Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Kaya dari Batu


__ADS_3

"Berapa Anda berani menawar batu ini?" tanya Irene kepada wanita yang tampak tertarik dengan giok milik Alan.


"Bagaimana kalau delapan puluh juta?" kata wanita itu.


"Berapa katanya?" tanya Alan pada Irene. Ia sama sekali tak tahu apa yang mereka bicarakan. Berada di kota itu dengan bahasa asing yang tidak diketahui olehnya serasa ia tinggal di dunia asing.


"Katanya delapan puluh juta, Pak. Mau nggak?" tanya Irene.


"Hm, ya ... lumayan sih. Tapi, aku rasa ini masih bisa lebih tinggi. Kayaknya aku belum mau melepasnya kalau harganya segitu."


Irene sampai keheranan dengan Alan, diberi harg yang cukup tinggi saja dia tidak tergiur. Ia semakin ingin tahu mrmangnya batu semacam itu bisa laku sampai kisaran harga berapa. "Maaf, Nyonya. Kami belum bisa melepasnya untuk harga segitu," ucap Irene dengan senyuman terpaksanya.


Wanita yang merasa tertolak itu segera pergi meninggalkan Alan. Sepertinya ia merasa telah menawar dengan harga tertinggi namun pemiliknya belum mau melepaskan.


Alan terus menyuruh orang untuk membelah batu miliknya, memisahkan antara giok dan batu biasa. Bongkahan giok besar itu begitu bercahaya dan mempesona. Sangat cantik.


"Apa kalian ingin menjual batu giok ini?" seorang lelaki berpenampilan rapi memakai jas mendatangi tempat mereka.


Alan bertanya dengan isyarat apa yang lelaki itu katakan, meminta Irene menerjemahkannya.


"Dia bertanya apa Bapak ingin menjual batu itu, Pak."


"Oh, bilang saja iya. Kamu coba diskusi dengan dia!" Alan sibuk memperhatikan proses pembelahan batu giok agar tingkat kelecetan tidak parah.


"Benar, Tuan. Kami berminat menjual batu giok ini," jawab Irene kepada orang tersebut.


"Saya merupakan pengusaha perhiasan. Batu giok kalian sangat cantik, kualitasnya termasuk yang terbaik di dunia. Berapa kalian akan melepaskannya." tanya orang tersebut.


"Anda berani menawar berapa? Kalau harganya cocok, akan langsung kami lepaskan untuk Anda," ucap Irene.

__ADS_1


Lelaki itu turut berjongkok di sebelah Alan sembari memperhatikan. Ia benar-benar terpukau dengan kilauan giok tersebut. "Bagaimana kalau saya hargai lima ratus juga?"


"Apa?" Irene sampai berteriak dan mengundang oran-orang menoleh ke arahnya. Ia sangat terkejut dengan harga fantastis yang diajukan oleh pemilik usaha perhiasan tersebut.


"Kenapa?" tanya Alan heran.


"Pak ... dia menawar lima ratus juta!"


"Serius?" tanya Alan.


"Serius, Pak!"


Keduanya berpegangan tangan sambil melonjak-lonjak kegirangan seolah lupa kalau mereka bukan anak-anak lagi. Mereka saking girangnya mendapat rejeki nomplok hasil dari penjualan batu.


"Bagaimana ini? Apa kalian mau melepaskannya untukku?" pertanyaan dari orang pemilik perusahaan tersebut membuat mereka berhenti. Mereka sampai lupa kalau proses jual beli belum deal.


Alan dan irene tertawa riang gembira bisa menghasilkan banyak uang dari kegiatan main-main mereka. Sepanjang jalan menuju hotel, mereka terus tertawa membahas kembali tentang kekonyolan mereka bersusah payah mendapatkan batu keberuntungan tersebut. Seandainya batu terakhir itu tidak ada isinya, bisa dipastikan jika mereka akan pulang dengan keadaan lemas. Apalagi Alan telah mengeluarkan cukup banyak uang. Dengan terjualnya batu giok tersebut, setidaknya ia telah mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat.


