
"Bagaimana, Nona? Mana mobil yang akan Anda gunakan untuk balapan?" tanya Jay yang berdiri di samping mobil Irene.
"Tentu saja aku akan membawa si Bumblebee ini," kata Irene merujuk pada mobil kuning yang sedang dinaikinya. Itu memang mobil kesayangannya yang dibelikan oleh Alberto untuknya.
Ponsel Irene bergetar. Muncul sebuah panggilan dari Hamish.
"Halo, Kak?" Irene mengangkat telepon dari Hamish.
"Kamu dimana?"
"Aku sedang memeriksa mobil yang akan aku pakai balapan besok di tempat Jay."
"Oh, begitu."
"Memangnya kenapa?" tanya Irene.
"Sepertinya aku tidak bisa menonton balapanmu. Ada urusan mendadak yang harus diselesaikan. Tapi, aku akan langsung kembali setelah urusanku selesai."
"Bukan urusan yang aneh-aneh kan, Kak?" telisik Irene.
Hamish terdiam di teleponnya.
"Aku tidak mau Kakak terlibat lagi dengan kelompok mafia manapun! Kak Hamish sudah janji akan berubah." Irene mengingatkan janji lelaki itu padanya setelah peristiwa penembakan di sirkuit waktu itu.
"Jaga diri baik-baik, Irene. Aku pergi sekarang!"
"Kak! Kak ...."
Ternyata Hamish telah memutus sambungan telepon. Irene jadi khawatir dengan apa yang lelaki itu akan lakukan.
"Jay, sepertinya aku harus kembali ke hotel sekarang. Cepat masuk!" perintahnya.
Jay langsung masuk mobil dan duduk di samping Irene. Wanita itu mengemudikan mobilnya dengan gesit sampai membuat Jay agak was-was dibuatnya.
"Nona, tolong jangan rusakkan mobil ini, nanti kalau penyok Anda tidak bisa ikut balapan," kata Jay sedikit takut dengan skill mengemudi Irene yang cukup mengerikan.
"Hahaha ... Aku sedang terburu-buru, maafkan aku!" Irene menambah kecepatan mobilnya. Ia memburu waktu untuk mencegah kepergian Hamish.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup menegangkan, akhirnya mereka sampai di basement parkir hotel. Keduanya langsung keluar dari mobil. Jay memegangi kepalanya yang masih sedikit pusing.
"Jay, kamu pergi lagi dan bawa mobilku." Irene menyerahkan kunci mobil kepada Jay. "Kita langsung ketemu saja di sirkuit saat balapan. Bersihkan lagi mobilku sampai kinclong!" perintah Irene.
"Baik, Nona. Semangat untuk balapan besok. Saya pamit dulu."
__ADS_1
Irene melanjutkan langkahnya menuju lift. Ia akan segera menemui Hamish dan meminta sepupunya untuk membatalkan rencana kepergiannya.
"Oh, kamu sudah kembali?"
Saat Irene sampai di lorong kamar hotelnya, kebetulan Alan baru saja keluar dari kamarnya.
Irene hanya tersenyum. Ia masuk ke kamar Hamish dengan menekan nomor kode pintunya.
"Kak ... Kakak ...." panggil Irene.
Kamar yang Hamish tempati terlihat sunyi dan kosong. Ia mencoba mengecek ke setiap ruangan yang ada di sana. Sepertinya ia sudah terlambat. Irene hanya bisa menghela napas.
Irene kembali keluar dari kamar Hamish dengan lesu.
"Aku lihat tadi siang dia juga pergi," kata Alan.
Irene memandangi Alan yang masih berdiri di depan pintu kamar seperti sudah bisa membaca apa yang tengah ia cari.
"Dia membawa kopernya. Ada beberapa orang lagi yang ikut pergi bersamanya," tambah Alan.
Irene semakin yakin jika sepupunya tengah menghadapi sesuatu yang serius. Biasanya, jika ia meminta sesuatu, Hamish tak akan menolaknya.
