Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 318


__ADS_3

"Mari kita sambut pemenang kita malam hari ini .... Ares .... Tepuk tangan yang meriah ...."


Pembawa acara meminta Ares maju ke depan. Ia melambaikan tangan sembari tersenyum lebar kepada semua orang di sana. Dengan bangganya, ia merayakan kemenangan pertama di balap jalanan. Ia juga tersenyum kepada Fathir yang tampak masih kesal kepadanya.


"Ares, selamat, ya! Kamu berhak mendapatkan cek senilai seratus juta rupiah dan juga helm dari Shoei."


Pembawa acara tersebut memberikan hadiahnya kepada Ares. Semua yang datang memberikan sorakan kegembiraan. Ares kembali menghampiri teman-temannya dan berjikrak-jingkrak merayakan kemenangan.


Kegembiraan Ares terhenti saat melihat motor yang ia kenali ada di sana. Itu motor yang terjatuh bersama Fathir saat sebelum finish.


"Tunggu sebentar, pegang dulu!" Ares menyerahkan helm yang dipegangnya kepada Timmy. Ia berjalan mendekati pembalap yang ia rasa telah menolongnya.


Saat ia berada di depannya, pembalap itu membuka helm. Ternyata Irene. Dia tersenyum lebar ke arah Ares.


"Selamat, ya," ucap Irene.


Ares masih tidak percaya kalau salah satu pesaingnya adalah Irene. "Oh, Ya Tuhan. Kok kamu bisa ada di sini?"


Keberadaan Irene di san benar-benar tidak bisa ditebak.


"Aku bosan. Sekali-kali ingin juga balapan. Nggak nyangka bakal ketemu kamu," kata Irene dengan santai.


"Hah! Bisa-bisanya, ya ...." Bagaimanapun juga, Ares merasa senang melihat Irene di sana. "Apa Kak Alan tidak akan memarahimu?"


Irene mengangkat kedua pundaknya. "Asal kamu tidak bilang apa-apa padanya, aku rasa tidak masalah."


"Kami tidak pamit?"


"Ya pamit, lah! Aku bilang mau main sebentar. Katanya nggak apa-apa," kilah Irene.


"Woi, ada Dewi Game!" seru Zoy.


Ketiga teman Ares berlari menghampiri mereka. Penampilan Irene yang terlihat keren memakai pakaian balapan serta membawa motor sport membuat ketiganya melongo.


"Hai, kalian apa kabar?" sapa Irene.


"Kurang baik, Ren. Soalnya kamu nggak main game bareng lagi sama kita," ujar Timmy.


"Tidak aku sangka kamu bisa balapan juga, ya?" gumam Abhi terpukau.


"Sudah aku bilang, kan. Dia itu serba bisa. Paling cuma masak aja yang nggak bisa," sindir Ares.

__ADS_1


"Ck! Aku bukannya tidak bisa masak, tapi malas masak!" kilah Irene membela diri.


"Termaafkan kok, Ren. Nggak bisa masak kan bisa beli. Iya, nggak?" kata Zoy.


"Hahaha ... Iya, Zoy. Aku setuju denganmu."


"Oh, iya. Tadi kita kan saingan berempat, kan? Waktu aku melambat karena dipepet Fathir, di depan masih ada kamu sama satu pembalap lain. Tapi, waktu aku finish, kenapa aku jadi yang pertama? Memangnya pembalap satunya jatuh juga?" tanya Ares. Ia masih penasaran dengan balapan kali ini.


"Aku yang menendangnya," aku Irene.


"Apa?" kata mereka serentak. Irene dengan santainya mengaku telah menendang pembalap lain.


"Ingat, Res, ini kan balap jalanan. Biasanya banyak kecurangan," kata Irene.


"Iya, aku tahu. Tapi, kok kamu sampai menendangnya, kenapa?"


"Dia pasang besi runcing di samping ban motornya. Sengaja digunakan untuk merusak motor lawan, jadi aku tendang saja ke semak-semak. Kan ganggu jalan. Apa dia belum kembali? Belum ada yang menolongnya, ya?"


Mereka tercengang dengan cerita Irene yang sangat santai membahas balapan kali ini. Seperti yang diduga, Irene pasti sudah punya banyak pengalaman untuk balapan di jalanan.


"Hebat kamu, Ren!" Timmy mengacungkan kedua jempolnya.


"Tidak, aku tidak apa-apa. Paling motorku yang lecet-lecet. Nanti kamu yang ganti biaya perbaikannya, ya!" kata Irene iseng.


"Iya, beres. Aku juga menang kali ini."


"Tidak, Res. Aku bercanda. Aku akan memperbaikinya sendiri. Tapi, aku ikut dapat traktiran, kan?" tanya Irene.


