Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 290


__ADS_3

"Terima kasih, Sayang," kata Alan usai menuntaskan aktivitas bercinta mereka di pagi hari. Alan mengenakan kembali pakaian tidurnya yang berbentuk seperti kimono.


Irene masih terbaring lemas di atas ranjang. Menuruti kemauan suaminya benar-benar sangat melelahkan untuknya. Ia menjadi tidak berdaya. Rasanya tak ada kekuatan lagi untuk bergerak.


"Sayang, cepat mandi!" kata Irene.


"Iya, iya ...." Alan masih sibuk memandangi wajah cantik istrinya. Ia benar-benar tidak rela untuk mengalihkan pandangan sedetikpun dari Irene. "Kamu nanti pakai apron saja, ya, Sayang. Tidak usah pakai yang lain, aku mau lihat," katanya.


"Sayang, cepat mandi, nanti kamu telat ke kantor," kata Irene mengingatkan sembari melebarkan matanya. Ia merasa geli dengan ide aneh suaminya.


Alan tersenyum. "Iya, Sayang. Ini aku mau mandi. Apa kamu mau aku mandikan juga?" godanya.


Irene menggeleng. "Aku mau tiduran sebentar. Cepat kamu mandi sekarang!" kesalnya.


"Iya, iya ...."

__ADS_1


Alan berjalan menuju ke arah kamar mandi. Ia takut dimarahi oleh istrinya lagi.


Tak lama setelah Alan masuk ke kamar mandi, terdengar bunyi guyuran air. Pertanda bahwa sang suami sedang benar-benar mandi.


Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, Irene perlahan bangun dari ranjang. Ia memunguti dan mengenakan kembali pakaian yang sebelumnya Alan lepaskan. Saat mengenakannya, terlintas ide gila Alan. Ia mencoba menepisnya dan memakai pakaiannya secara sempurna.


Irene lantas kembari berpindah ke area dapur. Ia menata sarapan yang akan dimakan sang suami. Ia juga melanjutkan rencananya untuk mempersiapkan makam siang nanti.


Tiga puluh menit berlalu, Alan kembali keluar dari kamarnya. Kali ini ia sudah mengenakan pakaian rapi dengan jas dan dasi.


"Sayang, aku bilang kan tadi pakai apron saja. Kenapa pakai baju lagi?" protes Alan.


Alan mengalah. Ia duduk di ruang makan menghadapi piring berisi pancake di hadapannya. Ia bersama sang istri menikmati sarapan bersama.


"Sayang, kapan kita kembali ke rumah? Kita sudah tiga hari pulang dan belum mengabari semua orang," tanya Irene seraya menikmati hidangannya.

__ADS_1


"Itu masalah gampang. Nanti malam juga bisa. Di kantor aku juga paling akan bertemu Papa," kata Alan menggampangkan.


"Kalau besok malam aku tidak yakin," ujar Irene sembari melirik ke arah Alan.


Alan senyum-senyum melihatnya. "Kenapa, Sayang? Aku kan sudah bilang untuk tidak perlu memikirkan apa-apa. Kalau kita mau tetap di rumah, pasti dimaklumi karena kita pengantin baru," katanya.


Irene hanya mangguk-mangguk saja. "Hari ini mau ada rapat besar, ya? Papa kok sampai memintamu cepat-cepat pulang di tanggal ini. Pasti hal penting berkaitan dengan perusahaan, kan?" telisik Irene.


"Aku juga belum tahu, Sayang. Papa hanya menyuruhku pulang karena ada rapat," jawab Alan.


"Itu aneh, Kan? Papa tidak biasanya seperti itu," ujar Irene.


"Kamu tenang saja, Sayang. Semuanya pasti akan baik-baik saja," kata Alan memberikan jaminan.


Usai sarapan, Alan berpamitan. "Sayang, aku berangkat kerja dulu. Kamu baik-baik di rumah, fokus istirahat. Kalau ada perlu-perlu, hubungi aku saja."

__ADS_1


Irene mengangguk. Ia mengantarkan Alan sampai ke depan pintu. Keningnya dicium dan Alan segera pergi untuk bekerja.


Irene menghela napas. Ia kembali masuk ke dalam unit apartemen.


__ADS_2