
"Hei, lihat kita bertemu dengan siapa di sini?"
Fathir tidak menyangka akan bertemu dengan dua makhluk yang berbeda dunia sedang bersama pada satu tempat. Lebih mengherankan lagi keduanya tampak akrab. Sejoli yang menghabiskan waktu berdua di mall, membawa makanan seperti akan nonton ke bioskop, lebih terlihat jika mereka sedang berkencan.
Tidak bisa dipercaya, Ares, lelaki yang populer di sekolah berdampingan dengan wanita terjelek di kampus menurutnya. Pasti berita itu akan heboh jika seisi kampus mengetahui. Ada apa gerangan dengan Ares sampai mau dengan Irene.
"Ternyata kalian pacaran, ya? Waouw! Aku sungguh tidak menyangka. Hahaha ...." Fathir tertawa terpingkal-pingkal melihat Ares dan Irene.
Ares terdiam. Ia tidak mengira akan bertemu dengan orang yang sering bersebrangan dengannya. Iren tahu keberadaannya akan menyulitkan Ares.
"Kami tidak pacaran!" kilah Irene.
"Pantas saja Ares membelamu waktu itu. Aku kira kamu pacarnya si culun Bian, ternyata pacar Ares." Fathir semakin tersenyum lebar. Ia tidak sabar menyebarkan kabar baik itu kepada anak-anak kampus.
"Aku hanya ...."
Ares menahan tangan Irene yang ingin maju memberikan penjelasan kepada Fathir. "Filmnya akan segera dimulai. Kita masuk sekarang daripada tiketnya hangus," ucap Ares.
Irene tidak mengerti dengan jalan pikiran Ares. Seharusnya mereka menjelaskan lebih dulu kepada Fathir, bukan malah meninggalkan orang-orang kepo itu. Tangannya ditarik paksa oleh Ares meninggalkan Fathir dan teman-temannya. Popcorn yang dibawanya sampai tumpah-tumpah karena Ares. Sekilas ia menoleh ke arah Fathir yang masih memandangi keduanya dengan senyuman lebar yang mengejeknya.
"Kok malah pergi ... Fathir bakalan mengatakan yang tidak-tidak tentang kita!" keluh Irene. Ia terpaksa mempercepat langkah mengimbangi Ares.
"Diam! Duduk sana!" Ares mempersilahkan Irene duduk.
Dengan raut kesal Irene memilih duduk dan memenuhi mulutnya dengan popcorn. Ia membuang muka saat Ares duduk di sebelahnya. Kondisi ruangan bioskop tiba-tiba menjadi gelap, pertanda sebentar lagi film akan diputar.
"Kalau besok ada masalah denganmu, jangan salahkan aku!" gerutu Irene.
__ADS_1
"Sepertinya bukan aku yang akan dapat masalah, tapi kamu."
Ares mengembangkan senyuman meledek. Irene menatap kesal padanya. "Kamu suka ya melihat orang lain kesusahan?"
"Tidak juga ... pengecualian karena itu kamu." Ares mengambil popcorn dari wadah yang dipegang Irene. Dengan santainya ia masih senyum-senyum seakan sedang meledek. "Sudah! Jangan bicara lagi. Filmnya mau dimulai." Ares memberikan satu gelas minuman yang tadi di belinya untuk Irene.
Film mulai diputar. Dimulai dengan adegan seorang lelaki yang sedang balapan dengan mobilnya. Melihat adegan itu membuat Irene teringat kembali dengan kebiasaannya dulu. Hampir setiap malam keluar rumah diam-diam untuk balapan liar.
Kalau dipikir-pikir kembali, kehidupannya selama dua tahun ini telah ia jalani dengan sia-sia. Ilmu yang berguna, bakat yang dimiliki, sama sekali tak dipergunakan dengan baik. Kalau tiba-tiba ia kehilangan semua harta benda, Irene mulai memikirkan apakah ia masih akan bisa bertahan dan bangkit kembali. Ia begitu bangga dengan kekayaan orang tuanya. Selain karena kecerdasannya, dukungan dari segi finansial juga menjadi jalan baginya bisa menempuh pendidikan yang lebih tinggi di luar negeri. Bakat dan kecerdasan seseorang tidak mungkin bisa berkembang tanpa adanya dukungan dari faktor luar.
