
"Kita mau apa di sini?" tanya Irene.
Ia terlihat heran Alan mengajaknya ke sebuah tempat yang biasa untuk minum-minum. Sepertinya aneh kalau seorang Alan mau mengajaknya mabuk-mabukan di sana.
"Tentu saja bersenang-senang. Kamu pasti tidak pernah datang ke tempat seperti ini, kan?" tanya Alan.
Irene tidak menjawab. Tentu saja ia pernah, namun ia tidak suka dengan tempat semacam itu yang penuh kebisingan dan orang mabuk.
"Loh, kok ada Irene?" seru Arvy kaget.
Irene melihat Alfa dan arvy tengah duduk-duduk di sana sembari menikmati minumannya. Alan menarik tangannya agar mempercepat langkah menghampiri mereka.
"Kak Alan, kamu mengajak Irene?" tanya Alfa juga.
Alan mengangguk. "Boleh kan sesekali Irene ikut dengan kita? Dia sudah bukan anak kecil lagi kok," kata Alan santai.
Alan meminta Irene duduk di sampingnya bersama kedua adiknya.
"Irene, kamu bisa minum?" Alfa menawarkan vodka miliknya kepada Irene.
Irene menggeleng. "Aku mau moctail saja, Kak. Aku tidak biasa dengan minuman seperti itu," katanya.
"Oh, oke!"
Alfa memberikan kode memanggil pelayan lalu memintakan minuman yang Irene inginkan.
"Bagaimana kuliahmu?" tanya Alfa sembari meneguk minumannya.
"Lancar, Kak."
"Kalau libur sesekali ikut aku ke butik. Sudah lama juga rasanya tidak memakaimu sebagai modelku," kata Alfa.
"Serius Kak Alfa suka memakai dia sebagai model?" tanya Arvy dengan nada nyinyirnya.
"Memangnya kenapa? Irene sangat cantik kalau memakai gaun-gaun rancanganku," kata Alfa.
"Itu apa tidak merusak pasaranmu? Baju-baju Kakak tetap laku kalau modelnya dia?" ejek Arvy.
Irene berdecih dengan perkataan Arvy. Ia sangat ingin merobek mulut lemes lelaki itu.
"Sudah hentikan itu, Arvy. Kamu tidak boleh begitu kepada Irene," kata Alan. "Bagaimana kalau kita memainkan permainan saja?" tanyanya.
***
__ADS_1
"Hahaha ... Hahaha ...."
Irene tidak bisa menahan tawanya melihat penampilan Arvy. Lelaki itu kalah dalam permainan yang mereka mainkan sebelumnya sehingga harus menerima konsekuensi untuk memakai pakaian wanita. Sementara, Alan dan Alfa tampak menahan tawa agar tidak membuat Arvy marah.
"Awas kamu Irene! Lain kali kamu yang bakalan kena!" kesal Arvy.
"Apa? Kesal saja terus! Sini biar aku foto lalu aku upload supaya fans-mu tahu seperti apa Arvy Galaksi sebenarnya."
Irene hendak mengeluarkan ponsel untuk memotret, namun ditahan oleh Arvy.
"Jangan macam-macam!" ancam Arvy.
Irene mengurungkan niatnya.
"Sudahlah, kalian kenapa ribut lagi?" keluh Alan. Padahal permainan yang mereka lakukan cukup menyenangkan, namun tetap berakhir ribut antara Irene dan Arvy.
"Apa itu Kak Alex?" Alfa menujuk ke suatu arah.
Keributan antara Arvy dan Irene langsung terhenti. Perhatian mereka beralih pada Alex yang tampak tengah memeluk pinggang seorang wanita cantik dengan mesra.
Setelah sekian lama, mereka akhirnya bisa bertemu kembali dengan Alex, namun dengan sifat yang jauh berbeda dari sebelumnya. Alex hampir tidak mungkin mau bermesraan dengan wanita di tempat umum. Apalagi Alex tipikal lelaki yang tidak terlalu memikirkan tentang wanita.
"Apa aku telat?" tiba-tiba Ares datang saat mereka hendak pulang.
"Baru selesai mengerjakan tugas, Kak," jawab Ares. Ia melirik ke arah Irene. "Kalian mengajak dia juga?" tanyanya. Ia kira acara minum-minum hari ini hanya untuk mereka berempat saja.
"Aku yang tadi mengajaknya," kata Alan. "Irene sudah lama tinggal dengan kita, masa tidak kita ajak kumpul sesekali."
