Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 315


__ADS_3

"Apa kamu yakin?" tanya Adila.


Arvy mengulaskan senyum. Ia meraih tangan wanita itu dan menciumnya. "Ayo, kita turun sekarang!" ajaknya.


Arvy turun dari mobil. Ia membukakan pintu agar Adila bisa dengan mudah turun dari mobil. Ia kembali menggandeng tangan Adila menapaki halaman menuju ke rumah besarnya.


Tekad Arvy kali ini sudah bulat. Ia akan membawa Adila menemui orang tuanya. Apapun yang terjadi sebelumnya, sama sekali tak merubah keputusannya untuk bersama dengan wanita yang paling dicintainya.


"Selamat datang, Adila," sambut Indira. Ia mempersilakan keduanya masuk ke ruang tamu. Di sana sudah ada Vito, Alan, Irene, Alfa, dan Alex.


Hubungan mereka dengan Alex sudah semakin membaik meskipun tidak sama seperti dulu. Semua berkat usaha Vito dan Indira yang berusaha mendamaikan mereka setiap hari.


Adila menahan rasa harunya. Ini menjadi kali pertama ia datang ke rumah itu. Selama ini, mereka menjalani hubungan secara diam-diam, baik dari keluarga maupun media.


"Seperti yang sudah aku utarakan sebelumnya, kedatanganku ke sini membawa Adila untuk membahas suatu hal yang penting," kata Arvy memulai percakapan.


Mereka memasang wajah serius untuk mendengarkan perkataan Arvy. Baru kali ini mereka melihat Arvy yang terlihat dewasa dan baik dalam bertutur kata.


"Kami ... Sudah sepakat untuk segera menikah," lanjut Arvy. Ia agak malu mengungkapkannya. Apalagi saudara-saudaranya terlihat menahan tawa mendengar dia bicara.


"Kenapa kamu sembunyikan pacarmu dari Mama, Sayang? Baru sekarang kamu mau mengenalkannya kepada kami. Tiba-tiba saja mau menikah," sindir Indira.


Arvy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kalau belum benar-benar mantap, untuk apa dikenalkan, Ma! Ini kami juga sudah sepakat untuk menikah jadi ingin meminta restu kalian," katanya.


"Ini Adila tidak terpaksa, kan?" sambung Vito.


Adila tersenyum kikuk.


"Arvy mungkin sifatnya bisa berbeda setelah menikah. Aku harap kamu tidak akan kaget," ujar Vito.


"Arvy juga hanya lulusan SMA. Dia malas sekali meneruskan kuliahnya. Aku dengar kamu sudah lulus S2, ya?" tanya Indira.


"Mama ...." Arvy protes dengan sindiran ibunya sendiri. Ia memang sudah malas untuk bersekolah.


"Iya, Tante. Saya belum lama lulus S2. Meskipun pendidikan itu penting, tapi bukan yang utama bagi saya. Saya tahu memang passion Arvy bukan di bidang pendidikan," ucap Adila dengan bijak.


"Bagaimana dengan orang tuamu? Apa mereka setuju untuk memiliki menantu seperti Arvy?" tanya Vito.

__ADS_1


"Mereka tidak ada masalah, Om. Kami juga sudah lama saling kenal walaupun orang menganggap kami hanya berteman selama ini," jawab Adila.


Keduanya memang pandai menutupi hubungan dari para penggemar. Apalagi mereka sama-sama publik figure yang sangat sensitif dengan rumor kencan.


"Kalian sudah memikirkan, kalau tiba-tiba memutuskan menikah, biasanya banyak penggemar yang tidak setuju," kata Alfa. Ia sedikit banyak tahu tentang dunia selebriti.


"Tenang, Kak. Tabunganku sudah cukup banyak untuk pensiun dari dunia hiburan. Aku bisa melanjutkannya dari balik layar kalau penggemar sudah tidak ada," jawab Arvy dengan enteng.


"Bagaimana dengan Adila sendiri?" tanya Alfa.


"Aku juga tidak masalah, Kak. Aku sudah cukup puas dengan pencapaianku selama ini," jawab Adila.


"Baiklah kalau begitu, kalau memang kalian sudah sama-sama sepakat untuk menikah, kami hanya bisa memberikan restu," kata Vito.


Adila dan Arvy saling bertukar senyum.


"Ini Alex dan Alfa tidak ada yang protes? Adik kalian mau menikah duluan, kalian kapan?" kini sindiran Indira beralih pada kedua anaknya yang lain.


