
"Arvy, aku capek ...."
Adila merasa sudah tidak kuat dan ingin menyerah. Tenaganya sudah habis untuk berenang menuju ke tepian yang terasa sangat jauh.
"Sebentar lagi, Adila. Kamu pasti bisa," kata Arvy menyemangati. Dia juga sudah sangat kelelahan. Apalagi harus berjuang melawan arus laut yang cukup kuat.
Sampai pada akhirnya mereka bisa sampai di daratan terdekat. Keduanya terlihat sangat kelelahan sampai napas mereka memburu. Mereka terkapar di atas hamparan pasir yang luas di pinggir pantai.
Hari sudah mulai sore. Herannya, belum terlihat tanda-tanda kapal penyelamat yang mencari mereka. Arvy merasa kesal seolah tak ada yang peduli dengan mereka.
Perlahan Arvy bangkit berdiri. Ia menatap sekeliling. Mereka benar-benar berada di sebuah pulau terpencil yang sangat sepi. Pulau tersebut memiliki pepohonan yang cukup rimbun.
"Adila, kamu masih bisa bangun, kan? Ayo, kita cari tempat istirahat dulu," ajak Arvy.
"Arvy, sepertinya aku sudah tidak kuat bergerak," ucap Adila pasrah. Ia hanya bisa terbaring di sana. Kakinya tak ada tenaga lagi untuk digerakkan.
"Sebentar lagi malam. Kita harus cari tempat berlindung. Aku tidak yakin kalau bantuan akan segera tiba," ujar Arvy.
"Aku benar-benar sudah tidak kuat bergerak lagi, Arvy," kata Adila.
Arvy mendekati Adila. Wajah wanita itu memang semakin pucat dan bibirnya membiru. "Aku akan menggendongmu," katanya.
Segera Arvy mengangkat tubuh Adila ke dalam gendongannya. Menkipun ia sendiri sudah lelah, ia juga tidak tega melihat kondisi Adila.
Tangan Adila dilingkarkan ke leher Arvy, ia pasrah saja karena sudah tidak kuat melakukan apapun.
Arvy berjalan dengan kaki tel anjang menuju ke arah pulau. Semak belukar sesekali membuat kakinya terasa sakit. Belum lagi bebatuan yang seperti jarum mengenai permukaan kaki.
Ia terus berjalan ke dalam hutan berharap mendapatkan tempat yang nyaman untuk berlindung saat malam. Pasti ada banyak hewan liar yang siap memangsa jika mereka tidak waspada.
Tak begitu lama, terdengar gemericik air. Arvy yakin ada aliran sungai tak jauh dari tempatnya. Itu bisa membantu setidaknya untuk mengusir rasa haus.
"Kamu tidak lelah, Ar? Maafkan aku jadi bebanmu begini," ucap Adila merasa bersalah.
"Sudahlah, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Karena kita hanya berdua, maka harus bertahan sampai akhir," katanya.
Adila menyandarkan kepalanya pada pundak Arvy. Ia termenung memikirkan kebaikan Arvy selama ini. Ia benar-benar masih mencintai lelaki itu namun merasa tidak pantas untuk tetap bertahan di sisinya.
__ADS_1
"Oh, sepertinya itu ada gubuk!" kata Arvy kegirangan.
Ia mempercepat langkahnya menghampiri tempat tersebut.
"Ini pasti bekas buatan orang-orang yang suka camping di sini," ujar Arvy.
"Memangnya ad orang yang mau datang ke sini?" tanya Adila menatap ngeri tempat itu.
"Iya. Banyak yang suka camping di sini. Tapi kalau bukan musim ombak seperti sekarang," jawab Arvy.
Arvy membawa Adila masuk ke dalam gubuk itu. Tempatnya cukup luas dan masih terlihat belum lama ditinggalkan. Ada beberapa barang yang ditinggalkan di sana.
"Berbaring dulu di sini," kata Arvy seraya meletakkan Adila di atas dipan bambu yang ada di sana.
Ia melihat sekeliling, bahkan di sana ada perapian dan kayu bakar.
"Hatchi!"
Terdengar suara bersin Adila yang menarik perhatian Arvy. Ia yakin wanita itu tengah menggigil kedinginan.
Arvy melihat sekeliling mencari barang yang berguna. Ia menemukan kain panjang dan lebar yang dililit menjadi ayunan. Arvy melepaskan kain tersebut dan membawanya kepada Adila.
