Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 58: Teman Asrama Julid


__ADS_3

"Kita sudah sampai!"


Alan menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung yang akan menjadi tempat tinggal Irene selama pelatihan. Irene telah lolos seleksi komtetisi, sehingga harus mengikuti pelatihan sekaligus seleksi lanjutan untuk mendapatkan yang terbaik. Irene datang sebagai perwakilan dari kampusnya bersama Hansen yang terkenal jenius.


Irene menghela napas. Meskipun kurang berminat mengikuti kompetisi tersebut, sisi positifnya ia bisa tinggal jauh dari rumah Alan. Setidaknya ia akan lebih bebas dari pada bersama kelima tuan muda yang selalu membuatnya merasakan beban mental.


"Terima kasih, Kak. Sudah mengantarku," ucap Irene setelah turun dari mobilnya.


"Oke. Baik-baik kamu di sini. Semoga juga bisa menang!" Alan menepuk lembut kepala Irene.


"Aku ... masuk dulu." Irene segera berbalik meninggalkan Alan. Wajahnya memerah mendapat perlakuan seperti tadi. Serasa disemangati orang spesial dan membuatnya jadi berhasrat untuk menjadi juara.


"Halo, kenalkan, namaku Haru." seorang lelaki menghentikan langkah Irene.


"Ya, ada apa?" tanya Irene heran.


"Boleh aku meminta nomormu?" lelaki itu menyodorkan ponselnya, bersiap mengetik nomor ponsel Irene.


Irene mengerutkan dahi merasa heran. Ia saja tidak mengenalnya tapi berani meminta nomor teleponnya. "Maaf, ya. Aku tidak bisa memberikannya. Permisi!" Irene melewati lelaki iti begitu saja. Menurutnya, ia tidak perlu memberitahukan nomor ponsel kepada orang yang tidak dikenal.


Irene mencocokkan nomor kamar yang akan ditempatinya dengan nomor yang tertera pada gantungan kuncinya. Nomor 43. Saat ia membuka pintu kamar tersebut, ada dua wanita yang sudah lebih dulu berada di sana. Keduanya tampak memandang heran ke arah Irene, memperhatikan penampilan Irene dari atas hingga bawah.


Salah satu wanita yang berwajah angkuh menatap Irene dengan tatapan merendahkan. "Apa dia akan sekamar dengan kita? Kenapa panitia tidak membagi kamar dengan benar, Jeha?" gerutunya.


Irene mencoba mengabaikan ucapan teman sekamarnya itu. Ia tetap masuk ke dalam kamar, menata barang-barang yang dibawanya.


"Hal yang paling aku takutkan adalah sulit berkonsentrasi karena harus satu kamar dengan orang kampungan. Pasti cara pikirnya juga berbeda dengan kita yang biasa hidup di kota. Kamu setuju denganku kak?" tanyanya meminta dukungan.


"Kamu jangan begitu, Meera. Kita bisa berada di sini karena lolos seleksi yang sama," ucap wanita bernama Jeha itu.


Jeha mendekat ke arah Irene yang masih sibuk memasukkan baju-bajunya ke dalam lemari. Saat akan menaruh koper kosong ke atas lemari, sepertinya ia sedikit kesulitan.


"Boleh aku bantu?" Jeha menawarkan bantuannya. Irene agak terkejut wanita itu bersikap baik padanya, berbeda dengan yang bernama Meera. Sangat jelas terlihat Meera tidak menyukai kehadiran Irene di sana.


"Terima kasih." Dengan senang hati Irene menerima bantuan yang Jeha berikan. Keduanya mengangkat koper kosong itu untuk diletakkan di atas lemari. Sementara, Meera semakin merasa tidak suka kepada Irene.


"Ada satu lagi calon teman sekamar kita yang belum datang. Kalau tidak salah namanya Irene. Katanya, dia menjadi salah satu kandidat terbaik dalam kompetisi ini." Jeha membantu menata bantal di ranjang milik Irene.

__ADS_1


"Aku sangat kagum padanya. Setelah membaca makalah yang dibuat tentang riset investasi, aku sampai tercengang. Kok bisa, orang semuda dia menulis tentang hal itu dengan bahasa yang mudah dipahami. Aku tidak sabar bertemu dengannya dan ingin mengenalnya lebih jauh."


Irene menoleh ke arah Jeha. Ia tercengang. Sebenarnya orang yang sedang dibicarakan oleh Jeha adalah dirinya. Bisa-bisanya Jeha tidak tahu dengan orang yang sedang dipujinya.


'Apa nama Irene sangat tidak pantas disandang olehku?' gumamnya dalam hati.


"Tapi, aku rasa orang sehebat itu akan sulit diajak berteman," sahut Meera. "Kebanyakan orang yang cerdas memang menutup diri dari pergaulan. Aku rasa dia juga orang yang semacam itu."


"Kamu jangan berburuk sangka dulu, Meera. Siapa tahu dia orang yang baik," ucap Jeha.


"Oh! Sebentar lagi waktunya berkumpul, kan? Aku pergi ke kelas duluan, ya!" pamit Meera. "Kamu mau ikut aku sekarang?" tanyanya pada Jeha.


"Aku akan menyusul nanti setelah menyelesaikan ini," jawab Jeha.


"Oke!" Meera langsung menyambar tasnya dan meninggalkan kamar tersebut.


