Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 39: Sumber Inspirasi


__ADS_3

Irene keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah cukup rapi mengenakan celana jeans dan hoodie kesukaannya. Ia menggendong tas kecil di punggung berisi beberapa peralatan yang mungkin nantinya bisa berguna saat di luar. Ia menghampiri kamar Ares yang ada di sebelahnya.


Tok tok tok


"Ares ... ayo pergi!" seru Irene di depan kamar Ares. Beberapa saat menunggu, tidak ada jawaban. "Ares ... cepat keluar!" sekali lagi Irene berkata dengan nada yang ditinggikan. Pintu di hadapannya tetap tertutup dan tidak ada tanda-tanda akan dibuka.


"Woy! Ares! Buka pintunya!" Kesabaran Irene habis, ia berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar Ares.


"Ares! Kebo! Bangun ...."


"Berisik!"


Irene terlonjak kaget mendengar seruan dari kamar sebelah. Arvy, dengan muka bantalnya dan rambut acak-acakan melongok dari balik pintu kamarnya setelah mendengar suara berisik dari luar. Ia emosi karena belum puas tidur tapi ada yang mengganggunya. Dini hari ia baru pulang syuting dan belum lama tidur. Ia sangat lelah dan mengantuk. Suara teriakan Irene sejak tadi mengusik tidur indahnya.


"Kamu pikir ini hutan?" Arvy memarahi Irene.


"Maaf, Kak. Ares sejak tadi tidak menyahut.


"Biasanya dia sedang renang di halaman belakang. Pergi sana! Mengganggu saja. Awas kalau berisik lagi."


Brak!


Arvy menutup pintu kamarnya dengan kencang. Sekali lagi Irene kaget. Akhirnya, Irene memutuskan untuk turun dan mencari Ares di bawah.


"Irene ... kesini sebentar!" panggil Alfa saat melihat Irene berjalan melewati area ruang tengah.


"Kenapa, Kak?" Irene yang awalnya ingin menuju taman belakang rumah berbelok menghampiri Alfa yang sedang duduk di ruang tengah.


"Duduk sini!" Alfa menepuk sofa di sebelahnya.


Irene mengikuti kemauan Alfa. Ia duduk di sana memperhatikan lembaran kertas yang berceceran di atas meja. Isinya desain pakaian yang mungkin sedang dirancang oleh Alfa.


"Aku sedang mempersiapkan pameran pertengahan tahun ini. Bantu aku mengomentari desain-desain yang aku buat sebelum dieksekusi."


"Yakin, Kak Alfa tidak bertanya ke orang yang salah?" Irene keheranan. Biasanya Alfa yang paling sering mengomentari penampilannya. Bahkan dia pernah diejek kampungan.


Alfa tertawa mendengar ucapan Irene. Memang, awal-awal melihat penampilan wanita itu, ia selalu emosi dan ingin mendandaninya. Acara fashion show yang diadakan oleh sahabatnya waktu itu mengubah penilaiannya. Irene ternyata tetap bisa tampil menawan dengan apa adanya.


"Bertemu denganmu setiap hari malah membuat aku terinspirasi untuk menjadikanmu sebagai tema pameran busanaku tahun ini."


Irene mengerutkan dahi. "Aku? Jadi tema fashion show?"

__ADS_1


Alfa mengangguk. "Sepertinya menarik juga untuk mengangkat penampilan serta gaya berpakaian orang desa agar menjadi trend yang populer di kota besar. Sejauh ini belum ada yang mengangkat konsep ini."


"Tapi aku tidak berasal dari desa, Kak. Aku dari Jakarta."


"Ya, aku tahu. Tapi kamu seperti orang yang baru keluar dari gua sampai penampilanmu tidak mengikuti perkembangan zaman."


"Jadi, menurut Kak Alfa, penampilanku selama ini keren?"


"Tidak juga ... penampilanmu masih seperti gembel," ejek Alfa.


Irene berdecih.


"Aku sudah memodifikasi beberapa style yang sering kamu gunakan disesuaikan dengan gaya rambut yang sesuai. Coba kamu lihat satu per satu."


Alfa memberikan beberapa lembar hasil desain buatannya kepada Irene. Wanita itu tampak fokus memperhatikan detail yang digambarkan. Memang benar, Alfa menjadikan gaya berbusananya selama ini menjadi rancangan desain baru yang jauh lebih bagus dan modis.


"Kalau kamu mau dandan dan berpakaian sedikit rapi seperti waktu itu, sebenarnya kamu bisa kelihatan cantik."


"Aku bisa repot kalau banyak yang menyukaiku, Kak."


"Hahaha ... kamu memang selalu percaya diri. Tapi, aku suka dirimu yang seperti ini."


