Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 277


__ADS_3

Alan dan Irene tiba di Cappadocia, sebuah daerah yang akhirnya dipilih sebagai destinasi romantis untuk bulan madu mereka. Keduanya tiba di pagi hari, saat matahari mulai naik di langit biru yang cerah. Udara segar dan sejuk menyambut mereka saat mereka menghirup napas pertama mereka di tempat itu.


"Aku yakin kamu juga pasti pernah ke sini," kata Alan sembari memeluk pinggang Irene.


Irene mengulaskan senyum. "Aku memang pernah ke sini. Tapi, ini pertama kalinya aku datang bersamamu. Seterusnya, akan menjadi pertama bagiku berdua denganmu," ucapnya.


Alan meleleh mendengarkan perkataan Irene. Ia sampai tak bisa menahan diri untuk memberikan kecupan kepada wanita itu meskipun di tempat umum.


"Kak! Nanti dilihat banyak orang lagi!" protes Irene.


"Hahaha ... Tenang saja, di sini tidak akan ada yang mengenal kita. Ayo!" ajak Alan.


Mereka menginap di sebuah hotel yang terletak di tengah-tengah pegunungan batu Cappadocia. Kamar mereka menghadap ke pemandangan yang memukau, dengan batu-batu raksasa yang menjulang tinggi dan langit yang cerah di kejauhan. Formasi batu unik yang disebut "fairy chimneys" dan balon udara panas yang melayang di langit menampilkan sebuah pemandangan yang begitu memukau.


Keduanya duduk di balkon kamar mereka, menikmati secangkir kopi hangat, sambil memeluk satu sama lain. Dunia terasa hanya milik mereka berdua saat ini.


"Pemandangannya sangat indah, apalagi ditemani wanita secantik dirimu," kata Alan dengan sedikit bumbu-bumbu gombalan.


Irene tersenyum penuh kebahagiaan.


"Apa kamu mau ke sana?" ajak Alan.


"Kita baru saja sampai. Bukankah lebih baik kita beristirahat dulu," Irene agaknya masih merasa malas untuk jalan-jalan.


"Ayolah, kita di sini memang untuk traveling, bukan malas-malasan."


Alan menarik Irene keluar dari kamar hotelnya. Setibanya di parkiran, ia mengajak sang istri menaiki sebuah mobil sport berwarna merah yang sudah lebih dulu ia persiapkan sebelum sampai di sana.


Baru kali ini Alan merasakan kebebasan tanpa memikirkan pekerjaannya. Ia mengemudikan mobil itu dengan kecepatan yang tinggi melewati jalanan yang tidak terlalu ramai.


"Sayang, kapan-kapan kita balapan," kata Alan sembari fokus memperhatikan jalan di depannya.


Irene hanya tersenyum. Ia teringat kembali momen balapan saat itu. "Boleh, tapi jangan sampai kecelakaan lagi," ucapnya.


"Apa kamu sedang menyindirku?" tanya Alan.

__ADS_1


"Aku hanya mengucapkan kenyataan."


"Itu karena ada sabotase. Kalau tidak ada, aku pasti sudah menang waktu itu," kata Alan dengan percaya diri.


"Benahkah?" ledek Irene.


Alan memicingkan sebelah alisnya. "Kita lihat saja nanti!"


Mobil yang Alan kemudikan berhenti di area perbukitan yang dipenuhi bebatuan.


"Silakan, Tuan. Balon udaranya telah kami persiapkan," sambut salah seorang petugas di sana yang menyambut kedatangan mereka.


Keduanya diarahkan menuju balon udara yang tengah diberi nyala api sehingga bisa mengembang dan siap membawa mereka terbang.


Alan dan Irene berpegangan tangan saat mereka naik ke dalam keranjang balon udara panas. Mereka duduk di dekat tepi keranjang, siap untuk menyaksikan pemandangan yang spektakuler di atas Cappadocia.


Saat balon udara panas mulai melayang, mereka terangkat perlahan-lahan ke udara. Mereka melihat pemandangan luar biasa di bawah mereka, dengan formasi batu yang menakjubkan dan lembah hijau yang membentang sejauh mata memandang.


"Ini pertama kalinya aku naik balon udara," kata Irene dengan prnuh rasa takjub ketika melihat pemandangan dari atas sana.


"Iya. Tempat yang pernah aku datangi itu Konya," jawab Irene.


"Oh, kota tua itu, yang ada Museum Mevlana?"