Sementara, Jeha masih membantu Irene membereskan barang-barangnya. "Oh, iya. Kita belum berkenalan. Namaku Jeha. Kalau kamu siapa?" Jeha mengulurkan tangannya.


Irene terdiam sejenak. Jarang ada orang yang mengajaknya kenalan lebih dulu. "Namaku Irene," ucapnya sembari menjabat tangan Jeha.


Kali ini giliran Jeha yang tercengang. Ia tidak menyangka peserta yang ia kagumi, yang sangat ingin ia temui, ternyata tepat berada di hadapannya.


Jeha tersenyum canggung. Ia jadi salah tingkah tan tidak enak hati telah membicarakan orang yang ada di hadapannya sendiri. Ia kira Irene pasti seorang wanita yang cantik dan fashionable, mengingat Irene mewakili kampus yang terkenal dengan mahasiswa yang suka adu outfit.


"Em, maaf, ya ... aku tidak tahu kalau ternyata kamu adalah Irene," ucapnya dengan ekspresi dungkan.


Irene mengulaskan senyum di bibir. Setidaknya ia juga tahu kalau Jeha orang yang baik, tetap mau membantunya meskipun belum tahu siapa dirinya. "Tidak apa-apa. Aku berterima kasih karena kamu telah membantuku berbenah."


"Aku benar-benar kagum dengan karyamu. Aku ingin berteman denganmu, Irene."


"Iya, aku juga senang mengenalmu. Semoga kita bisa menjadi teman baik ke depannya," ucap Irene.


"Bagaimana kalau kita pergi ke kelas sekarang?"


"Oke!"


Jeha menggandeng tangan Irene dengan raut wajah senang. Irene merasa terkesima ada yang bisa menerima dirinya dengan penampilan apa adanya di sana.

__ADS_1


Setibanya di ruang pertemuan, tampaknya semua peserta sudah hadir. Bahkan, pembimbing mereka yang bernama Ibu Hera sudah hadir di sana. Tatapan mata Irene bertemu dengan mata Hansen. Peserta yang berasal dari satu kampus dengannya juga ada di sana.


"Silakan matikan ponsel kalian, saya tidak ingin ada gangguan selama sesi ini berlangsung," seru Ibu Hera. Semua peserta menuruti perintahnya.


"Saya akan bagikan lembar kerja berisi masalah yang mungkin dihadapi dalam dunia bisnis. Silakan analisis sesuai dengan ilmu yang telah kalian dapatkan selama perkuliahan atau mungkin dari literatur yang pernah kalian baca." Ibu Hera mulai membagikan lembaran yang harus peserta jawab sesuai dengan pemahaman masing-masing.


Selama sesi latihan, ruangan tampak begitu hening. Tidak ada satupun dari mereka yang saling bertanya, semua fokus pada pekerjaannya. Irene juga sangat santai mengisi lembaran soal yang diterimanya sesuai apa yang ada di pikirannya. Sebenarnya ia ingin protes kenapa harus menjawab dengan cara menulis, padahal mereka bisa mengetik jawaban di laptop.


"Oke, wantunya sudah habis!" Ibu Hera memberi kode agar mereka meletakkan kembali alat tulis dan pekerjaannya di meja masing-masing.


"Kalian boleh kembali ke kamar masing-masing."


Satu per satu peserta kompetisi yang terpilih keluar dari ruang pertemuan, termasuk Irene dan Jeha yang memutuskan akan kembali ke kamar bersama.


"Bagaimana tadi? Apa menurutmu mudah?" tanya lelaki berkacamata kepada Hansen.


"Aku pikir setiap permasalahan ada banyak jenis solusi yang bisa diambil. Salah atau benar, sifatnya relatif. Mungkin jawaban yang dianggap benar jika resiko kegagalan dalam penerapannya rendah. Bahkan persoalan terakhir belum selesai aku kerjakan sampai akhir karena waktunya habis."


"Hm, kamu saja sepertinya tidak yakin, apalagi aku!"


Irene dan Jeha lebih dulu kembali ke kamar. Ternyata, di sana sudah ada teman sekamar terakhir mereka yang datang telat.


"Hai, namaku Winda. Apa aku sudah ketinggalan sesi bimbingan pertama?" tanyanya.


"Iya. Kegiatannya baru saja berakhir," ucap Jeha. Wanita bernama Winda awalnya ia kira adalah Irene.


"Boleh kita berkenalan? Namaku Winda!" Wanita itu mengulurkan tangannya kepada Jeha.


"Aku Jeha."


"Aku Irene," jawab Irene ketika tangan mereka berjabatan.


Winda langsung membuka mulutnya terkejut. "Kamu Irene?" tanyanya antusias. "Irene yang katanya jadi kandidat terbaik, kan?" tanyanya lagi seakan ingin memastikan.


"Kamu kaget juga, ya? Aku tadi juga tidak menyangka kalau akan sekamar dengan Irene," sahut Jeha.


"Ya Tuhan, aku tidak menyangka bisa satu kamar dengan peserta yang aku favoritkan ... mohon bantuannya, Suhu!" Wanda langsung bergelayut manja pada Irene.

__ADS_1


Irene tertawa kaku. Entah mengapa mereka berdua bisa menjadi penggemar dirinya. Padahal, ia juga tidak sengaja ikut kompetisi gara-gara dosennya.


__ADS_2