"Res ...."Irene membuka perbincangan dengan nada lirih supaya tak mengganggu penonton lain.
"Kenapa?" tanya Ares yang sedang fokus pada adegan peekelahian dalam film.
"Aku mau kerja," ucap Irene.
"Aku ingin masuk ke perusahaan Kak Alex."
"Uhuk! Uhuk!" Ares sampai tersedak saat sedang minum. "Apa? Coba katakan sekali lagi?" Ia mendekatkan telinganya, ingin mendengarkan ulang kata-kata tak masuk akal dari Irene.
"Aku ingin bekerja dengan Kak Alex."
Ares ternganga. Irene sudah seperti orang tidak waras meminta hal seperti itu. "Dengar, ya ... aku saja yang adik kandungnya belum diizinkan masuk ke perusahaan, apalagi kamu yang baru beberapa bulan kami kenal?" Permintaan Irene menurutnya tidak masuk akal. Ia sampai ingin tertawa. Padahal film di depannya sedang adegan yang menegangkan, dia justru merasa lucu. "Lagipula, katanya mau hidup gampang, tinggal minta sekua tersedia. Kemana mental pengemismu?" sindir Ares.
"Aku memang mau kerja supaya tidak minta-minta lagi. Aku bisa kerja, kok ...."
"Ck! Sekalipun kamu bisa kerja, memangnya ada yang mau mengajakmu bekerja? Percaya diri sekali." Ares merauk popcorn dengan tangannya lalu memasukkan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Irene yang melihat lelaki di sampingnya seperti kambing yang sangat rakus. Memang Ares yang membelikan, tapi dia juga yang menghabiskan. Seakan tidak terlalu rela membelikan itu untuknya.
"Perusahaan Kak Alex bukan perusahaan uji coba, amatir tidak akan diterima. Kecuali kalau kamu pelet dia sih sampai tergila-gila."
Irene jadi ingin tahu apa kriteria yang diminta agar ia bisa masuk ke perusahaan milik keluarga Narendra. Dengan ilmu yang dimilikinya, ia yakin bisa bekerja dengan baik. Memang, sebelumnya ia tidak pernah mempraktikkan secara langsung ilmunya. Ia cukup percaya diri bahwa dirinya pasti mampu.
"Kak Alan? Dia tidak mungkin mengajakmu karena kamu pasti tidak bisa memasak. Mau merayunya juga tidak mungkin bisa, Kak Alan sudah seperti cinta mati pada Kak Sovia."
Irene sampai lupa dengan tujuannya menyingkirkan Sovia. Ia masih kesal dengan wanita yang tidak ada henti-hentinya mengganggu dirinya. Irene pasti akan membuat Alan suka padanya sekalipun dalam wujudnya yang sekarang.
"Kak Arvy? Tidak mungkin dia mengorbitkanmu jadi artis, kan ... itu sangat susah."
"Bilang saja kalau aku jelek!" celetuk Irene.
"Nah, itu kamu sadar diri. Setidaknya kamu harus memiliki kulit putih yang glowing serta cantik agar bisa menjadi artis."
"Jangan dibahas lagi. Itu aku juga sudah tahu."
"Kak Alfa juga tidak mungkin mengajakmu. Nanti baju-baju rancangannya bisa rusak olehmu. Memang kamu kan orang yang paling tidak punya bakat apa-apa."
Irene hanya senyum-senyum sendiri. Ares belum tahu seberapa sukses fashion show waktu itu sampai Kak Alfa sekarang jadi lebih ramah padanya. Penampilannya sudah tidak lagi dikomentari meskipun selera fashionnya memang jelek.
"Yakin, kalau aku tidak punya bakat apa-apa? Bukannya kamu sendiri yang sama sekali tidak ada bakat? Keempat kakakmu sudab sukses dan kamu masih jadi beban keluarga." Irene terkekeh.
Sindiran Irene begitu mengena di hati. Selama ini, Ares memang belum bisa melakukan apapun seperti kakak-kakaknya.
"Kenapa diam? Ucapanku benar, ya?" ledek Irene.
__ADS_1
Ares menjitak kepala Irene. "Sesama beban dilarang saling menyindir."