
to: Mrs. Alenta
Selamat siang, Mrs. Alenta. Saya masih berharap Anda bersedia meneruskan kerjasama sebagai penerjemah. Sangat sulit mencari orang yang menguasai Bahasa Persia. Jika Anda berkenan, perusahaan kami menawarkan nilai kerjasama sebesar 1 miliar.
Irene ternganga membaca sebuah pesan yang masuk ke e-mail miliknya. Setelah sempat menolak untuk memperpanjang kontrak kerjasama, Alan kembali menghubungi dirinya agar tidak berhenti sebagai penerjemah Bahasa Persia. Sebenarnya alasan Irene ingin berhenti karena cukup merepotkan. Namun, melihat nilai kerjasama yang ditawarkan, ia tidak bisa menolaknya begitu saja. Kapan lagi ia mendapat kesempatan untuk memperoleh penghasilan setinggi itu.
"Diterima nggak, ya?" tanya Irene pada dirinya sendiri. "Asalkan aku menyamar dengan baik, kayaknya Kak Alan tidak akan tahu siapa aku. Dia kan orangnya kurang perhatian."
Irene mondar-mandir di dalam kamarnya, memikirkan balasan yang tepat untuk Alan. Satu miliar sudah ada dalam bayangannya, ia akan mandi uang jika berhasil mendapatkannya. "Keren sekali kalau aku bisa punya uang banyak. Hahaha ...."
to: Mr. Alan Narendra
Permintaan Anda sudah saya baca. Setelah berpikir kembali, saya memutuskan untuk menerima tawaran Anda. Saya menantikan dokumen kerjasama yang baru dengan perusahaan Anda.
Akhirnya, Irene menerima tawaran yang Alan berikan. Ia kembali mengemasi barang-barangnya ke dalam koper. Liburan kali ini ia berniat akan kembali ke desa mengunjungi kakek dan neneknya. Alan memberikannya banyak oleh-oleh untuk dibawa ke desa. Sayangnya, ia tak bisa ikut mengantar karena ada pekerjaan.
Sebelum mengunjungi kakek neneknya di desa, Irene pergi ke bandara untuk bertemu dengan Hamish, sepupunya, yang akan kembali ke luar negeri. Setelah beberapa kali pertemuan dengan Hamish, Irene merasa kakak sepupunya itu tidak seperti yang Ron ceritakan.
"Kak Hamish!" seru Irene yang telah melepaskan penyamarannya.
Hamish tampak tersenyum melihat kedatangan Irene di bandara. Ada banyak hal yang perlu ia tangani sehingga tidak bisa lebih lama tinggal di tanah air. Sebagian pengawalnya ikut kembali ke luar negeri, sebagian yang lain masih ia tempatkan di sana menjaga mansion dan menjaga Irene dari jauh, meskipun sepupunya itu sering kali menghilang dari jangkauannya.
Irene memberikan pelukan hangat kepada kakak sepupunya. Meskipun jarang bertemu, entah kenapa perpisahan itu juga sedikit membuatnya terharu. Bagaimanapun juga Hamish satu-satunya kerabat yang masih dimilikinya.
"Bagaimana, apa kamu mau ikut ke luar negeri?" tanya Hamish.
__ADS_1
"Aku sudah bosan di sana, Kak. Lebih enak di sini. Aku mau mengunjungi kakek nenek di desa. Atau Kak Hamish yang mau ikut aku ke desa?"
"Sayangnya aku ada banyak pekerjaan di sana. Padahal aku ingin lebih lama bersamamu."
Irene tersenyum. "Makanya cepat selesaikan dan kembalilah ke sini. Kalau bisa bawa calon istri juga dari sana, Kak."
Hamish mengerutkan dahi. "Satu-satunya wanita yang aku cintai hanya kamu. Kalau ada wanita yang seperti dirimu, baru aku mau menikahinya."
Irene sedikit terkejut dengan perkataan Hamish. Namun, ia tetap pura-pura tidak memahaminya. Irene kembali memeluk Hamish, memberikan sebuah ciuman di pipinya seperti yang biasa ia lakukan. "Hati-hati di jalan, Kak. Sampai bertemu lagi," ucapnya.
