
Irene menunggu Alex menjemputnya di tepi jalan. Baru saja ia selesai berkonsultasi dengan dokter tentang masalah kulitnya, terpaksa ia kembali harus menyamar menjadi Irene Kampungan. Alex menghubunginya agar segera pulang karena ada urusan penting di rumah. Semalam, ia tidur di hotel setelah kabur dari Alan.
"Masuk!" pinta Alex dari dalam mobilnya saat menghampiri Irene.
Irene langsung masuk ke dalam mobil Alex, duduk di sampingnya.
"Ada apa, Kak?" tanya Irene penasaran. Tidak biasanya di rumah ada acara penting dan mendesak.
Alex hanya tersenyum. "Coba tebak? Aku rasa kamu akan dapat masalah kali ini."
Ucapan Alex semakin membuatnya penasaran. Mungkin saja perusahaan Alex sengaja memanggil polisi untuk mengusut kasus sebelumnya di kantor. Mereka sengaja menerima ia dan Ares bekerja di sana supaya bisa mengendalikan mereka.
Sepanjang perjalanan menuju mansion, ia terus over thinking terhadap perkataan Alex. Lelaki itu bukan tipe yang suka bercanda. Jika yang dia katakan kali ini ia akan mendapatkan masalah, berarti kemungkinannya bisa jadi benar.
"Sudah siap menikah belum? Sepertinya kali ini kamu tidak bisa lari lagi," ledek Alex sembari terus tersenyum.
Selama di jalan, sampai tiba di mansion, Alex tak henti-henti menggodanya dengan lelucon yang ia sendiri tidak mengerti. Ada apa di rumah?
"Sebenarnya kenapa, Kak?" tanya Irene penasaran.
"Kakek ada di sini."
Deg!
Irene menghentikan langkah. Rasanya ia tak sanggup lagi berjalan masuk melewati pintu utama itu. Jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Ia merasa khawatir bertemu mendadak dengan Kakek Narendra.
__ADS_1
"Kenapa, Irene? Jodohmu kan lelaki keren semua. Tidak usah takut. Kalau tidak ada yang mau, Kak Alex siap kok untuk Irene," goda Alex.
"Alex, berhenti menggoda Irene. Dia sudah ditunggu oleh Kakek." Tiba-tiba dari arah dalam ada Alan yang menyahut. Penampilannya begitu rapi mengenakan setelan jas dan kemeja sama seperti Alex. Irene jadi semakin khawatir kalau ia akan benar-benar dipaksa menikah.
"Irene, ikut aku! Kakek sudah menunggumu di ruang baca!" perintah Alan.
"Ah, iya, Kak!"
Irene terpaksa mengikuti kemauan Alan untuk bertemu sang kakek. Jantungnya semakin berdegup kencang saat jarak mereka ke ruang baca semakin dekat. Ia berusaha mengatur napas agar tetap bisa tenang menghadapi apa yang akan terjadi. Kalaupun ia akan dicaci atau diusir karena penampilannya, Irene akan menerimanya.
"Kakek, Irene sudah datang," ucap Alan.
Irene memandangke arah lelaki tua yang duduk di kursi ruang baca. Meskipun warna rambutnya telah memutih serta wajahnya dipenuhi keriput, aura ketampanan sang kakek masih tergambar jelas di wajah tua itu. Irene ingat pernah berjumpa dengan Kakek Narendra saat ia masih kecil.
Kakek Narendra tampak menterutkan dahi ketika melihat Irene seakan ada yang aneh dengan dirinya. Namun, hal itu berlangsung hanya sesaat karena Kakek Narendra kembali bersikap biasa. "Apa kabar, Irene? Lama tidak berjumpa." Kakek Narendra bertanya dengan seulas senyum di wajahnya, seolah tidak ada yang dipermasalahkan dari penampilan Irene.
"Hahaha ... kamu memang pandai memuji. Apa cucu-cucuku memperlakukanmu dengan baik di sini? Kamu tidak diganggu mereka, kan?"
"Tidak, Kakek. Mereka memperlakukan saya seperti keluarga sendiri. Saya sangat betah tinggal di sini," ucap Irene. Seandainya boleh, ia ingin mengadukan kelakuan cucu-cucunya terutama Arvy dan Ares yang sangat menyebalkan.
"Syukurlah. Aku senang mendengarnya. Kemarilah, duduk di sini! Ada masalah yang ingin aku bicarakan denganmu. Alan juga ke sini!"
