
"Terima kasih ya, Ren, kamu sudah menemaniku mengunjungi Adila," kata Arvy saat mereka telah tiba di rumah.
Mereka menemani Adila sampai malam. Adila terlihat senang saat menghabiskan waktunya dengan Irene apalagi membahas tentang Hyena. Arvy yang biasanya sering diusir oleh Adila, tadi bisa lebih lama menghabiskan waktu dengan kekasihnya itu.
"Sama-sama, Kak," kata Irene.
"Besok-besok kamu ikut aku ke sana lagi, ya? Dia tidak galak kalau ada kamu," pinta Arvy.
"Aduh, aku dijadikan alasan agar Kak Arvy bisa bertemu Adila?" Irene memberikan lirikan mautnya.
"Mau bagaimana lagi? Dia tidak mau bertemu denganku. Katanya pusing kalau melihat aku."
"Ya, Kak Arvy memang tukang bikin pusing," gumam Irene dengan nada lirih.
"Apa tadi kamu bilang?" Arvy memasang wajah kesal karena bisa mendengar Irene menggerutu.
Irene melebarkan senyum. "Tidak, Kak ... Ampun ...," katanya.
"Awas kalau nanti kamu tidak mau menemaniku lagi!" ancam Arvy.
Irene berlari menghampiri seorang pelayan yang lewat. "Bi, Kak Alan sudah pulang apa belum?" tanyanya.
"Tuan Muda belum pulang, Nona. Beliau pergi ke luar kota untuk mengurus sesuatu," kata sang pelayan.
Wajah Irene berubah cemberut. Alan bahkan tak mengabarinya akan kemana.
"Kak Alan sudah menitipkanmu pada aku dan Ares. Kamu tidak usah bingung, kami yang akan mengantar kamu ke kampus," sahut Arvy.
"Memang Kak Alan kemana?" tanya Irene.
"Dia tidak memberitahuku. Tapi, katanya ada urusan penting. Kamu tanya saja kalau dia sudah pulang. Aku mau naik ke atas, mau tidur. Besok ada jadwal syuting. Apa kamu mau ikut?" ajak Arvy seraya berjalan ke arah lift.
Dengan muka cemberutnya, Irene berjalan mengikuti Arvy. Menurutnya hanya dia yang tidak dipamiti oleh Alan. Ia merasa sedikit kecewa.
Sesampainya di kamar, Irene merebahkan diri di atas ranjang dan mengambil ponselnya. Ia menghubungi Ron.
"Halo, Ron," sapanya.
"Iya, Nona. Apa ada yang perlu saya lakukan?"
"Aku ingin membuat acara fan meeting kecil-kecilan untuk penggemar Hyena. Apa kamu bisa memlngurusnya?" tanya Irene.
"Apa? Nona mau membongkar identitas sekarang?"
__ADS_1
"Tidak, tidak ... Aku akan pakai topeng selama fan meeting. Mereka kan penikmat suaraku, bukan visualku," kata Irene.
"Tapi, visual Anda juga sangat menjual, Nona. Anda bisa langsung terkenal dengan wajah cantik dan suara yang indah."
"Hahaha ... Aku tidak berniat sampai sejauh itu. Ada seorang penggemar Hyena yang ingin aku bahagiakan," kata Irene.
Ia teringat kembali tentang Adila dan Arvy. Setidaknya ia bisa menunjukkan bahwa dirinya benar-benar ada sebagai Hyena. Kalau boleh berharap lebih jauh, ia ingin Adila segera mendapatkan kembali ingatannya. Ia juga kasihan dengan Arvy walaupun sering membuatnya kesal.
"Tapi, saya tidak bisa menjamin jika identitas Anda akan tetap aman, Nona. Akan ada banyak orang yang datang dan mengabadikannya karena Hyena pernah viral. Biasanya juga ada yang bermain cocoklogi untuk membongkar identitas Anda."
"Itu tugasmu untuk melindungiku, Ron."
