Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 317


__ADS_3

"Res, kok kamu begini terus aku lihat-lihat. Kayaknya nggak ada semangat hidup. Mau rokok?" tanya Timmy.


"Tidak, terima kasih!" Ares menyingkirkan rokok yang disodorkan padanya.


"Kenapa sih, Res? Kamu sudah selesai sidang loh, masih merengut terus," ujar Zoy. "Kita malah yang belum selesai bimbingan skripsi nggak lebih galau dari kamu."


"Apa pangeran kampus kita ini habis ditolak cewek, ya?" ledek Abhi.


Ares menjitak kepala temannya itu yang asal bicara. "Kalian bisa diam, nggak? Kalian yang minta aku datang nongkrong bareng, kalau masih berisik begini aku mau pulang!" katanya sembari mengambil ancang-ancang mau pergi.


"Eh, eh ... Jangan!" Tim kembali menarik Ares agar duduk. "Kalau kamu pergi, siapa yang bakal bayarin jajanan kita? Hahaha ...."


Ares hanya bisa geleng-geleng kepala dan menghela napas. Dimanapun ia berada, rasanya sangat membosankan. Bahkan di tempat balapan seperti sekarang.


"Aku jadi takut melihatmu begini. Jangan sampai kamu tiba-tiba punya niat bunuh diri, ya! Kalau ada masalah, bilang saja," nasihat Zoy.


"Wah, sialan! Kamu pikir aku sedang depresi?" Ares tidak menyangka temannya bisa punya pemikiran seperti itu.


"Ya, habisnya kamu sekarang apa-apa malas. Kita ajak main basket nggak mau, nongkrong kalau nggak dipaksa mana mau kamu datang. Main game juga sudah tidak pernah. Kita semua khawatir, tahu!" kata Zoy.


"Benar, Res. Kita khawatir kehilangan sosok pangeran kampus yang sempurna. Setidaknya kalau kita jalan bareng kamu, kita ikut jadi pusat perhatian kaum hawa," ujar Tim.


"Halah!"


Setelah Irene menikah, ia memang tak memiliki hasrat untuk melakukan apapun. Hidupnya jadi tidak semenarik dulu. Apalagi ia dengar Arvy juga mau menikah. Semakin dewasa ia semakin menyadari bahwa hidup tak selamanya bersama.


Saat kecil, Arvy selalu bersama saudara-saudaranya. Menginjak dewasa, minat mereka berbeda-beda dan sibuk dengan urusan masing-masing. Kakek sampai harus membuat perjodohan dengan Irene agar mereka bisa kembali tinggal bersama di rumah besar.


Kini, saat satu per satu dari kelima tuan muda menikah, mereka akan melepaskan diri dari keluarga besar Narendra, membangun keluarga kecil masing-masing. Ares masih belum siap menghadapinya.


"Res, balapannya sudah mau dimulai, tuh! Jadi mau ikut nggak?" tanya Tim saat melihat suara riuh dari arah tempat perkumpulan anak muda.


"Jadi. Tentu saja jadi, dong!" tiba-tiba Ares jadi bersemangat. Ia berdiri dan mengenakan helmnya.

__ADS_1


"Nah, asik nih, jagoan kita akhirnya mau beraksi. Ayo, kalahkan Fathir, Res!" kata Abhi memberi semangat.


"Lawannya bukan hanya Fathir. Kayaknya kali ini ada banyak yang ikutan deh. Anak-anak baru," ujar Zoy.


"Halah, paling juga mereka cuma jadi tim penggembira. Ayo, Res! Maju!" Abhi paling semangat memberi dukungan pada Ares.


Mereka berjalan mendampingi Ares menuju ke tempat balapan. Timmy memantu menyiapkan motor yang akan Ares gunakan untuk balapan.


"Ini, Res, pakai!" Zoy memberikan sarung tangan pada Ares.


Terlihat di sana ada Fathir dan teman-temannya menatap meremehkan ke arah Ares. Fathir tersenyum menyeringai sembari mengunyah permen karetnya. Ia menikmati pijatan yang diberikan salah satu anak buahnya.


"Jangan terpancing, Res, buktikan saja dengan hasil akhir!" bisik Abhy.


Ares mengangguk. Ia telah siap dan naik ke atas motornya.