"Apa dia tidak memberi tahumu kalau akan pergi? Kamu kelihatan kebingungan sekarang," ucap Alan. Ia ikut khawatir dengan wanita yang dikenalnya sebagai Alenta.
Irene berjalan menuju kamarnya dan mengunci pintunya dari dalam. Ia tidak ingin terlihat aneh di hadapan Alan. Merasa penat dengan pikirannya sendiri, Irene memutuskan untuk mandi. Kucuran air yang segar membuat rasa lelahnya seakan hilang.
Tok tok tok
Baru saja ia menyelesaikan mandi dan berganti pakaian sudah ada yang mengetuk pintu kamarnya. Ia kira pelayan hotel, ternyata Alan yang berdiri di sana.
"Aku tadi membeli beberapa potong kue. Sepertinya tidak akan habis jika dimakan sendiri. Makanya aku ingin memberikannya padamu siapa tahu kamu akan suka," kata Alan.
Ia menyodorkan sekotak kue dan diberikan kepada Alenta. Dengan senang hati Irene menerimanya.
"Terima kasih," ucap Irene.
Pandangan Alan fokus pada punggung tangan Alenta. Ia melihat ada tahi lalat hitam di sana.
"Apa Bapak ada perlu lain?" tanya Irene melihat tingkah aneh Alan.
"Ah, tidak. Aku mau kembali ke kamar," pamitnya seolah tidak ada apa-apa.
***
__ADS_1
Ring ... Ring ... Ring ....
Ketika sedang terlelap tidur, alarm tanda bahaya hotel berbunyi. Irene terbangun dari tidurnya.
"Ada apa, ya?" gumamnya dengan kondisi yang masih mengantuk.
Duk duk duk
Pintu kamarnya seperti tengah digedor orang. Samar-samar ia mendentar kegaduhan dari arah luar.
"Apa ada yang mau berdemo?" gumamnya.
Dengan malas, Irene terpaksa menghampiri pintu dan membukanya. Betapa terkejutnya ia melihat Alan yang muncul di hadapannya.
"Alenta, cepat keluar! Ada kebakaran di hotel ini!" perintah Alan dengan nada tegas. Ia menarik tangan Irene agar keluar dari kamar. Orang-orang yang berlalu-lalang juga terlihat panik dan sada yang menjerit-jerit.
Lift tidak bisa difungsikan. Terpaksa mereka menyelamatkan diri lewat tangga darurat. Irene sempat terjatuh karena didorong seseorang. Alan membantunya berdiri dan memapahnya turun secara hati-hati lewat tangga darurat.
"Biarkan aku turun, Kak!" pinta Irene yang merasa malu sejak tadi digendong Alan.
Alan tertegun sejenak ia merasa ada yang janggal dari ucapan Alenta. Ia menurunkan Alenta dari gendongannya.
"Kok malah melamun? Ayo turun!" kini giliran Irene yang menarik tangan Alan agar ikut berlari bersama orang yang lain.
Setelah berhasil melewati ratusan anak tangga, akhirnya mereka bisa sampai di lobi bawah. Para penghuni hotel lainnya juga melakukan hal yang sama.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Alan.
"Iya, Pak. Saya baik--baik saja," jawab Irene sembari mengatur napasnya.
"Selamat malam bagi para pengunjung Hotel XXX."
Terdengar suara pengumuman dari pihak hotel.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanan yang Anda alami di hotel kami. Kami sampai saat ini masih berusaha untuk menjinakkan api."
"Akibat dari perisiwa kebakaran ini, beberapa kamar hangus terbakar. Syukur tidak ada korban jiwa dalam nasihat ini."
"Kami telah menyiapkan tempat tinggal baru sebagai kompensasi atas peristiwa ini. Sayangnya, jumlah kamar yang tersedia mungkin kurang mencukupi. Saya harap para pelanggan mau berbagi kamar dengan orang lain."
Pelanggan hotel yang ada di sana dan tercatat telah dibagikan kamar hotel pengganti. Tersisa Alan dan Alenta yang masih belum mendapatkan kompensasi.
"Maaf, kamar yang tersedia hanya sisa satu saja."
__ADS_1