"Nah, itu, Ren! Bos Ares akan mentraktir kita makan di all you can it masakan Jepang," tutur Timmy.


"Wah, benarkah? Itu salah satu favoritku! Kabari kalau kalian mau ke sana," kata Irene dengan antusias.


"Oh, jadi kalian susah bersekongkol? Pantas saja menang!"


Keseruan mereka terhenti. Rombongan Fathir datang menghampiri mereka dengan wajah sinis dan marah. Fathir langsung menuduh Irene dan Ares telah bersekongkol untuk memenangkan balapan tersebut.


"Fathir, apa maksudmu?" tanya Ares sambil memandang Fathir dengan tajam.


"Kalian berdua sudah bersekongkol, kan? Kalian melakukan trik kotor untuk mengalahkanku!" sergah Fathir sambil menunjuk mereka.


Irene, yang tidak suka dituduh tanpa alasan, dengan tegas membalas, "Fathir, kamu tahu betul bahwa yang melakukan trik kotor adalah dirimu sendiri. Kamu terus memepet Ares dengan maksud membuatnya jatuh!"

__ADS_1


Fathir terdiam sejenak, tetapi kemudian membalas dengan nada sinis, "Bukankah balapan jalanan ini sudah menjadi aturan yang tidak adil? Jadi, aku hanya menggunakan trik yang sama seperti kalian!"


"Aku tidak menggunakan trik kotor seperti yang kamu lakukan," jawab Ares dengan mantap. "Kamu telah memasang besi runcing di samping ban motormu untuk merusak motorku. Kamu juga berusaha menendang motorku. Itu bukan taktik fair play! Aku bahkan sudah berusaha mengalah!"


"Tapi dia juga sengaja menjatuhkan motor kan, supaya motorku ikut jatuh?" Fathir menunjuk-nunjuk ke arah Irene.


Irene mengerutkan dahinya. "Kalau kamu pintar, seharusnya menghindar, kan?" katanya tak mau kalah. Ia sangat benci dengan orang yang sudah curang tapi merasa dicurangi. Ia terpaksa melakukan hal itu karena posisi Ares semakin bahaya.


"Wah, perempuan bisa juga berani bermain curang. Kalau kamu laki-laki, sudah aku hajar!" kata Fathir.


"Heh! Kamu berani mau menyakiti Irene? Duel denganku saja sudah cukup, ayo! Jangan jadi pengecut!" tantang Ares. Ia tidak terima Irene diintimidasi.


Perdebatan semakin memanas dan suasananya semakin tegang. Kedua belah pihak saling adu mulut, tidak ingin memberi satu sama lain kesempatan untuk bicara.


"Tunggu sebentar, kita tidak perlu bertengkar seperti ini," kata Abhi dengan nada yang tenang, mencoba meredakan situasi.


"Tepat, mari kita bicarakan masalah ini dengan kepala dingin," tambah Timmy, berusaha menenangkan suasana.


Namun, kata-kata mereka sepertinya tidak didengar oleh Fathir yang semakin marah. Ia tiba-tiba memukul motor di dekatnya dengan keras, mengejutkan semua orang.


"Cukup! Aku sudah muak dengan kalian semua!" seru Fathir sambil mengeluarkan ponselnya. "Aku akan menghubungi pimpinan balap dan melaporkan kecurangan yang kalian lakukan!"


Melihat situasi semakin buruk, Ares mencoba mempertahankan diri. "Fathir, kamu yang melanggar aturan balapan. Jika kamu ingin melaporkan sesuatu, maka ayo kita berdua mendatangi mereka dan memberikan kesaksian kita."


"Banyak omong!" tukas Fathir.


Perkelahian mulai terlihat tak terelakkan saat Fathir mendekati Ares dengan niat yang jelas. Teman-teman mereka berusaha mencegahnya, tetapi suasana semakin memanas.


Kedua kelompok saling berkelahi. Ares berusaha berada di dekat Irene untuk melindunginya. Ia lupa kalau ternyata Irene juga jago berkelahi.


Perkelahian mereka berlangsung dengan sengit. Kedua belak pihak saling melampiaskan emosi lewat pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Sayangnya, kelompok Fathir bukan tandingan Irene dan Ares. Satu persatu dari mereka babak belur.


"Fathir, sudahan! Aku nggak mau berantem lagi," kata salah satu teman Fathir.


"Aku juga. Pulang, yuk!" kata temannya yang lain.


"Iya, aku juga mau pulang."


Satu per satu dari mereka kabur meninggalkan Fathir di sana.


"Ah, sial! Bang sat!" gerutu Fathir. Karena tidak punya teman lagi, akhirnya ia menyerah dan ikut lari bersama teman-temannya.

__ADS_1


__ADS_2