
"Kakek!"
Arvy dan Alfa datang terlambat langsung berbaur dengan saudaranya memeluk sang kakek. Mereka berlima sesenggukkan menangisi kepergian Kakek Narendra untuk selamanya.
Alan menjadi orang yang paling terpukul dengan kematian kakek. Ia terduduk lesu seperti orang linglung. Sementara, Irene menjadi yang paling histeris menangis di sana.
***
"Pak, Tuan Narendra meninggal."
"Apa?"
Alex yang tengah duduk di meja kerjanya tersentak mendengar kabar yang disampaikan asistennya.
"Kenapa Kakek bisa meninggal? Kakek sakit apa?" tanya Alex.
"Tuan Narendra ikut dalam mobil yang Pak Alan naiki."
Alex bagaikan disambar petir mendengar kabar yang begitu mengejutkan. Ia tak menyangka kakek akan secepat itu meninggal. Meskipun selama ini kakek selalu memperlakukannya dengan tidak adil, ia tak benar-benar membenci kakek.
Memang, ia yang telah merencanakan kecelakaan itu untuk Alan. Ia sangat ingin menyingkirkan Alan yang menurutnya telah menjadi batu sandungan bagi dirinya selama ini.
Ia sangat ingin membuktikan kepada kakek bahwa dirinya mampu menjadi yang lebih baik dari Alan dalam segala hal. Kenyataannya, kakek selalu mendahulukan Alan.
Kecelakaan yang terjadi saat balapan merupakan ulahnya. Ia sengaja menyuruh orang untuk menyabotase mobil yang Alan gunakan agar saudaranya itu kecelakaan. Sayangnya, rencananya gagal. Kali ini ia kembali menyuruh orang untuk membunuh Alan. Lagi-lagi, Alan berhasil selamat, justru kakek yang meninggal dalam kecelakaan itu.
__ADS_1
Tidak ada gunanya lagi hal yang selama ini ia lakukan. Ia hanya ingin membuktikan kemampuannya kepada kakek. Sekarang, kakek telah meninggal. Alex menangis menyesali kematian kakeknya.
"Alex ... Bang sat!"
Tiba-tiba Alan datang ke perusahaan Alex dan membuat kegaduhan. Ia dengan berani menyingkirkan orang-orang yang berusaha menghentikannya bertemu dengan Alex.
Asisten Alex mencoba menghalangi Alan agar tidak menyerang atasannya.
"Katakan, Alex ... Semua ini perbuatanmu, kan?" tanya Alan dengan nada geram.
Alex tertunduk dan terdiam.
"Alex ... Bajingan kamu!"
Alex diam saja tak membalas pukulan yang Alan berikan kepadanya. Sementara, Alan memukuli adiknya sembari menangis. Ia kembali teringat pesan kakeknya agar memperbaiki hubungan dengan adiknya itu. Pukulan yang Alan berikan lambat laun melemah.
Tak ada seorangpun yang berani mendekat dan melerai keduanya. Mereka hanya bisa menyaksikan dua bersaudara yang tengah berseteru.
"Puas kamu, Alex ... Sekarang Kakek sudah meninggal?"
Alan rasanya ingin menghajar Alex sampai mati. Di sisi lain, ia masih memikirkan bahwa lelaki yang ada di hadapannya itu adalah adiknya sendiri.
"Kenapa kamu tega melakukannya, Alex?" tanya Alan sembari berusaha menahan air matanya yang terus mengalir.
"Kenapa sampai akhir kakek masih saja melindungimu? Bahkan ia rela menggantikan posisimu untuk mati? Seharusnya kamu yang mati," ucap Alex.
__ADS_1
Plak!
Alan menampar keras pipi Alex. "Apa salahku sampai kamu berbuat sejauh ini? Aku menganggapmu sebagai adikku seperti yang lain!" ia berkata dengan nada meninggi.
Alex mengulaskan senyum. "Kamu memang tidak punya salah. Hanya posisimu yang salah. Kenapa harus kamu yang menjadi kakak? Kenapa bukan aku yang menjadi andalan kakek?"
"Kamu pikir menjadi seorang kakak itu mudah? Kamu tidak tahu seberapa besar tanggung jawab yang harus dipikul oleh anak yang dilabeli sebagai kakak!" Alan meluapkan emosinya.
"Aku anak yang paling harus mandiri dan mengalah sejak kecil karena memiliki tiga orang adik. Kedatanganmu sebagai anak ayah dari wanita lain juga semakin membuatku harus semakin bersabar. Sampai akhirnya mereka meninggal, kita harus tinggal dengan kakek. Kakek yang tidak terlalu menyukaimu, aku yang berusaha untuk tetap membuatmu nyaman bersama kami. Apa kamu lupa semua itu?"
Alex terdiam. Rasa cemburu terhadap kakaknya sendiri telah membutakan matanya akan perhatian yang selama ini Alan berikan padanya. Alan yang selalu membelanya ketika kakek memarahi dirinya lebih galak dari saudaranya yang lain.
"Aku tidak akan memaafkan perbuatanmu kali ini. Aku akan membawanya ke jalur hukum," kata Alan.
Alex tetap terdiam.
"Kalau kamu memang berniat melihat kakek untuk terakhir kalinya, datanglah ke rumah."
Setelah mengatakan hal itu, Alan beranjak pergi meninggalkan Alex. Kerumunan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu langsung membuka jalan membiarkan Alan lewat.
Sepeninggal Alan, enam orang polisi datang menemui Alex. Seperti yang Alan katakan, mereka akan meminta keterantan terkait kasus kecelakaan yang menimpa Alan dan kakek.
Alex yang sudah merasa terlalu berdosa tidak berusaha mengelak. "Biarkan aku datang ke persemayaman kakekku dulu," pinta Alex.
Pihak kepolisian menyetujui dan membawa Alex bersama mereka. Alex menenangkan anak buahnya yang tidak terima melihatnya ditangkap. Alex meminta mereka agar tidak perlu khawatir dan sementara mereka diminta menggantikannya di kantor.
__ADS_1