Irene mengangguk. "Aku juga pernah ke Blue Lagoon dan Topkapi Pallace."


Alan memeluk Irene dari belakang seraya menciumi ceruk leher wanita itu. "Ajak aku ke semua tempat yang pernah kamu datangi di negara ini. Aku ingin membuat semua kenanganmu selalu ada aku," katanya.


Irene hanya tersipu mendengar bisikan Alan barusan.


"Kamu impianku yang menjadi nyata, Irene. Ini adalah momen yang tidak akan pernah aku lupakan. Kita bersama di sini, menikmati keajaiban dunia ini," ucap Alan.


Mereka menikmati penerbangan mereka dengan penuh romansa dan keajaiban. Tangan mereka terjalin erat, hati mereka terhubung dalam harmoni yang indah. Keduanya merasakan kehangatan cinta di antara sejuknya udara di Cappadocia.


Setelah pulang dari pengalaman yang luar biasa di Cappadocia, Alan dan Irene memutuskan untuk melanjutkan momen romantis mereka dengan makan malam yang istimewa. Mereka memilih restoran dengan suasana yang intim dan pemandangan yang memukau.

__ADS_1


Restoran itu terletak di tepi pantai, dengan meja mereka ditempatkan di teras yang menghadap ke lautan yang tenang. Cahaya bulan purnama menerangi malam itu, menciptakan atmosfer yang romantis dan magis.


"Kamu suka tempatnya?" tanya Alan saat mereka sampai di sana.


Irene cukup terkejut dengan tempat yang dipilih oleh Alan. Tempatnya sangat indah.


Alan dan Irene duduk berhadap-hadapan di meja yang dihiasi dengan bunga-bunga segar dan lilin-lilin kecil yang menyala. Mereka saling tersenyum dengan tatapan penuh cinta, mengetahui bahwa saat ini mereka menikmati waktu yang berharga bersama.


"Selamat malam, Tuan dan Nyonya." Pelayan datang dengan ramah, menyambut mereka dengan senyum dan menu makan malam yang eksklusif.


"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Alan.


"Aku tidak tahu. Bagaimana kalau kita memesan semua menu yang spesial di sini?" usul Irene.


Alan mengangguk. "Baiklah," katanya. Ia menyampaikan keinginan Irene kepada pelayan tersebut.


Setelah menunggu beberapa saat, pesanan yang mereka inginkan akhirnya tiba.


Mereka menikmati setiap suap makanan dengan penuh kenikmatan, sambil saling berbagi cerita tentang perjalanan mereka dan kenangan indah di Cappadocia. Suara ombak yang lembut dan suara angin yang berdesir menambah sentuhan romantis dalam percakapan mereka.


"Ini rasanya seperti makan malam yang luar biasa seumur hidupku," kata Irene. Selain makanannya yang enak, ia juga merasa senang sepanjang liburannya kali ini.


Alan menggenggam tangan Irene dengan lembut. "Aku senang bisa memberikanmu momen-momen indah seperti ini, Irene. Kamu adalah segalanya bagiku, dan aku ingin membuatmu bahagia setiap saat."


Ketika mereka telah menyelesaikan hidangan utama mereka, musik lembut mulai mengalun di restoran itu. Pasangan-pasangan lain mulai berdansa dengan penuh kasih sayang. Alan dan Irene saling pandang, dan tanpa ragu, Alan mengulurkan tangan kepada Irene untuk menari.


"Apakah Nona mau berdansa denganku?" tanya Alan.


Irene meraih uluran tangan Alan. Mereka berdansa di bawah cahaya bulan, meliuk-lentuk dalam gerakan yang indah dan penuh kelembutan. Keduanya benar-benar terikat dalam keharmonisan mereka, seperti pasangan yang tak terpisahkan.


Di tengah-tengah tarian mereka, Alan mencium lembut bibir Irene, memperkuat cinta dan ikatan mereka yang kuat. Semua mata tertuju pada mereka, dan sorak-sorai kecil mengiringi momen mereka yang intim.


"Kak, sudah aku bilang jangan macam-macam di tempat umum," protes Irene dengan suara lirih. Wajahnya telah merah padam karena sorakan orang-orang.


"Santai saja, tidak ada yang mengenal kita di sini. Kenapa harus malu," goda Alan.

__ADS_1


Malam itu berlanjut dengan penuh kegembiraan dan cinta. Alan dan Irene menikmati setiap momen bersama, menunjukkan kasih sayang mereka dengan cara yang paling romantis dan tak terlupakan.


__ADS_2