"Tumben kamu rajin, Res," ejek Arvy.
"Aku memang selalu rajin, Kak. Makanya mau kuliah," jawabnya.
"Sialan! Mau menyindirku, ya?" Arvy menoyor kepala Ares. Di antara saudara-saudaranya, memang hanya Arvy yang tidak berkuliah.
"Oh, itu Kak Alex sudsh berani go public, ya?" gumam Ares saat melihat kebersamaan kakak keduanya.
"Memangnya kamu kenal wanita yang bersama Kak Alex?" tanya Alfa.
"Kalau tidak salah namanya Calya, putri Tuan Hugo, pemilik perusahaan pengolahan baja. Aku sudah cukup lama mendengar desas-desus tentang hubungan mereka," jawab Ares.
"Kamu kecil-kecil sudah ikut jadi biang gosip!" seloroh Arvy seraya menoyor kepala Ares untuk kedua kalinya.
"Aduh! Kak Arvy kok hobi banget memukulku!" keluh Ares.
__ADS_1
"Kamu tahu dari mana tentang hubungan mereka, Res?" tanya Alan.
"Di kantor kadang ada yang bergosip membicarakan mereka, Kak. Katanya Kak Alex sedang mencari sumber dana dan koneksi untuk membesarkan perusahaan rintisannya. Makanya dia mendekati Nona Calya," kata Ares.
"Apa itu usahanya untuk membangun bisnis saingan Kak Alan? Kak Alex mencari gadis kaya dan berharap menjadi menantu pengusaha ternama itu?" gumam Alfa.
"Jangan terlalu ikut campur dengan hubungan mereka. Kak Alex kan sudah memutuskan untuk keluar dari rumah, dia bukan lagi bagian dari keluarga kita," kata Arvy.
Tanpa mereka sangka, ternyata Alex menyadari keberadaan mereka. Dengan senyuman mautnya, ia berjalan mengajak wanitanya mendekat ke arah mereka.
"Kak Alan mending antar Irene sekarang, deh! Aku merasa ada hal tidak menyenangkan yang akan terjadi. Lebih baik kita pulang saja," kata Alfa.
"Ayo kita pulang sekarang!" ajak Arvy.
"Tapi, aku kan baru sampai di sini," protes Ares.
"Kapan-kapan saja kita ke sini lagi," kata Arvy seraya menarik tangan Ares untuk pergi bersamanya.
Alfa, Arvy, dan Ares sudah lebih dahulu berhasil pergi. Namun, Alan dan Irene yang tengah berjalan menjauh justru didekati Alex.
"Ternyata kalian di sini juga," kata Alex. "Kebetulan bertemu kalian, aku ingin mengenalkan tunanganku, namanya Calya. Kami akan segera menikah," lanjutnya.
"Irene, tunggu aku di sini sebentar. Biar aku ambil mobil dulu," kata Alan. Ia bahkan tak peduli dengan keberadaan Alex di sana yang hendak memperkenalkan tunangannya.
Alex sedikit kesal dengan perlakuan Alan padanya. "Calya, kamu bisa kembali ke sana lagi. Aku mau berbicara dengan wanita ini sebentar," pintanya.
Calya menurut dan pergi meninggalkan Alex dan Irene.
Di sana, Irene tersenyum kaku. Ia merasa telah dijadikan tumbal oleh keempat lelaki itu.
"Tidak aku sangka akhirnya Kak Alan mau menjadikanmu pacarnya," kata Alex. "Kamu pakai cara apa sampai Kak Alan luluh? Apa dia sudah tahu seperti apa kamu yang sebenarnya?"
"Maaf, Kak. Tapi sepertinya itu bukan urusanmu," jawab Irene.
"Aku sudah mengingatkanmu untuk berhati-hati dengannya. Apa kamu kira ucapanku omong kosong? Jangan sampai kamu menyesal."
"Biar aku yang menentukan sendiri jalan hidupku, Kak. Sekalipun tidak sesuai harapan, aku tidak akan menyesal," kata Irene.
Tin! Tin!
Terdengar suara klakson mengganggu percakapan mereka. Ternyata Alan sudah selesai mengambil mobilnya.
"Maaf, Kak. Aku pamit pulang sekarang. Semoga Kakak bahagia," kata Irene seraya berlari ke arah mobil Alan.
__ADS_1
"Ah! Sial!" seru Alex kesal.