Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 32: Mencari Strategi


__ADS_3

Alex sedang menikmati waktu sorenya sambil membaca koran di halaman belakang, ketika dua orang anggota termuda di rumah berdiri mematung sejak beberapa saat lalu menatap dirinya. Mereka tidak bicara atau melakukan apapun, hanya berdiri, membuat Alex cukup merasa terganggu. Ia yakin ada yang diinginkan oleh Ares dan Irene darinya.


Alex melipat kembali korannya. "Kalian mau apa?" tanyanya.


Ares dan Irene saling bertatapan, memberi kode satu sama lain agar mau bicara.


"Mau minta uang jajan?" tanyanya lagi.


Keduanya menggeleng.


"Terus, kenapa kalian berdiri terus di situ sejak tadi?"


"Kak ... katanya Irene mau minta ikut kerja di kantor Kakak." Ares berkata sembari menggaruk kepalanya. Ia tidak terlalu percaya meminta hal seperti itu lagi kepada kakaknya.


Mata Irene membulat. Kesepakatan sebelum mereka menemui Alex, Ares bilang juga mau magang di tempat kakaknya. Namun, lelaki itu berkhianat dan menjual namanya. "Ares juga, Kak!" Irene tak mau kalah.


Keduanya saling beradu pandang meluapkan kekesalan seperti anak kecil. Alex yang melihatnya ikut bingung. Dia kira adik bungsunya sudah bisa menerima kehadiran Irene, ternyata masih tetap sama, suka berselisih.


"Cukup! Hentikan pertengkaran kalian yang merusak waktu santaiku," ucap Alex.


"Kak, aku sudah hampir lulus. Kenapa tidak diberi kesempatan merasakan magang dulu di perusahaan? Kakak bisa membayar orang untuk mendampingi sekaligus mengajari aku supaya tidak mengganggu kinerja perusahaan." Ares berusaha membujuk kakaknya. Sejak lama ia sudah ingin masuk perusahaan, namun dilarang kakaknya.


"Bukankah aku pernah bilang kalau perusahaanku bukan tempat bermain? Cari perusahaan lain dan datang kembali setelah kalian berpengalaman."


Lagi-lagi Ares mendapatkan jawaban yang sama. Ares belum tahu kelak passion-nya di bidang apa. Dari keempat kakaknya, ia paling suka mengikuti jejak Alex sebagai pengusaha.


"Bagaimana kemampuanku bisa berkembang kalau tidak diberikan ruang dan kesempatan?" Ares menunjukkan wajah memelas agar dikasihani.


"Sejak kapan perusahaan keluarga kita memberikan kesempatan bagi orang tak berpengalaman? Sekalipun kamu termasuk keluarga sendiri, tidak ada pengecualian. Kalau sistem perusahaan kita hanya berdasarkan kekerabatan dan belas kasihan, saudara kita yang lain sudah pasti akan masuk ke perusahaan."


"Kamu pikir aku bisa masuk perusahaan karena membujuk kakek?" lanjut Alex.


Perkataan Alex ada benarnya. Kakak-kakak Ares yang lain lebih memilih untuk mengembangkan bakat mereka masing-masing daripada masuk ke perusahaan. Alex juga pernah bercerita perjuangannya bisa masuk perusahaan cukup panjang dan berat, mulai dengan ikut belajar mengelola perusahaan rintisan baru milik temannya.


"Meskipun kamu nanti sudah lulus, kalau belum mendapat panggilan dari dewan direksi, jangan harap bisa masuk perusahaan keluarga kita, Ares. Jadi, selama masih ada waktu, buat sesuatu yang bisa menarik perhatian para petinggi perusahaan."

__ADS_1


Ares terdiam. Ia tipe orang yang sulit menemukan bakatnya sendiri.


"Apa aku juga tidak boleh magang di perusahaan Kak alex?" sahut Irene yang sedari tadi diam.


Alex tersenyum. Ia mengusap rambut Irene seperti memperlakukan seorang adik dengan lembut. Hal itu juga membjat Ares sedikit iri. "Maaf, ya ... aturan untukmu juga sama dengan Ares," katanya lembut.


Sejak awal Irene selalu menghormati Alex. Dia, tuan muda pertama yang menyambutnya dengan baik, serta memperlakukannya dengan baik pula. Alex seakan tidak menilai bahwa wanita yang diperlakukan baik itu memiliki wajah yang jelek serta perilaku yang menyebalkan.