Hamish tersenyum lebar. Ia mengusap puncak kepala Irene sebelum masuk ke dalam bandara.
Irene melambaikan tangan melepas kepergian kakak sepupunya. Ia berharap hubungan mereka akan baik-baik saja, bisa saling menyayangi seperti dulu sebagai saudara.
Irene beralih dari bandara menuju stasiun kereta. Akses tercepat yang bisa ditempuh menuju desa tempat tinggal kakeknya menggunakan kereta. Ini akan menjadi perjalanan pertamanya kembali ke sana setelah beberapa tahun.
"Kakek ... nenek ...." seru Irene ketika sampai di depan rumah sederhana dari kayu milik kakek neneknya. Ia turun dari delman, dibantu sang kusir membawakan banyak barang bawaannya sebagai oleh-oleh.
Kakek dan nenek saling berpandangan. Kehadiran Irene seolah tidak membuat mereka senang.
Tawa Irene seketika membeku saat melihat repson mereka dengan kedirannya. "Kok kayaknya Kakek dan Nenek tidak senang ya, melihat aku datang," ucapnya.
Nenek menghela napas. "Katanya kamu sedang dijodohkan dengan lima tuan muda keluarga Narendra. Kok tidak ada satupun yang menemanimu datang ke sini?" tanya nenek heran. Padahal ia sudah antusias setiap kali kakek menceritakan Irene yang kemungkinan akan menikah dengan salah satu lelaki tampan dari keluarga Narendra.
Irene tersenyum kaku. Tidak mungkin juga ia membawa salah satu tuan muda ke sana. Mereka tahunya Irene penampilannya jelek dan kampungan. Ia juga tidak berani berterus terang kepada kakek kalau awalnya ia berniat menggagalkan perjodohannya sendiri.
__ADS_1
"Baru beberapa bulan, Nenek ... kami masih saling berusaha mengenal. Memangnya jatuh cinta bisa secepat itu?"
"Bisa. Kakek dan nenek juga saling jatuh cinta sejak pertemuan pertama."
"Itu kan zaman Kakek dan Nenek ... zaman sekarang beda lagi. Aku juga masih muda untuk apa buru-buru menikah."
"Seusiamu dulu nenek sudah melahirkan dua orang anak."
Irene memutar malas kedua bola matanya. Susah untuk berbicara dengan lintas generasi. Apapun yang dikatakannya, pasti akan tetap dinilai salah.
"Pokoknya, cepat dapatkan calon suami dan tentukan kapan kamu akan siap menikah. Kakek hanya bisa mendukungmu dari belakang."
"Nenek heran, cucu nenek secantik ini kok bisa-bisanya kesulitan menarik perhatian tuan muda keluarga Narendra? Apa cucu kita jelek, ya, menurut mereka?" tanya Nenek.
"Mungkin dia kurang lelah lembut. Kelakuannya kan liar suka main balapan tengah malam."
Irene merasa tersindir dengan ucapan kakeknya. "Aku sudah tobat, Kek. Aku tidak pernah lagi balapan liar, kok ...."
"Coba kamu belajar lebih feminim, Irene ... ditambah genit sedikit juga bagus. Biasanya lelaki suka wanita yang sedikit manja-manja begitu. Apa perlu nenek ajarkan cara membuat lelaki terpesona?"
Irene hanya tercengang dengan neneknya. Ia malah jadi merinding sendiri membayangkan diajari sang nenek menjadi wanita centil semacam itu yang sangat jauh dari karakter aslinya.
"Kenapa sih kita harus membahas jodoh saat baru bertemu? Irene bawa banyak oleh-oleh untuk Kekek dan Nenek ... apa kalia tidak penasaran?" Irene berusaha mengalihkan topik pembahasan. Ia mengeluarkan semua barang bawaannya di hadapan kakek neneknya tercinta.
"Apa Hamish sudah menemuimu?" bisik kakek seolah tak ingin neneknya tahu.
__ADS_1
Irene mengangguk. "Kakek tenang saja, aku bisa mengatasinya."