Alfa mengamati Irene yang sedang dalam mode serius. Ada sisi dalam dirinya yang begitu menarik sampai muncul rasa kagum. Bukan sekedar karena pernah melihatnya tampil cantik di atas catwalk, tetapi juga caranya yang cekatan dalam menangani permasalahan. Irene mampu mengubah bencana menjadi berkah.


"Aku rasa semuanya bagus."


Respon Irene membuyarkan lamunan Alfa. Entah apa yang dipikirkannya sampai terpesona dengan wanita yang biasa saja seperti dia.


"Kamu paling suka desain yang mana?" tanya Alfa.


Irene kembali membandingkan beberapa gambar yang ada di tangannya. "Aku rasa yang ini cocok Kak Alfa jadikan sebagai desain utama." Setelah beberapa saat berpikir, Irene akhirnya bisa menentukan pilihannya.


Ternyata pilihan Irene juga sama dengan apa yang ia pilih. "Kamu mau memakainya nanti?"


"Hah?" Irene tercengang merasa salah dengar.


"Aku akan membuat pakaian ini sesuai ukuran tubuhmu kalau kamu mau memakainya nanti."


Irene mengedip-ngedipkan mata, serasa tidak yakin kalau dirinya akan dijadikan sebagai salah seorang model Alfa nanti. "Yakin, Kak?"


"Kenapa, kamu tidak mau?"

__ADS_1


"Ya, bukan begitu. Bukannya aku terlalu pendek untuk menjadi model pakaian itu? Nanti acara Kak Alfa bisa rusak seperti acara teman Kakak itu."


"Tidak apa-apa, aku juga membuat rancangan ini karena terinspirasi darimu." Alfa mengembangkan senyum.


"Irene ... ayo! Jadi, nggak?" tanya Ares yang muncul dari arah belakang.


"Jadi ...," jawab Irene.


"Ya sudah, ayo berangkat!" seru Ares.


"Memangnya kalian mau kemana? Katanya nggak ada jadwal kuliah ...." Padahal Alfa masih ingin berdiskusi panjang dengan Irene, Ares justru datang mengganggu obrolan mereka.


"Kita mau main ke kantor Kak Alex."


Alfa mengernyitkan dahi. "Kamu yakin? Kak Alex biasanya tidak mau diganggu saat kerja."


"Dia yang meminta kami datang, katanya kami boleh main-main ke sana asal tidak membuat kerusuhan."


Alfa merasa khawatir takut adik bungsunya membuat masalah di sana. "Kenapa tidak ikut ke kantorku saja? Takutnya kamu kena marah di sana."


"Aku tidak bisa menggambar, tidak bisa memotong kain."


"Memangnya di kantorku pekerjaannya hanya itu? Kamu pikir kantorku tidak butuh staf HRD, staf keuangan, pemasaran, produksi ... sialan!" Alfa selalu kesal kalau dikira pekerjaannya hanya sebatas menjahit atau menggambar desain pakaian. Padahal, perusahaannya juga memproduksi pakaian jadi dengan brand yang dibangunnya sendiri.


"Tapi tidak sebesar perusahaan milik Kak Alex."


"Jangan bandingkan perusahaan yang sudah puluhan tahun berdiri dengan perusahaan milikku yang baru berdiri beberapa tahun." Alfa melirim tajam ke arah Ares.


"Kita pergi dulu, Kak. Ayo, Irene!"


Ares langsung berjalan ke arah bagasi tak mau lebih panjang berdebat dengan kakaknya. Irene juga menyusulnya setengah berlati ke arah bagasi rumah.


"Kita mau naik motor?" tanya Irene saat Ares memberinya sebuah helm.


"Memangnya ada orang naik mobil pakai motor?" Ares sudah duduk di atas motor sport berwarna biru miliknya.


Irene mengalah. Ia mengenakan helm yang diberikan oleh Ares lalu naik di jok belakang Ares. Tangannya diulurkan memeluk pinggang Ares. "Aku sudah siap," ucapnya.


Ares tersentak kaget saat ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Ia tidak menyangka Irene akan memeluknya di belakang. Ini pertama kalinya ia memboncengkan seseorang. Rasanya tidak nyaman, namun mau mengusir Irene dari jok belakang juga menggelikan. Ia sendiri yang memutuskan untuk naik motor demi menghindari kemacetan.


"Bensinnya habisa atau kamu memang tidak bisa naik motor?" tanya Irene yang kesal menunggu motor Ares tidak kunjung melaju.

__ADS_1


"Iya, iya ... cerewet!" Ares berusaha mengabaikan perasaan anehnya. Ia menyalakan mesin motornya lalu melajukannya keluar dari garasi rumah.


__ADS_2