Seorang wanita cantik berpakaian se ksi berdiri di tengah-tengah jalan membawa selembar kain. Seluruh peserta balapan mulai menyalakan mesin motor hingga menimbulkan kepulan asap tebal dan suara bising.


Saat kain itu dijatuhkan, semua peserta memacu laju motor dan berkompetisi menjadi yang tercepat. Suara sorak sorai penonton terdengar riuh dan meriah. Mereka menyemangati jagoan masing-masing.


Seperti biasa, Fathir dan Ares berada di barisan paling depan. Kali ini ada dua lainnya yang terus kejar-kejaran memperebutkan posisi pertama.


"Aku tidak akan membiarkanmu menang, Ares!" ucap Fathir. Ia mengemudikan motornya sengaja mepet dengan posisi Ares.


Ares lebih memilih menjauh dan menghindar. Ia tahu Fathir akan menggunakan cara curangnya untuk menang. Ia berencana mempertahankan posisi stabil lalu merebut posisi pertama di akhir.


Namun, sepertinya Fathir belum puas jika belum menumbangkan Ares. Ia terus berusaha menyulitkan pergerakan rivalnya itu.


"Ini orang kayaknya memang sengaja, ya!" kesal Ares. Sejak tadi ia berusaha untuk melakukan balapan secara sportif, namun Fathir menginginkan hal lain.


Motor mereka beberapa kali sempat bersenggolan. Fathir hendak menggunakan kakinya untuk menendang motor Ares namun meleset.


Dari arah depan, ada satu motor yang hampir mereka salib dalam kondisi saling pepet-pepetan. Motor itu turut bergabung dengan mereka. Tiba-tiba, motor itu terjatuh dan mengenai motor milik Fathir hingga ikut terjatuh.

__ADS_1


Ares berhasil lolos dari kejadian itu. Ia sekilas memelankan laju motor dan menoleh ke belakang. Kedua motor itu sama-sama terjatuh bersama pengemudinya. Tapi, kondisi mereka baik-baik saja. Fathir terlihat kesal dan menendang motornya sendiri.


Balapan belum selesai. Ares kembali mempercepat laju motornya dengan leluasa. Kali ini tidak ada yang menghalangi jalannya. Ia hanya harus menyusul satu pembalap lagi untuk jadi yang pertama.


Ares memberikan fokus penuh terhadap balapan itu. Semangatnya untuk berkompetisi mulai tumbuh kembali.


Sekian lama memacu motornya, sebentar lagi ia akan mencapai garis finish. Suara sorakan penonton terdengar riuh. Ia akhirnya bisa melewati garis finish.


Semua orang tampak gembira melihat kedatangannya. Ia disambut bagaikan seorang juara. Sekentara, Ares celingukan mencari pembalap yang seharusnya finish pertama.


"Ye ... Kamu melakukannya dengan sangat baik, Res!" ucap Zoy dengan girangnya.


Orang-orang mengerumini Ares seraya memberikan selamat.


"Selamat, Res, akhirnya kamu bisa juara ... Jangan lupa traktir kami!" seru Timmy.


"Hah, menang? Memangnya aku menang?" tanya Ares heran.


Abhi memukul kepala Ares. "Untuk apa kami sorak sorai menyambutmu kalau tidak menang, bodoh!" ucapnya.


"Lah, bukannya seharusnya ada satu pembalap yang finish duluan?" Ares semakin kebingungan. Ketiga temannya juga ikut bingung.


"Mana ada, Res? Kamu yang pertama sampai. Kamu yang menang," tegas Zoy.


"Iya, Res. Pembalap lain belum ada yang kelihatan," imbuh Timmy.


Beberapa saat kemudian, satu per satu pembalap sampai di garis finish. Fathir masih sangat kesal atas kekalahannya kali ini. Ia melepas helm lalu membantingnya keras. Ia juga menendangi motornya sendiri.


"Kenapa orang itu, Res? Kesurupan?" tanya Abhi heran.


"Tadi dia terus memepetku dan mau menjatuhkan aku. Tapi, dia sendiri yang terjatuh karena tabrakan. Makanya aku bisa melanjutkan balapan dengan mudah tanpa saingan. Aku kira tinggal mengejar posisi pertama."


"Tapi, tidak ada yang sampai di garis finish sebelum kamu, Res!"

__ADS_1


"Mungkin orangnya ketiduran," ujar Abhy.


__ADS_2