Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 291


__ADS_3

Hari pertama Alan kembali masuk kerja setelah bulan madu penuh kebahagiaan. Ia memasuki kantor dengan senyuman cerah di wajahnya, siap untuk kembali beraktivitas. Karyawan yang berpapasan dengannya memberikan sapaan hangat dan ucapan selamat datang kembali.


"Selamat pagi, Pak Alan!" sapa salah seorang karyawan yang berpapasan dengannya.


Alan membalas dengan senyuman. "Pagi juga," ucapnya.


Banyak yang menyapa sepanjang ia berjalan di area lobi perusahaan. Padahal baru 3 minggu ia meninggalkan tempat itu namun rasanya ada banyak perubahan yang terjadi.


"Pak Alan, selamat atas pernikahannya, ya!" kata karyawan yang lain.


"Iya, terima kasih," balasnya.


"Pak Alan, selamat datang kembali," sahut karyawan yang lain.


Alan hanya bisa membalas sapaan mereka dengan senyuman. Ia kembali berjalan menuju ke arah pintu lift yang khusus digunakan untuk para petinggi perusahaan.


"Loh, Ares?" ia terkejut saat melihat adiknya tengah berdiri di depan lift.


"Kak Alan? Kakak sudah pulang?" tanya Ares heran. Ia juga terkejut melihat kakak sulungnya ada di sana. Ia kira Alan masih menikmati masa bulan madunya di Turki.


"Ya, aku sudah pulang. Aku datang karena Papa menyuruhku mengikuti rapat hari ini. Kalau kamu sendiri?" tanya Alan.


"Sama. Papa juga menyuruhku datang," jawab Ares. Wajahnya tampak tak begitu ceria. Ia seperti merasa terpaksa untuk datang.


Pintu lift terbuka. Keduanya masuk ke dalam. Alan menekan nomor lantai tempat rapat akan dilaksanakan.


"Bagaimana liburannya?" tanya Ares.


Alan memasang wajah bahagianya. "Menyenangkan," jawabnya.

__ADS_1


Ares memandang iri kepada kakaknya. Dari wajah Alan sudah tergambar betapa menyenangkan liburan yang dilewati oleh kakak sulungnya itu.


"Irene mana?" tanya Ares lagi.


"Dia masih istirahat di apartemen. Mungkin masih kelelahan karena perjalanan. Aku juga belum sempat mengajaknya datang ke rumah," kata Alan dengan antusias.


Ares mengangguk singkat, mencoba menyembunyikan perasaannya yang sedikit rumit. Walaupun Alan dan Irene telah menikah, Ares masih menyimpan perasaan suka pada Irene, yang kini menjadi kakak iparnya.


Alan melihat ekspresi Ares yang agak muram, tetapi ia memilih untuk tidak menyinggung hal tersebut. Ia tahu bahwa perasaan Ares tidaklah mudah, dan ia ingin menjaga hubungan keluarga mereka tetap harmonis.


Suasana kembali hening hingga lift tersebut sampai di lantai yang dituju. Mereka keluar saat lift terbuka dan kembali berjalan menuju tempat rapat.


"Oh, iya. Mama dan Papa bagaimana? Apa mereka sehat selama aku tinggal?" tanya Alan.


"Aku tidak tahu," jawab Ares lirih.


Alan menghentikan langkah. Ia menatap adik bungsunya dengan tatapan keheranan. "Kenapa kami bicara seperti itu? Kok sampai tidak tahu kabar Mama Papa?" tanyanya.


"Apa?" Alan terkejut mendengar jawaban Ares. "Jadi, kamu tinggal dimana?" tanyanya.


"Di tempat Kak Alfa."


Alan baru ingat kalau Ares sudah mengembalikan kunci apartemen miliknya. Biasanya kalau Ares ingin tinggal di luar, pasti minta tinggal di apartemen miliknya.


"Memangnya kenapa kamu sampai tinggal di luar? Mau fokus skripsi?" tanya Alan.


"Skripsiku sudah hampir selesai. Tinggal menunggu jadwal sidang saja sebentar lagi," kata Ares. Ia menjawab dengan nada malas-malasan.


"Lalu, kenapa kamu tinggal di luar?" tanya Alan heran. Ares selama ini yang selalu tinggal di rumah itu karena dia anak terakhir.

__ADS_1


"Nanti juga Kakak akan tahu," kata Ares. Ia tak ingin mengatakan alasannya saat ini kepada sang kakak.


Ares kembali meneruskan langkah. Ia sedang tidak mau membahas apapun terutama dengan Alan. Terpaksa Alan segera menyusul agar bisa menyamakan langkah dengan adiknya.


Alan mengarahkan pandangan ke sekitar tempat rapat yang sudah dihadiri sebagian besar pemegang saham. Pandangan matanya terhenti saat menemukan sosok Alex ada di sana.


Alex seharunya ada di penjara. Alan terkejut melihat pembunuh kakeknya ada di sana bahkan dengan pakaian yang sangat rapi dan duduk berdekatan dengan ayahnya.


"Kenapa dia di sini," pekik Alan sembari mengepalkan tangannya. Emosinya meninggi mengingat kembali kematian sang kakek yang disebabkan oleh Alex.


"Jangan, Kak," tegur Ares seraya memegangi lengan kakaknya.


Ares bisa membaca dari sorot mata kakaknya yang ingin menghajar Alex habis-habisan di sana.


Alan menatap ke arah Ares dengan tajam. "Kenapa dia bisa ada di sini?" tanyanya dengan kesal.


"Papa yang membawanya datang ke sini, Kak."


"Apa?" Alan tidak percaya dengan kenyataan itu. Setelah menikmati liburannya, saat pulang ia harus bertemu dengan orang yang sangat dibencinya.


"Papa juga yang membebaskan Kak Alex dari penjara. Sekarang Kak Alex tinggal di rumah. Makanya aku memilih keluar dari rumah," terang Ares.


Alan semakin tidak percaya dengan keputusan yang sudah diambil ayahnya. Meskipun Alex juga anaknya, Alan rasa tidak seharusnya sang ayah membebaskan Alex begitu saja. Alex pantas mempertanggungjawabkan perbuatannya di penjara.


"Jadi, kamu sudah tahu semuanya?" tanya Alan memastikan.


Ares mengangguk.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku?" protes Alan. Ia juga kecewa dengan adik-adiknya yang sama sekali tidak memberikan kabar apapun.

__ADS_1


Ares terdiam sesaat. "Aku takut mengganggu liburanmu, Kak," kilahnya.


__ADS_2