
Irene duduk di depan meja riasnya sembari mengoleskan produk perawatan wajah miliknya. Ia memandangi pantulan wajahnya sendiri. Mukannya sedikit cemberut ketika menemukan beberapa titik jerawat yang muncul di sana.
"Kenapa ini? Apa gara-gara sering pakai topeng Irene Kampungan aku jadi jerawatan begini ...," keluhnya.
"Hah ... masalah baru lagi. Besok aku harus pergi ke dokter sebelum jadi semakin parah. Perasaan aku selalu rajin membersihkan diri dan mencuci muka sebelum tidur," gumamnya.
"Sudahlah! Lebih baik aku tidur."
Irene beranjak dari depan meja rias menuju ke arah jendela untuk memastikan seluruhnya telah terkunci. Saat hendak menutup tirai kamar, ia melihat ada seseorang yang sedang duduk di taman depan. Semakin diperhatikan, Irene bisa menebak bahwa lelaki di bawah sana merupakan Alan.
"Sedang apa dia di sana? Meratapi nasib?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Irene merasa sudah lama tidak keluyuran di malam hari. Awal-awal datang di sana, ia sangat sering keluar diam-diam saat tengah malam hanya untuk berjalan-jalan sebagai dirinya sendiri. Makin lama tinggal di sana, ia justru merasa senang dengan penyamarannya sendiri. Apa lagi kelima tuan muda yang mulai menerima kehadiran dirinya.
Awalnya Irene tampil sebagai gadis kampungan hanya untuk membuat mereka membencinya. Ia ingin perjodohan dibatalkan. Irene juga tidak tertarik kepada mereka semua. Namun, sepertinya ia termakan dengan ucapannya sendiri. Kini, Irene sudah menyukai rumah itu beserta kelima tuan mudanya.
Irene sudah merasa nyaman tinggal di mansion yang megah itu. Ia bahkan sudah menganggapnya seperti rumah sendiri. Kelima tuan muda sangat baik, memperlakukannya layaknya seorang adik. Terutama Alan, Alex, dan Alfa. Sedangkan bersama Arvy dan Ares, ia diperlakukan seperti saudara kembar yang selalu diajak ribut. Meskipun begitu, ada kalanya mereka juga akur. Menurut Irene, Arvy dan Ares juga tuan muda yang sangat menyenangkan.
"Apa dia sedang menunggu aku datang sebagai hantu?" Irene jadi kepikiran bahwa Alan pernah mengajaknya jalan-jalan saat malam. Mereka sudah sangat lama tidak bertemu malam-malam.
Alan telah memperlakukan Irene Kampungan dengan baik. Jadi, menurut Irene, sudah tidak perlu juga ia menyamar lagi sebagai hantu Miss A. Berpura-pura menjadi banyak karakter juga sangat melelahkan.
Irene mengabaikan Alan yang ada di bawah sana. Ia memutuskan untuk naik ke atas ranjangnya. Saat berbaring, mata yang tadinya sangat ngantuk masih tetap terbuka akibat kegalauan pikirannya.
"Bagaimana kalau aku buka penyamaran saja, ya? Aku juga sudah sangat capek setiap hari harus memakai body painting. Kulitku juga jadi korban. Huhuhu ...."
__ADS_1
"Tapi, kalau aku menampakkan diri seperti ini, bagaimana respon mereka? Apa mereka akan marah? Bisa-bisa aku dilaporakan polisi dengan tuduhan penipuan."
Irene galau dengan pikirannya sendiri. Ia berguling-guling di atas kasur memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Sekarang, ia sudah mulai menyukai mereka. Ia juga sudah sangat nyaman di sana. Kalau mereka tahu identitasnya yang sebenarnya, Irene takut mereka justru akan kecewa.
***
Alan memutuskan keluar rumah saat tengah malam itu. Sudah terlalu lama ia menunggu Miss A yang tak kunjung menemuinya. Ia memacu mobilnya melewati jalanan kota menuju apartemen milik Sovia.