"Iya, Nona. Saya tahu. Tapi, identitas saya juga sudah diketahui oleh Big-O. Jadi, saya tidak akan muncul dalam fan meeting Anda. Saya akan menugaskan orang lain."
"Baiklah kalau memang harus seperti itu."
"Saya akan mengabari Anda satu minggu lagi. Semuanya akan saya handle dengan baik."
"Terima kasih, Ron."
Irene mematikan kembali sambungan teleponnya. Ia mengecek pesan masuk dan panggilan masuk. Sama sekali tak ada riwayat pesan dari Alan.
***
"Tentu saja ... Aku dapat lima. Aku mau datang dengan saudara-saudaraku."
"Uh, enaknya yang punya kenalan panitia ... Aku nggak kebagian tiketnya karena kalah cepat. Padahal aku penasaran banget mau lihat Hyena. Selama ini kan hanya bisa mendengar suaranya."
"Nanti ambil foto dan video yang banyak, ya! Kalau perlu live!"
"Hyena itu sok misterius, ya? Ada yang pernah berpikir tidak, tujuan sebenarnya apa kok sampai menyembunyikan identitas segala?"
"Mungkin orang kaya kurang kerjaan."
"Ya, mungkin dia iseng."
"Pasti iseng, sih. Fan meeting saja gratis. Padahal kalau bayar juga banyak yang mau."
"Eh, banyak loh, yang sudah dapat tiket gratisnya tapi dijual lagi di internet."
"Menurutku orang seperti itu gila sih. Padahal sudah beruntung dapat undangan tapi malah dijual ke orang lain."
Irene mendengarkan percakapan teman kampusnya saat perkuliahan baru saja selesai. Ia memasukkan kembali peralatan menulisnya ke dalan tas.
__ADS_1
Irene mengambil teleponnya saat berada di area yang dirasa aman. Ia kembali menghubungi Ron.
"Halo, Nona?"
"Sudah kamu persiapkan semuanya?" tanya Irene.
"Sudah, Nona. Sambutan orang-orang juga aku lihat bagus. Mereka tidak sabar untuk bertemu dengan Anda."
"Kamu yakin sudah memberikan tiket kepada orang yang tepat? Aku dengar ada yang dapat tiket dari staf panitia?"
"Ah, itu ...."
"Undur saja acaranya dan batalkan tiket yang sudah terlanjur beredar!"
"Tapi, Nona ...."
"Bilang saja Hyena hanya mau bertemu dengan orang yang benar-benar menyukainya."
"Nona ...."
"Beri tahu lokasi fan meeting kalau sudah beres semuanya. Lakukan dengan baik!" perintahnya.
Hyena merasa agak kesal dengan pekerjaan Ron. Ia tak mau acara yang ingin dibuat untuk fans sesungguhnya tidak tepat sasaran. Apalagi ada orang dalam panitia yang berani membocorkan informasi.
Saat tiba di gerbang depan kampus, langkah Irene terhenti. Alan berdiri di sana dan tersenyum kepadanya.
"Ada apa dengan orang ini," gerutu Irene.
Ia tetap menghampiri Alan meskipun dengan perasaan kesal. Sudah satu minggu tak ada kabar dari lelaki itu.
"Nih!" Alan menyodorkan sebuah buket coklat.
Irene menyambarnya tanpa mengucap terima kasih. Ia langsumg membawa buket coklat itu ke dalam mobil dan duduk di sana.
Tak berselang lama, Alan menyusul masuk ke dalam mobil dan menjalankan kendaraannya.
"Kamu lagi marah?" tanya Alan.
"Apa itu penting? Antar aku ke tempat Kak Alfa!" jawab Irene dengan ketus.
Alan mengernyitkan dahi. "Kenapa kita harus ke sana?"
"Memangnya Kak Alan harus tahu? Anda sendiri selama seminggu pergi tidak mengabari bahkan tidak berpamitan sama sekali," omel Irene.
__ADS_1
Alan mengembangkan senyumannya. "Maaf ya, Sayang ... Aku ada urusan penting di tempat yang susah sinyalnya. Aku harap kamu bisa memakluminya."