"Pak, bagaimana cara memilih batu yang sekiranya ada giok, berlian, kristal, atau permata di dalamnya?" tanya Irene. Ia juga ingin mengikuti jejak Alan menghasilkan uang secara gampang hanya dengan main batu. Sepertinya pengalaman yang baru saja ia dapatkan cukup menarik untuk dicoba.


"Hal terpenting itu insting dan keberuntungan, Alenta. Aku juga tidak tahu pasti cara menentukannya yang mana. Kalau tidak beruntung, mungkin aku akan pulang tanpa hasil."


"Jangan bohong, Pak ... pasti ada trik tertentu." Irene meragukan jawaban Alan. Ia melihat sendiri dalam proses pembelian ada beberapa hal yang Alan lakukan sebelum memutuskan untuk membeli batu-batu itu. Ia melihat Alan memakai cahaya untuk menyinari batu, juga larutan cairan tertentu. Apalagi ia berhadil mendapatkan bongkahan besar giok berharga mahal itu.


Alan menyunggingkan senyuman. "Aku beri tahu satu hal padamu, sebenarnya aku sudah tahu kalau hanya satu batu terakhir yang ada nilainya."


Irene tercengang mendengar penjelasan Alan. "Lalu, kenapa Bapak membeli begitu banyak batu yang tidak ada nilainya? Bukankah Anda cukup membeli satu batu itu saja?" tanyanya.


Alan menggeleng. "Itu namanya strategi. Tujuannya supaya orang hanya menganggap kita sebagai orang yang beruntung saja, bukan ahli dalam perbatuan. Kalau mereka tahu kemampuan kita, bisa saja mereka akan terus mengikuti kemanapun kita pergi, mungkin mereka akan berusaha menculik kita untuk dijadikan anjing pelacak batu."

__ADS_1


Penjelasan Alan masuk akal juga. "Memang menyeramkan kalau ada orang yang mau memanfaatkan orang demi kepentingan pribadi."


"Makanya aku sengaja mengaburkan instingku supaya mereka tidak curiga."


Irene tidak menyangka jika Alan sehebat itu melakukan bisnis batu tersebut. "Pak, saya kan sudah banyak membantu Bapak melakukan penerjemahan."


"Kamu bukan membantu, tapi bekerja ...." Alan memotong ucapan Irene.


Irene memutar malas bola matanya. "Gantian ajari saya ilmu batu ya, Pak ...." Irene berusaha merayu Alan.


"Itu ilmu mahal ... kamu berani bayar berapa?" tantang Alan.


"Saya belum kaya, Pak! Mungkin kalau saya berhasil, Bapak akan saya bagi hasilnya 20%."


"Kecil banget. 70% bagaimana?"


Irene ternganga. "Bapak selain kaya juga jago memeras orang, ya! Bagi hasil macam apa itu? Ish ish ish ...." Ia geleng-geleng kepala.


"Hahaha ... ya sudah, kalau memang syaratnya terlalu berat, bagaimana kalau kamu mengajari saya Bahasa Persia sebagai gantinya? Nanti aku ajari cara memilih batu yang bagus."


"Kalau begitu, aku setuju, Pak! Kita sama-sama saling menguntungkan. Tapi, saya hanya bisa mengajari Bapak lewat daring."


"Kenapa? Bukannya lebih mudah jika belajar secara langsung?"


"Iya, sih. Tapi, saya juga sibuk dan tidak selalu bisa bertemu dengan Bapak. Sebaliknya juga Bapak pasti sibuk juga, kan? Masa CEO bisa santai."


"Ya, terserah kamu saja. Jangan kabur-kaburan lagi kalau sudah membuat kesepakatan seperti ini," ucap Alan.


***

__ADS_1


__ADS_2