
Vito, yang duduk di kursi roda, memandangi Alex dengan ekspresi campuran antara rasa lega dan penyesalan. Mereka berdua berada di ruang keluarga, suasana hening di antara mereka. Alfa dan Ares tampak tegang dan kesal di sudut ruangan.
Vito memandang Alex dengan tulus. "Alex, Papa harap kau tahu bahwa aku memutuskan untuk membebaskanmu bukan karena mengabaikan kesalahanmu. Papa melakukannya karena aku percaya bahwa setiap orang pantas mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki diri. Papa memohon kalian semua untuk memaafkannya dan memberinya kesempatan untuk memulai lagi."
Ares dengan nada tajam berkata, "Papa, ini tidak adil! Kak Alex menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa kakek. Bagaimana kita bisa memaafkannya begitu saja? Kak Alan pasti akan marah besar jika dia tahu!"
Ares sangat kesal melihat ayahnya tiba-tiba pulang membawa Alex ke rumah itu. Meskipun dulu hubungan mereka sangat baik, semenjak kematian kakek, Ares ikut membenci Alex. Apalagi ia tahu jika kakaknya itu berencana untuk menguasai seluruh harta keluarga untuk diri sendiri.
Alfa menimpali. "Betul, Pa. Bagaimana kita bisa melupakan apa yang telah dia lakukan? Kita semua merasakan rasa kehilangan yang mendalam karena ulahnya."
Alfa hanya kecewa dengan keputusan ayahnya. Bahkan putusan 5 tahun penjara yang ditentukan oleh pengadilan menurutnya masih kurang. Ia masih belum percaya jika Alex bisa berubah.
Vito memohon dengan suara lemah. "Papa tahu ini sulit untuk kalian terima. Tapi sebagai ayah, Papa mencoba melihat kesalahan dan penderitaan kita sebagai peluang untuk memperbaiki diri dan belajar mengampuni. Kita tidak bisa terus membawa dendam dan kebencian dalam hati kita, itu hanya akan memisahkan dan merusak keluarga kita lebih lanjut."
__ADS_1
Ares menghela napas. "Tapi, apa yang telah dilakukan Kak Alex membuatnya tidak pantas untuk dipercaya lagi! Aku tidak bisa berada di sini dan melihatnya bebas setelah apa yang telah dia lakukan!"
Alfa mengangguk. "Aku setuju dengan Ares. Aku tidak bisa menerima dia sekarang, Pa," katanya.
Vito memasang wajah memelas. "Jika itu keputusan kalian, aku tidak bisa memaksakan kalian untuk memaafkannya. Tapi ingatlah, keluarga adalah tentang kebersamaan dan dukungan. Aku berharap kalian akan melihat hati yang sebenarnya dari Alex, yang juga menyesal atas kesalahannya. Mungkin ini juga kesalahan Papa yang tidak mendampingi kalian tumbuh selama ini."
Vito sangat ingin memperbaiki hubungannya dengan anak-anak. Belasan tahun terpisah membuat mereka tak lagi ada kedekatan. Ia pernah melakukan kesalahan dan tak ingin keluarganya mengalami perpecahan.
"Kalau Papa tetap ingin Kak Alex ada di sini, sepertinya aku yang akan pergi dari sini," kata Ares.
"Ares! Tunggu!" panggil Alfa. Ia ikut beranjak dari tempatnya dan berlari mengejar adiknya.
Vito terdiam, hatinya sedih melihat kedua anaknya pergi dengan penuh kekecewaan. "Aku berharap suatu hari nanti mereka bisa melihat bahwa cinta dan pengampunan adalah yang paling penting dalam hidup ini," lirihnya.
__ADS_1
"Pa, biar aku tinggal di luar saja dari pada membuat keributan di rumah ini," kata Alex yang sejak tadi diam.
Ia sangat paham bahwa kedua adiknya tidak menyukai keberadaannya di sana. Jika Alan ada, pasti sang kakak juga akan menghajarnya.
Meskipun tak pernah bermaksud membunuh kakek, tapi Alex memang menjadi penyebab kematian kakek. Ia sangat menyesal dengan kejadian tersebut.
"Pa, aku pergi, ya," pamit Alex.
Vito meraih tangan Alex. "Jangan, kamu tetap tinggal di sini. Papa akan mencoba membicarakan hal ini lagi dengan saudara-saudaramu yang lain," ucapnya.
"Tapi, Pa ...."
Vito menggeleng. "Tidak ada tapi-tapian. Kamu sudah janji akan patuh pada Papa jika keluar dari penjara. Apapun yang terjadi, tetap berdiri di samping Papa," pintanya.
__ADS_1
Alex mengangguk setuju.
Dalam keheningan yang menyedihkan, Vito menyandarkan kepalanya pada kursi rodanya, membiarkan kesedihan dan harapannya terasa begitu berat di dalam dirinya. Ia tahu bahwa proses penyembuhan keluarga mereka tidak akan mudah, tetapi ia bersikeras untuk tetap percaya bahwa dengan waktu, hati mereka bisa mekar.