Kakek memerintahkan keduanya duduk di hadapannya. Meskipun malas, terpaksa Alan menuruti kemampuan sang kakek. Usaha restorannya kembali diancam akan diambil alih jika tidak mau menurut. Alan dipaksa berpakaian rapi untuk ikut terlibat dalam masalah perusahaan. Padahal, ia sudah berlepas diri untuk menjauh dari konflik intern yang terjadi di peruasahaan.
"Kakek, sudah aku bilang tidak mau masuk perusahaan," keluh Alan.
__ADS_1
"Aku tidak meminta pendapatmu, Alan!" ancam sang kakek dengan tatapan mata tajamnya.
"Apa yang kakek lakukan, akan memperumit permasalahan keluarga besar kita. Om Januar dan Om Harris akan semakin membenci kami," ucap Alan. Sepulang dari luar negeri, sang kakek langsung merombak jajaran kepemimpinan di perusahaan. Ia ingin kelima cucunya yang menduduki puncak pimpinan tertinggi dalam perusahaan, bukan anak-anaknya yang lain.
"Mereka sudah kakek berikan perusahaan masing-masing. Kalau mereka masih serakah ingin menguasai perusahaan ayah kalian, aku tidak akan tinggal diam."
Alan hanya menghela napas. Sebenarnya tidak masalah kalau perusahaan itu menjadi milik pamannya. Kehidupan dia dan adik-adiknya bisa dikatakan sudah lebih dari cukup untuk hidup enak. Seandainya mereka ingin pensiun dini, kekayaan mereka bisa untuk bertahan sampai beberapa generasi ke depan.
"Irene, aku dengar kamu juga sudah mulai bekerja di perusahaan?" nada bicara kakek berubah lembut saat berbicara dengan Irene.
"Baru beberapa hari, Kakek. Itu juga sekedar perkenalan tentang lingkungan kantor supaya saya dan Ares terbiasa." Irene berbicara dengan canggung. "Sebelumnya saya dan Ares juga sempat membuat masalah di sana, jadi kami berdua selalu diawasi saat bekerja," lanjut Irene. Ia tidak sungkan mengungkapkan ganjalan dalam hatinya.
"Mereka berdua memang biang masalah, Kek. Kalau Irene dan Ares terus bersama, sudah pasti ada masalah." Alan ikut laporan tentang kelakuan adiknya dan Irene.
"Tidak apa-apa. Kakek senang kamu ikut mengurusi perusahaan. Apalagi Ares juga ikut denganmu. Namanya anak muda terkadang memang selalu punya rasa tertantang." Kakek kembali menyunggingkan senyum, membuat Irene semakin heran kenapa kakek tidak menanyakan sama sekali tentang penampilannya yang sangat jelek. Apalagi kakek terkesan membelanya.
"Keberadaan kakek di luar negeri salah satunya untuk membuka kerjasama import minyak mentah dari Iran. Kendalanya, sulit untuk menemukan penerjemah yang bisa berbahasa Persia. Alan, bantu kakek mencari seseorang yang kompeten untuk menjadi penerjemah."
Alan sudah menduga sang kakek akan merepotkannya. Ia memang lebih senang jika lelaki tua itu tetap berada di luar negeri. Setiap kali pulang, pasti akan merepotkan dirinya sebagai anak pertama. "Bukankah biasanya kerjasama ekspor impor menggunakan Bahasa Inggris?"
"Kakek hanya ingin lebih pasti saja dengan isi kerjasamanya jika menggunakan bahasa resmi mereka. Bisa kan kamu mencarikannya?"
Alan kembali menghela napas. Sepertinya selama sang kakek ada, ia akan kembali berkutat dengan pekerjaan di kantor dan meninggalkan dunia dapur yang disukainya. "Aku akan merekrut penerjemah terbaik untuk Kakek," jawab Alan dengan senyuman yang terpaksa.
"Bagus! Besok kalian berdua perlu ikut kakek ke kantor. Ada banyak hal yang perlu dibereskan selama aku pergi. Sepertinya semua kacau."
__ADS_1
"Bagaimana dengan Alex? Kenapa Kakek tidak ikut menyuruhnya duduk di sini bersama kita?"
"Alex sudah memiliki tugas yang sama seperti kalian. Jangan khawatir, kakek akan adil memberikan tugas kepada kalian semua." Sang kakek menyeringai. Ia paling hobi membuat cucu-cucunya kesusahan. Apalagi sekarang telah bertambah satu cucu perempuan yang membuatnya akan semakin betah tinggal di rumah.