"Tapi, kalau Irene mau masuk ke perusahaan untuk main atau sekedar lihat-lihat, aku tidak keberatan. Ares juga boleh ikut." Alex menyebut nama Ares karena anak itu sepertinya sedang kesal.


"Kalau begitu, minggu depan ajak kami jalan-jalan ke kantor Kak Alex," ucap Irene.


"Siapa yang mau ke sana? Kapan aku setuju? Kenapa kamu menyebutkan kata 'kami'?" Ares tidak setuju namanya dibawa-bawa.


"Ares, tidak boleh seperti itu kepada Irene."


Irene tersenyum lebar karena Alex membelanya. Ares mati kutu dimarahi kakaknya sendiri. Alex memang masih yang terbaik untuk Irene.


"Kalau begitu, aku dan Ares masuk dulu ya, Kak ... jangan lupa minggu depan ajak kami," ucap Irene sembari nyengir kuda. "Selamat menikmati waktu sorenya lagi." Ia melambaikan tangan ke arah Alex. Tangan satunya sibuk menarik-narik Ares agar ikut pergi dari sana. Mereka berdua seperti kucing dan anjing yang sedang bertengkar.


"Apa-apaan sih! Dari tadi narik-narik terus. Bajuku bisa kendor!" omel Ares.


"Berani-beraninya tadi kamu menjual namaku kepada Kak Alex, ya! Dasar pengecut!" Irene ikut meninggikan suaranya.


"Katanya kamu ingin magang di tempat kakakku? Sudah aku bantu sampaikan seharusnya berterima kasih!"


"Tadi kesepakatannya kan tidak begitu ... kamu juga ingin merayu Kak Alex agar bisa bekerja di sana. Kita punya tujuan yang sama tapi aku berasa dikhianati."


"Hah! Bahasamu tinggi sekali, dikhianati katanya? Hahaha ... " Ares terkekeh.


"Memang begitu! Kamu sudah berkhianat sebelum kita berhasil. Pantas kamu cuma jadi beban."


"Kamu juga beban!"


"Kamu lebih parah!"

__ADS_1


"Kamu yang parah! Di sini numpang, nggak bisa apa-apa. Jelek lagi!"


Ares dan Irene saling beradu mulut. Tak ada hang mau mengalah dari keduanya.


"Kita mau kerjasama agar bisa masuk perusahaan Kak Alex, kenapa malah jadi adu mulut seperti ini?" keluh Irene.


"Kamu yang mulai duluan."


Irene melotot. "Kalau orangnya tidak nyolot sepertimu, aku juga tidak akan marah-marah seperti ini!" Irene menjambak rambut Ares dengan gemasnya. Ingin rasanya mengajak berkelahi agar bisa melampiaskan kekesalannya.


"Aduh, aduh ... dasar cewek bar-bar! Lepaskan, nggak!" Ares berusaha menahan rambutnya yang ditarik Irene. "Kelalaku bisa botak!" serunya.


Irene tak menggubris. Ia terus memegangi rambut Ares dengan geram. Ares yang berusaha melawan, perlahan-lahan mendorong tubuh Irene menjauh darinya.


Byur!


Genggaman tangan Irene terlepas bersamaan dengan jatuhnya wanita itu ke kolam. Ares tertawa-tawa melihat Irene tercebur ke dalam.


"Tolong ... tolong ...."


Ares mematung sesaat ketika mendengar Irene minta tolong. Kepalanya ti.bul tenggelam di salam air, memang terlihat seperti orang tak bisa berengang. Khawatir akan keselamatan Irene, Ares ikut menceburkan diri ke dalam. Ia berenang ke tengah menarik tubuh Irene lebih ke tepian.


"Hah! Hah! Hah!" Irene tampak mengatur napas setelah berpegangan pada tepi kolam. "Gila, ya! Kamu berniat membunuhku?" tanya irene


"Aku kira kamu bisa berenang." Ares menutup mulutnya agar tidak tertawa. Irene terlalu lucu saat ketakutan.


"Iya, aku bisanya renang gaya batu!" ucap Irene kesal.


"Susahlah, lagipula aku juga sudah menolongmu."


"Tapi, kamu yang menjadi biang keroknya!"


"Tetap ... aku pahlawan untukmu." Ares besar kepala.


"Terserahlah! Mending kita pikirkan cara apa yang bisa memudahkan kita masuk ke perusahaan sana."

__ADS_1


Ares hanya mangguk-mangguk.


"Pastikan minggu depan main ke tempat Kak Alex. Anggap saja sedang cek lokasi."


__ADS_2