Entah mengapa malam ini perasaannya sedang dilanda kecemasan. Ia sangat membutuhkan tempat untuk meluapkan kegundahannya, namun yang diharapkan tidak kunjung datang. Alan memutuskan untuk menemui Sovia karena wanita itu juga bisa menjadi teman bicara yang menyenangkan.
Alan sempat menghubungi ponsel Sovia namun tidak diangkat. Ia mengirim pesan juga tidak dibalas. Mungkin saja wanita itu sudah tertidur atau baru saja pulang dari syuting. Kalau wanita itu sudah tidur, ia akan pindah ke rumah Marco, manajer Arvy. Adiknya yang artis malam ini tidur di sana karena sibuk syuting.
Apartemen yang Sovia tempati merupakan pemberian dari Alan. Secinta itu dia kepada wanitanya sampai membelikan banyak barah mewah untuk Sovia. Selain Sovia, ia juga memiliki kartu akses menuju ke apartemen tersebut.
Ia heran, biasanya apartemen Sovia tak pernah sekacau itu. Meskipun pikirannya sudah macam-macam, namun ia masih berusaha positif. Mungkin saja wanita itu mabuk atau kelelahan karena baru pulang syuting.
Pikiran positifnya langsung hilang saat melihat ada pakaian yang berserkan di sepanjang ruang tamu hingga ruang tengah. Pakaian milik sepasang pria dan wanita. Alan sudah menebak pasti ada yang sedang Sovia lakukan dengan seseorang di dalam apartemennya.
"Ouh, Sayang ... enak sekali ...."
"Ah! Ah! Pelan-pelan ...."
"Aku tidak bisa, Sayang ... ini terlalu enak!"
Samar-samar mulai terdengar suara-suara erotis dari dalam kamar. Sudah jelas suara wanita yang sedang mengerang itu merupakan Sovia. Pacarnya sedang bersama lelaki lain di dalam kamar.
__ADS_1
Alan menghela napas dalam-dalam. Tangannya dikepalkan menahan kemarahannya. Ia berjalan semakin mendekat ke arah kamar milik Sovia.
"Jadi, kapan kamu mau meninggalkan koki itu?"
"Ah! Meninggalkan apa maksudmu? Aku tidak mungkin meninggalkannya!"
"Oh, iya? Dasar wanita nakal ... padahal setiap malam selalu menginginkan juniorku! Masih berani kamu menginginkan lelaki lain, hah?"
"Uuhh ... pelan-pelan ... tidak usah buru-buru, aku bisa melayanimu sampai besok. Dasar pencemburu!"
"Siapa yang cemburu? Aku marah! Kamu masih saja berpacaran dengannya, padahal aku yang selalu memuaskanmu!"
"Iya, Sayang. Sabar. Kalau aku sudah cukup mendapatkan uang darinya dan sudah bosan, aku akan sepenuhnya menjadi milikmu."
"Memangnya apa yang aku berikan masih kurang?"
"Tidak, Sayang. Pemberianmu juga sangat cukup untukku. Hanya saja, kan sayang ... Alan masih sangat menyayangiku. Ia rela memberikan apa saja demi diriku."
"Itu karena kamu menjebaknya, kan? Pura-pura sudah diperawani olehnya, padahal aku yang melakukannya. Bodohnya, dia tetap percaya. Hahaha ...."
Alan masih berdiri di depan pintu kamar apartemen yang terbuka. Darahnya serasa mendidih mendengarkan percakapan mereka. Ditambah lagi dengan menyaksikan pergumulan tidak tahu malu yang keduanya lakukan di tempat yang ia berikan kepada wanita kesayangannya.
Tidak disangka jika selama ini ternyata Alan telah ditipu dan dipermainkan oleh teman-temannya sendiri. Lelaki yang bersama Sovia adalah Ryuki, mantan rekan bisnisnya yang justru menjual resep mereka kepada pengusaha saingan. Sovia juga telah menipunya dengan mengatakan bahwa ia telah menidurinya saat mabuk.
Kedua orang itu sudah sangat dekat berteman. Entah mengapa hubungan mereka justru berubah menjadi pengkhianatan. Ingin rasanya Alan langsung maju dan membunuh kedua manusia laknat itu.
__ADS_1