Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 198


__ADS_3

Usai perkuliahan, Irene melihat Alan berdiri di dekat mobilnya dengan pose yang terlihat keren. Ada banyak orang yang baru saja keluar dari kampus. Ia rasanya ingin menghindari orang itu. Firasatnya agak tidak enak.


"Kenapa berhenti? Itu si Presdir bucin lagi nungguin tunangannya di depan gerbang kampus pasti. Buruan sana ditemuin sebelum banyak cewek-cewek yang ngajak kenalan," ledek Ares yang juga baru keluar dari ruang perkuliahan.


"Apaan sih!" Irene meninju lengan Ares.


"Irene!" terdengar seruan Alan sembari melambaikan ke arahnya.


Benar saja apa yang Irene pikirkan. Alan tak lagi peduli pada kondisi sekitar.


"Buruan sana!" Ares mendorong punggung Irene lalu pergi ke arah yang berbeda.


Irene menghampiri Alan sembari mencoba melangkah dengan tenang. Lelaki itu tersenyum lebar, menyodorkan buket bunga yang semula disembunyikan di balik badan. Ia menerima buket bunga itu.


Tanpa rasa sungkan, Alan memeluk Irene. Sontak puluhan pasang mata menjadikan mereka pusat perhatian.


"Sudah, Kak. Ini tempat umum. Aku malu," ucap Irene.


"Jadi, aku perlu membawamu ke tempat yang sepi untuk melakukan hal-hal yang memalukan?" seloroh Alan.


Keduanya masuk ke dalam mobil. Alan hendak membawa Irene ke mall seperti rencana mereka sebelumnya.


Alan terus menggandeng tangan Irene sejak keluar dari mobil. Mungkin Alan tak terlalu memperhatikan sekeliling, tapi Irene melihat mereka cukup menjadi pusat perhatian. Kurang lebih Irene bisa membaca pikiran mereka yang senyum-senyum melihat kebersamaan keduanya. Pasti banyak yang berasumsi jika mereka tidak cocok jalan berdua.


"Kita makan dulu, ya! Aku sengaja belum makan siang dari kantor supaya bisa makan denganmu," kata Alan.


"Oh, ayolah, Kak ... Bagaimana bisa ada gombalan seperti itu?" ejek Irene.


"Hahaha ... Apa yang aku katakan padamu itu bukan gombalan, tapi isi hatiku yang terdalam," ucap Alan.


Irene hanya bisa geleng-geleng kepala dengan perubahan sikap Alan sejak mereka bertunangan.


Alan mengajak Irene masuk ke sebuah restoran barat dan memesankan spaghetti. Sembari menunggu pesanana mereka datang, ia terus memandangi Irene dan membuat wanita itu semakin tersipu malu.


"Loh, Alan, kamu di sini?"


Seorang lelaki menghampiri Alan dan menyapanya.

__ADS_1


"Oh, Nathan. Kebetulan sekali bisa bertemu di sini." Alan tidak menyangka akan bertemu dengan lamanya di sana.


"Sedang apa di sini? Kamu mengajak pembantu jalan bareng?" tanyanya ketika melihat Irene ada di sana.


Aontak Irene menundukkan pandangannya. Alan terlihat emosi melihat seseorang telah berani menghina wanita yang dicintainya.


"Dia tunanganku, Nath. Sebentar lagi kita akan menikah," ucap Alan sembari menggenggam tangan Alan. Ia ingin menguatkan hati Irene bahwa ia ada di pihaknya.


"Serius? Dia tunanganmu? Hahaha ... Apa aku tidak salah dengar?" Nathan berbicara cukup keras sampai orang-orang di sekelilingnya menoleh.


"Kalau ini bercanda tidak lucu banget deh, Lan. Masa kamu jadikan wanita seperti ini sebagai tunangan? Itu kan mustahil," ujar Nathan.


"Dia memang tunanganku. Namanya Irene. Apa kamu ada masalah dengan itu?" tantang Alan.


"Hahaha ... Aku tidak ada masalah sih. Hanya saja menurutku ini lucu. Antara dua kemungkinan, wanita itu yang tidak tahu diri atau kamu yang sedang amnesia. Wanita itu harga diri seorang lelaki, Lan," kata Nathan. "Seingatku dulu seleramu masih waras. Di SMA juga kamu pernah mengejar-ngejar gadis tercantik di sekolah kita, kan? Kalau sekarang ... Masa lebih memilih wanita yang setara pelayan."


Ucapan Nathan sudah terdengar keterlaluan.


