
"Ares, tunggu!"
Irene berlari dari dalam rumah menghampiri Ares yang hendak naik ke dalam mobilnya.
"Kenapa?" tanya Ares.
"Ikut!" ucap Irene.
Ares mengernyitkan dahi. "Bukannya hari ini giliran Kak Alan yang mengantarmu?" tanyanya.
"Dia tidak mau! Aku ikut kamu saja!" tanpa menunggu aba-aba diizinkan, Irene sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil Ares dan memasang sabuk pengamannya.
Ares hanya pasrah melihat kelakuan Irene. Ia ikut masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.
"Nanti kita ada di kelas yang sama, kan?" tanya Irene.
"Ya. Tapi, jangan sok kenal denganku nanti!" Ares memberikan peringatan.
"Hahaha ... Memangnya kenapa? Semua orang juga sudah tahu kan kalau kita cukup akrab."
"Sialnya begitu. Mereka jadi menganggapku gampang didekati gara-gara kamu!"
Ares mengutarakan kekesalannya. Beberapa kali ada kiriman surat dan kado yang datang untuknya lewat Irene. Ia tidak nyaman dengan hal itu. Beberapa orang sengaja memanfaatkan Irene demi bisa dekat dengannya.
Sesampainya di kampus, mereka memilih jalan terpisah untuk masuk kelas. Ares membiarkan Irene lebih dulu pergi sementara dirinya santai di mobil selama beberapa menit.
Setelah dirasa cukup, ia baru menyusul datang ke kelas. Saat ia masuk, kelas sudah mulai penuh karena pembelajaran akan segera dimulai. Ia memilih tempat duduk yang sedikit jauh dari Irene dan teman-temannya.
"Baiklah, hari ini kita akan mempelajari tentang manajemen sumber daya manusia dalam rangka mengoptimalkan kinerja perusahaan sehingga mampu meningkatkan omset dan profit yang diperoleh."
Dosen hari ini adalah Ibu Rieke. Ia mulai menjelaskan mata kuliah yang dibawanya di hadapan puluhan mahasiswa.
Irene melirik ke arah Ares. Lelaki itu tampak serius mendengarkan apa yang dosen sampaikan di depan kelas. Bahkan, ia mencatat hal-hal yang dianggap penting dalam buku.
"Kesurupan apa dia," gumam Irene lirih sembari menahan senyum. Ia bahagia melihat Ares yang berubah jadi anak rajin.
__ADS_1
Beberapa mahasiswi wanita di sekitar Ares tampak tidak bisa berkonsentrasi. Mereka sibuk memandangi Ares sembari sesekali mencuri-curi mengambil fotonya.
Biasanya Ares akan malas dan memilih keluar kelas. Kali ini ia berusaha mengabaikannya demi mengikuti perkuliahan.
"Ren, itu Kak Ares jadi begitu karena rajin belajar denganmu, ya?" tanya Bian berbisik.
"Memangnya Kak Ares jadi bagaimana?" tanya Irene pura-pura bodoh.
"Jadi rajin ikut kuliah. Itu dari tadi juga aktif menjawab pertanyaan dosen. Tambah fans aku yakin dia."
Dosen memang terlihat kagum dengan kehadiran Ares di kelasnya. Selain tampan, jawaban yang diberikan juga kritis dan penuh terobosan baru.
"Padahal dia paling benci kalau ada yang menyukainya," kataku.
"Yap! Dia selalu galak terutama pada adik kelas seperti kita. Tapi, mungkin kalau padamu beda perlakuan, ya ... Secara kamu tutor pribadinya."
Irene rasanya ingin membantah. Menjadi tutor Ares bukannya diperlakukan dengan baik tapi justru mereka sering bertengkar seperti biasa.
"Kapan-kapan aku ikut kalian belajar, ya!" pinta Bian.
"Ayolah, aku juga mau seperti Kak Ares." Bian merajuk.
"Aduh, dia bisa seperti itu karena memang pintar dan rajin belajar, bukan karena aku. Aku sendiri malas juga belajar, tahu!"
***
Irene terus memandangi jam pada layar ponselnya. Sudah hampur tiga puluh menit Alan belum datang menjemput. Ia sudah berusaha menghubungi, namun nomor Alan tidak aktif.
Senyumnya terkembang saat di ponselnya muncul telepon dari asisten Alan.
"Halo, Pak!" Irene mengangkat telepon itu dengan semangat.
"Nona Irene, sebelumnya saya mau meminta maaf."
Belum apa-apa sudah menerima permintaan maaf, ia yakin ada kabar tidak mengenakkan yang akan didengarnya.
__ADS_1
"Kenapa, Pak?"
"Pak Alan masih di ruang rapat, sepertinya tidak bisa datang untuk menjemput Anda."
Sudah Irene kira ini akan terjadi. "Ya sudah, tidak apa-apa! Aku bisa pulang sendiri."
"Saya benar-benar minta maaf, Nona."
Saking kesalnya, Irene langsung mematikan sambungan telepon itu.
"Kenapa masih di sini? Kak Alan mana?" Ares tiba-tiba datang dengan mobilnya.
"Masih rapat! Tidak bisa datang!" kesal Irene.
"Mau ikut aku nggak? Tapi aku mau ke perpustakaan dulu."
"Ikut!" sahut Irene tanpa berlama-lama.
Ia memang berencana menghilangkan rasa suntuknya. Pergi ke perpustakaan tidak terlalu buruk. Apalagi Ares biasanya mengajak ke perpustakaan pusat. Ada banyak buku bagus di sana.
Ternyata Ares tidak pergi ke perpustakaan melainkan ke pasar loak yang letaknya tak jauh dari perpustakaan pusat. Entah apa yang ingin Ares cari di sana.
Awalnya Irene merasa bosan. Namun, ketika ia menemukan sebuah buku lama yang selama ini ia cari-cari, semangatnya langsung kembali. Apalagi di sana bebas membaca sesukanya. Irene sampai mengambil satu per satu buku yang dimaunya. Rasanya seperti menemukan surga.
Irene membeli beberapa buku yang menarik baginya. Ia baca ditempat sembari menunggu Ares menyelesaiakan urusan di sana.
"Woi! Kamu mau menginap di sini?" teriak Ares.
"Kenapa sih? Ganggu saja!" keluh Irene yang sedang bersantai sambil membaca bukunya ditemani camilan dan minuman yang sebelumnya dia beli.
"Ini sudah mau malam, masih mau di sini?" tanya Ares kesal. Ia sejak tadi kebingungan mencari keberadaan Irene yang terpisah darinya. Ternyata wanita itu sedang bersantai di pojokan sambil membaca buku.
"Kamu sih kelamaan perginya, aku kan jadi bosan." Irene bangkit dan menata barang-barangnya.
"Kelamaan apanya? Dari tadi aku sudah selesai dan berkeliling mencarimu! Kamu aku suruh mengikuti dibelakang malah pergi sendiri. Merepotkan saja!"
__ADS_1