"Aku tidak apa-apa, Ma. Aku belum ada rencana menikah sama sekali," jawab Alex tanpa keraguan.


"Aku juga, Ma. Aku belum berniat menikah," ujar Alfa.


"Tidak usah bicara begitu, Kak ... Tipeku itu seperti Irene ... Susah mencari yang seperti dia," kata Alfa balik menyindir Alan.


Reflek Alan mengamankan Irene agar mendekat kepadanya. Ia tidak mau lagi bersaing dengan saudara-saudaranya.


"Ya sudah, sepertinya kedua kakakmu juga tidak keberatan, Arvy. Rencananya kapan pernikahannya akan dilaksanakan?" tanya Indira.


"Sekitar satu bulan lagi, Ma," jawab Arvy.


"Persiapannya bagaimana? Jangan sungkan katakan pada mama dan papa atau saudara-saudaramu supaya persiapannya cepat beres!" kata Mama.


"Aku yang akan menyumbang gaunnya, Ma! Kalian datang saja ke tempat kerjaku kalau sempat. Sekalian bawa data seluruh keluarga yang mau diberikan seragam. Aku yang akan menanggung semua biaya seragam!" Alfa mengajukan diri sebagai salah satu donatur pernikahan Arvy.


"Ini gratis atau endorse?" tanya Arvy. Jiwa-jiwa bisnisnya tetap ada.


"Kenapa tanya-tanya begitu? Sudah aku sponsori masih tanya gratis apa endorse! Ya jelas endorse, lah! Kalian kan artis! Sekalian rancanganku mau numpang nama!" kata Alfa dengan kesal. Ia sampai memukul kepala Arvy karena kesalnya.

__ADS_1


Adila tertawa kecil melihat interaksi lucu sesama saudara itu.


"Jangan galak begitu, Kak. Ini kan untuk memperjelas kalau sebenarnya aku tidak benar-benar terima gratisan. Aku nikah juga sambil melakukan endorse," ujar Arvy.


"Kalau masalah gaun dan seragam sudah ditanggung Alfa, biar aku yang menangani masalah tempatnya," kata Alex. "Kalian mau tema pesta terbuka atau tertutup?"


Arvy dan Adila saling berpandangan.


"Bagaimana?" tanya Arvy.


"Aku ... Terserah saja," kata Adila.


"Indoor outdoor saja Kak, kalau begitu. Biar tamu nanti bisa memilih tempat yang nyaman di acara," kata Arvy.


Alex mengangguk-angguk. "Baiklah, nanti kita akan gunakan hotel yang ada di pusat kota. Tempatnya luas dan mampu menampung banyak tamu. Lalu, apa kamu akan mengundang media juga?"


"Kami akan mendang mereka, tapi jangan diperkenankan masuk ke dalam supaya tidak mengganggu tamu. Sediakan saja tempat khusus dan berikan layar untuk menayangkan prosesi pernikahan kami."


Acara yang awalnya bertujuan untuk memperkenalkan Adila malah melebar membahas sampai rencana pernikahan mereka. Memiliki saudara yang sukses membuat Arvy dan Adila tidak perlu repot menyiapkan apapun.


"Baiklah, nanti akan aku lakukan," kata Alex.


"Kalau Kak Alan mau menyumbang apa?" tanya Arvy. Ia sengaja memancing agar dirinya benar-benar tak perlu mempersiapkan apapun untuk pernikahannya sendiri.


"Aku yang akan mencarikan EO dan catering untuk acaranya. Kamu tenang saja," kata Alan dengan santai.


"Kalau Irene ... Boleh kan, nanti menyanyi di acara pernikahan kami?" pinta Adila.


Irene yang awalnya diam saja tiba-tiba jadi terkejut karena namanya disebut. "Apa? Aku nyanyi?"


"Iya. Pasti banyak yang kangen dengan Hyena. Aku juga suka sekali suaramu," puji Adila.


Irene menoleh ke arah Alan untuk meminta pendapat.


"Tidak boleh, nanti jadi tambah banyak yang suka dengan istriku," ujar Alan.


"Yah, Kak Alan ... Kan cuma sekali waktu pernikahan," ucap Adila dengan nada memelas.

__ADS_1


"Tidak, tidak ... Semakin banyak orang yang kenal, nanti semakin susah kalau mau aku ajak jalan-jalan." Alan masih trauma dengan para fans Hyena. Ia sampai harus mengalah demi mengijinkan Irene memberikan tanda tangan atau foto bersama fans.


__ADS_2