hamish menyingkirkannya.


Perkelahian antara Hamish dan Alan tak bisa dihindari. Keduanya saling serang sementara yang lain hanya menyaksikan. Irene terlihat khawatir melihat kedua orang yang disayanginya saling adu fisik.


Baik Hamish dan Alan menguasai ilmu bela diri yang baik. Keduanya saling berhasil memukul satu sama lain. Namun, sepertinya mereka tidak akan berhenti sebelum salah satunya terkapar. Meskipun sama-sama terluka, mereka tetap berkelahi.


Irene tak punya pilihan lain. Ia ikut maju dan menendang keduanya sampai perkelahian itu terhenti. Irene berhasil menumbangkan dua lelaki keras kepala itu.


"Sudah, berhenti!" teriak Irene. Ia jengah melihat apa yang terjadi.


Hamish dan Alan terdiam.


"Kak Hamish, tunggu aku di mobil. Biarkan aku dan dia bicara sebentar," kata Irene.


"Tidak bisa! Aku tidak mau!" Hamish tidak setuju dengan permintaan Irene.


"Kita akan lebih lama di sini dan mungkin aku tidak jadi pergi," ancam Irene.


Akhirnya Hamish mengalah. Ia mengajak anak buahnya keluar seraya membawa barang-barang milik Irene.


Irene memandangi wajah Alan yang sedikit lebam. Ujung bibirnya juga terlihat berdarah.


Alan tak langsung bersuara. Ia menarik Irene ke dalam pelukannya. Hal itu membuat Indira dan semua yang melihat terkejut. Irene hanya terdiam dalam pelukan Hamish.


"Maafkan aku," kata Alan dengan nada lirih yang masih bisa didengar oleh Irene. "Aku salah, aku menyesal. Maafkan aku," ucapnya lagi.


"Irene, jangan pergi. Aku yang salah, jangan tinggalkan aku."


Ucapan Alan membuat Irene terharu. Rasa sakit hati yang pernah ia dapatkan saat tiba-tiba diusir dari sana seketika luluh. Ia masih mencintai lelaki yang kini tengah memeluknya dengan hangat.


"Maafkan kebodohanku, Irene. Jangan pergi dari sini. Aku sangat mencintaimu."


Alan terus berusaha membujuk Irene agar tetap bertahan di sana. Ia benar-benar menyampaikan penyesalannya yang telah menyalahkan dan mengusir Irene dari rumahnya.


"Alan, hentikan kekonyolan ini! Biarkan saja orang berbahaya seperti mereka segera pergi!" sahut Indira.


Ucapan ibu Alan seketika menyadarkan Irene bahwa di sana tetap ada yang tidak menyukai keberadaannya. Meskipun Alan masih mencintainya, namun ia tak ingin membuat lelaki itu bimbang. Jika mereka tetap bersama, akan ada pihak yang tersakiti di sana.

__ADS_1


Irene melepaskan pelukan Alan. "Maaf, aku harus pergi," katanya.


Alan masih tak rela wanita itu pergi darinya. "Ren," rajuk Alan.


"Aku sudah memutuskan untuk pergi dari sini. Terima kasih untuk segalanya selama ini," kata Irene.


Alan tak bisa lagi menghentikan Irene. Itu sudah keputusan Irene sendiri. Mungkin itu juga balasan karena ia pernah menyakiti Irene. Kini, ia merasakan betapa sakitnya kehilangan wanita yang tenyata dicintainya itu.


Hamish tersenyum lega saat melihat Irene kembali ke dalam mobilnya.


"Apa urusannya sudah selesai?" tanya Hamish.


"Sudah," jawab Irene dengan nada lemas.


Hamish memberi kode kepada anak buahnya untuk menjalankan mobil yang membawa mereka. Anak buah Hamish yang lain mengikuti dengan dua mobil di belakang. Perlahan mobil mereka berjalan keluar meninggalkan kediaman keluarga Narendra.


"Kita akan pergi ke Eropa besok," kata Hamish.


"Sebelum pergi aku ingin menemui kakek dan nenek dulu," pinta Irene.


"Untuk apa? Itu hanya akan membuang-buang waktu," ujar Hamish.


"Kalau memang Kakak tidak mau, aku bisa pergi sendiri."


Irene memang selalu keras kepala. Hamish terpaksa mengalah. Ia meraih kepala Irene agar bersandar padanya.


"Baiklah, besok kita akan ke tempat mereka lebih dulu," kata Hamish.


Irene tak hanya sekedar ingin bertemu dengan kakek neneknya. Ia ingin memastikan bahwa mereka baik-baik saja. Ia takut Hamish telah melakukan hal buruk kepada mereka.


Hamish menarik dagu Irene menghadap kepadanya. Ia mendekatkan wajah berniat mengajak wanita itu berciuman. Irene meletakkan telapak tangan pada mulut Hamish sebagai tanda penolakannya.


"Kenapa tidak boleh? Kita sudah melakukannya kemarin."


Hamish menyingkirkan tangan Irene darinya. Ia mendaratkan bibirnya di atas bibir wanita yang begitu dicintainya.


Bibir Irene terasa hampa seperti perasaan yang tengah dirasakannya. Hamish tak peduli sekalipun Irene tak berusaha membalas ciumannya. Ia terus berusaha memberi pagutan mesra memaksa Irene untuk mengimbanginya.

__ADS_1


Irene tak merasakan perasaan apapun. Sekedar debaran di hatinya juga tidak ada. Perasaannya begitu hampa. Ia bahkan seperti tengah melakukan sebuah perbuatan dosa dengan saudaranya sendiri.


Pikirannya terus dipenuhi oleh bayangan Alan. Sosok lelaki yang terakhir kali ia lihat itu masih terngiang-ngiang di kepalanya. Dengan wajah sendu lelaki itu memohon agar dia tidak meninggalkannya. Namun, ia tak punya pilihan selain menuruti kemauan sepupunya. Kalau tidak, keselamatan kakek dan neneknya akan terancam.


__ADS_2