"Sudah, kamu jangan mendengarkan omongannya yang seperti sampah. Anggap saja itu gonggongan anjing yang akan mati karena rabies," kata Alan dengan nada lembut.


Irene menyunggingkan senyum. Ia memang sejak dahulu lempeng-lempeng saja jika ada yang menghinanya.


Brak!


Habis sudah kesabaran Hamish. Ia sampai menggebrak meja seraya menatap nyalang ke arah Nathan. Perbuatannya membuat takut pelayan yang hendak mengantarkan makanannya. Juga para pengunjung yang tengah makan di sana terganggu oleh keributan di antara mereka.


"Berani-beraninya kamu menghina calon istriku, calon Nyonya Alan Narendra? Sepertinya aku perlu mengambil alih perusahaan keluargamu dan membiarkan kalian jadi gelandangan mengemis di jalanan." Alan mengeratkan giginya. Ia terlihat serius dengan ucapannya.


Nathan sepertinya baru mengerti jika Alan tidak main-main. Nyalinya tiba-tiba menciut.


"Jangan seriua begitu, Lan, aku hanya bercanda. Itu terserah padamu sih mau berhubungan dengan siapa saja," kata Nathan dengan suara melembut.


Alan menyeringai. "Candaanmu sama sekali tidak lucu. Kamu telah menghina tunanganku dan aku tidak bisa memaafkannya."


"Ah, ayolah, jangan terbawa perasaan ... Aku minta maaf kalau begitu."


"Tanggalkan bajumu! Keluar dari mall ini tanpa pakaian baru aku maafkan," kata Alan.

__ADS_1


"Kak ...." Irene berdiri memegangi Alan. Ia berusaha menghentikan niat lelaki itu yang menurutnya sudah berlebihan. Apalagi ada banyak orang yang melihat ke arah mereka.


"Tenang saja, Irene. Dia memang suka menganggap semua hal sebagai candaan. Aku juga sekedar bercanda ingin melihatnya berjalan tanpa pakaian di tempat umum. Dia juga pasti akan mau melakukannya karena sudah tidak punya malu. Kalau dia tidak mau, akan aku pastikan dalam hitungan jam, perusahaan keluarganya akan bangkrut!" ancam Alan.


Alan memiliki pengaruh yang besar terhadap perusahaan keluarga Nathan. Satu kata saja Alan ucapkan terhadap perusahaannya, ia tahu akan menimbulkan masalah yang besar.


"Baiklah, aku akan mengikuti kemauanmu. Tolong, maafkan aku."


Nathan menanggalkan sifat angkuhnya. Ia melepaskan kaos dan celana jeans yang dikenakan menyisakan ****** ***** saja. Orang-orang di sana memperhatikannya sambil menahan tawa. Ia benar-benar merasa dipermalukan.


Sementara, Irene justru tidak tega melihatnya. Ia tidak menyangka Alan bisa melakukan hal sejauh itu demi membelanya.


"Ini pesanan kalian," kata sang pelayan setelah suasana kembali tenang. Nathan telah pergi dari sana.


"Kak, Kak Alan benar-benar tidak masalah dengan penampilanku ini?" tanya Irene. Ia merasa heran, Alan terus membelanya dari setiap kata-kata menyakitkan yang orang lain sampaikan.


"Memang kenapa dengan penampilanmu? Seperti apapun penampilanmu, kamu ya tetap kamu. Bagiku sama saja," kata Alan.


Irene menjadi semakin merasa bersalah. Ia rasa membawa penampilannya saat ini hanya akan membuat Alan menjadi terlihat rendah di mata orang lain.


"Kak, sebenarnya aku ...."


Belum sempat Irene menyelesaikan kata-katanya, ponsel miliknya berbunyi. Ada telepon masuk dengan nomor asing.


"Sebentar, Kak. Aku mau mengangkat telepon penting," kata Irene seraya pergi ke arah toilet.


"Halo?" sapa Irene.


"Ron ada bersamaku, Nona."


Terdengar suara berat dari seorang lelaki di seberang telepon.


"Sediakan uang tuga juta dollar jika kamu ingin temanmu ini baik-baik saja," ancam lelaki tersebut.


"Kamu siapa?" tanya Irene.


"Anda akan tahu saat kita bertemu, Nona. Datanglah sendiri ke XXX dan bawa uangnya. Aku bukan orang yang suka basa-basi," katanya.

__ADS_1


"Nona, Anda jangan datang, Nona. Saya mohon jangan datang!" teriak Ron.


Sebelum telepon dimatikan, Irene sempat mendengar suara Ron. Ia yakin lelaki itu tidak sedang bercanda.


__ADS_2