Permintaan Arvy membuat Adila tercengang. "Hah?" gumamnya heran.
"Pakaianmu basah. Lepaskan semuanya dan sementara tutupi tubuhmu dengan ini!" katanya sembari menyerahkan kain tersebut.
Adila tampak ragu memikirkan kain yang Arvy berikan tampak lusuh.
"Mungkin akan sedikit tidak nyaman. Tapi, gunakan dulu apa yang ada. Nanti aku akan membuat perapian dan mengeringkan lagi pakaianmu. Kalau kamu tidak melepaskannya, nanti kamu bisa sakit," ujar Arvy.
Adila masih menimbang saran Arvy.
"Ayo, Adila ... Kalau kamu sakit nanti tambah susah kita pergi dari sini," bujuk Arvy.
"Ya sudah! Kamu jangan lihat!" Adila meraih kain yang Arvy berikan.
Arvy langsung berbalik badan. Sementara di belakangnya, Adila sibuk melepaskan pakainnya.
__ADS_1
"Sudah," kata Adila setelah beberapa menit.
Arvy kembali berbalik. Dilihatnya Adila yang telah berselimut kain pemberiannya. Sementara, pakaian basah ada di samping Adila.
"Kamu sendiri bagaimana?" tanya Adila khawatir. Pakaian Arvy juga basah kuyup.
"Tidak usah khawatir, aku lebih kuat darimu," ujar Arvy.
Ia beralih ke area tungku dan menyiapkan kayu bakar. Ada pemantik yang tertinggal di sana. Tanpa menunggu lama, ia sudah bisa menyalakan api. Ia tata pakaian Adila di dekat perapian agar cepat kering. Ia juga sekalian menghangatkan tubuhnya di sana.
"Adila, aku mau keluar sebentar. Kamu tidak apa-apa kan, di sini sendiri?" tanya Arvy.
Sejak tadi Adila sebenarnya sudah takut. Di sana terlalu sepi tidak ada siapapun selain mereka berdua. Ia takut ada hantu.
"Aku mau mandi sebentar, nanti balik lagi ke sini," kata Arvy.
Adila terpaksa mengangguk.
Arvy segera pergi ke luar dari pondokan itu. Ia berjalan lurus menuju ke arah sungai yang tepat ada di depan pondokan itu. Ia tanggalkan semua pakaian dan menceburkan diri ke dalam air. Rasanya sangat segar dibandingkan berendam di air laut.
"Hah, apa di sini sama sekali tidak ada orang?" gumamnya sembari menikmati kesegaran sungai yang masih alami itu. Bahkan airnya sangat segar untuk diminum.
"Seumur hidup baru pertama kali aku harus susah seperti ini," ucapnya sembari membayangkan kehidupan mewah dan glamir yang biasa ia nikmati. Kini, tidak ada lagi pakaian bagus. Bahkan rumah saja hanya berupa gubuk buatan entah siapa.
Mata Arvy tiba-tiba menangkap gerakan ikan. Ia tiba-tiba merasa lapar. Ia ada ide untuk membuat ikan bakar.
Arvy mengendap-endap di belakang ikan yang ada di dekatnya. Ia berusaha menangkap meskipun beberapa kali percobaan gagal. Ia juga terpeleset bebatuan yang licin.
"Aduh! Susah sekali menangkap ikan!" gerutunya.
Bukan Arvy kalau gampang menyerah. Ia memiliki ide untuk membuat jebakan bendungan kecil di pinggir sungai. Ia berharap ada ikan yang akan masuk dalam jebakannya.
"Sembari menunggu, lanjut mandi, ah ...." katanya.
Arvy memilih bagian sungai yang agak dalam. Ia berenang-renang di sana seperti bermain di kolam renangnya sendiri. Ia juga mencuci bajunya yang ikut terendam oleh air laut. Setelah dirasa bersih, ia mengenakan kembali pakaian basahnya itu.
"Waktunya mengecek jebakan," ucapnya senang.
__ADS_1
Ia berjalan mendekati jebakan yang sebelumnya telah ia buat. Senyumannya mengembang lebar saat melihat beberapa ikan berukuran lumayan besar ada di sana.
"Inilah kemenanganku. Hahaha ...." Arvy merasa bangga telah berhasil mendapatkan ikan yang diinginkannya. Ia ambil batang rumput untuk mengikat insang ikan agar memudahkan ia membawa ikan itu kembali ke arah pondokan.