Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 243: Hamish dan Big-O


__ADS_3

"Kakak yakin untuk mengusir Irene dari sini?" tanya Ares. Ia merupakan orang yang tidak sepakat dengan apa yang kakaknya perbuat terhadap Irene.


"Aku harus apa? Dia tadi mendorong Mama sampai membentur lantai. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Mama? Susah payah kita bisa bertemu Mama, tega kamu melihat Mama terluka?" kilah Alan.


"Irene tidak mungkin seperti itu. Bisa jadi tidak sengaja. Kenapa sampai harus menyuruh Irene pergi?" protes Ares.


Alan terkekeh. "Tidak mungkin katamu? Bahkan dia bisa satu tahun membohongi kita semua. Mungkin Irene lebih membahayakan dari yang kita duga."


"Bahaya dari mana? Yang ada dia banyak menolong kita. Dia orang paling baik yang pernah aku temui." Ares membela Irene.


"Orang baik tidak mungkin berbohong."


"Dia punya alasannya melakukan hal itu. Memangnya Kakak tidak pernah berbohong? Aku tahu Kak Alan terlibat organisasi Black Shadow."


Alan langsung terdiam dengan perkataan Ares. Ia tidak menyangka adiknya akan mengetahui hal itu. Wajahnya menjadi panik.


"Jangan pernah mencampur organisasi itu dengan perusahaan, Kak. Kalau sampai itu terjadi, aku akan turun tangan!" ancam Ares.


Ia pernah tanpa sengaja melihat sebuah kartu yang tergeletak di meja Alan. Tenyata kartu tersebut merupakan kartu akses rahasia bagi anggota Black Shadow yang selama ini dicari-cari oleh pemerintah.


"Hah, apa yang kamu katakan? Aku tidak paham dengan ucapanmu!" Alan berusaha berkelit.


"Pokoknya, kembalikan Irene ke sini!" paksa Ares.


"Kenapa kamu ngotot ingin Irene di sini? Kamu suka dia?" tanya Alan sambil tertawa.


"Ya! Aku menyukai Irene!" jawab Ares tegas.


Tawa Alan seketika memudar. "Selama ini kamu ingin merebutnya dariku?" ia meras tengah bersaing dengan adiknya sendiri.

__ADS_1


Ares menatap tajam ke arah kakaknya seolah dengan tatapan itu ia ingin menegaskan bahwa dirinya kini telah dewasa.


"Dulu tidak, tapi mulai sekarang sepertinya iya. Lagipula, Kak Alan juga sudah memutuskan Irene. Boleh kan, kalau aku mendekatinya?" tanya Ares.


Alan memasang wajah kesal. "Asal kamu tahu yang membuat orang tua kita menghilang dan dikabarkan meninggal adalah ulah keluarga Abraham. Kamu mau bersanding dengan orang yang telah membuat keluargamu sendiri menderita?" tanyanya.


"Pelakunya bukan Irene, kan? Kenapa harus dipermasalahkan?"


Alan terdiam sesaat. Perkataan Ares sama seperti yang dikatakan ayahnya waktu itu. Ia jadi sedikit menyesal sudah terburu-buru menyuruh Irene pergi. Memang, Irene tidak mungkin sengaja melukai ibunya.


"Pokoknya, aku akan mencari Irene dan membawanya kembali. Terserah kalau Kak Alan masih tidak mau menerimanya!" tegas Ares.


***


Irene baru saja turun dari taksi di depan gedung apartemen milik Hamish. Ia masuk ke dalam menemui resepsionis dan menyampaikan maksud kedatangannya. Ia langsung diantar oleh seorang petugas menuju lantai apartemen Hamish.


Irene menekan kode nomor apartemen yang pernah Hamish beritahukan padanya.


Pintu berhasil terbuka. Ia mendorong pintu tersebut dan masuk ke dalam.


Saat ia masuk ke dalam, ada banyak lelaki yang menodongkan pistol ke arahnya. Seketika Irene mematung. Ia seperti seorang buronan yang terperangkap oleh sekumpulan polisi.


"Turunkan senjata kalian!"


Terdengar seruan Hamish yang membuat mereka semua menyimpan kembali senjatanya. Hamish berjalan menghampiri Irene yanv masih tertegun di depan pintu.


"Ayo masuk, tidak apa-apa," kata Hamish dengan nada yang lembut. Ia menggandeng tangan Irene dan mengajaknya masuk.


"Jangan khawatir, dia sepupuku," kata Hamish.

__ADS_1


Mereka yang awalnya tegang menjadi tenang setelah penjelasan yang Hamish berikan.


Dari beberapa lelaki asing yang ada di apartemen Hamish, ada satu sosok yang Irene kenal ada di sana. Namanya Feng, anggota Big-O yang sempat menahan anak buahnya.


Irene merasa gelisah ketika melihat sepupunya, Hamish, berada di sebuah ruangan bersama dengan seorang pria yang terkenal sebagai anggota organisasi Big-O. Hatinya mulai berdebar-debar ketika Hamish mengaku terlibat dalam bisnis ilegal yang menjual narkoba dan senjata selundupan.


Apa yang Irene khawatirkan selama ini akhirnya menjadi kenyataan. Hamish menjadi salah satu anggota organisasi hitam kelas dunia yang menjadi musuh negara.


"Kalian boleh pergi sekarang. Kita lanjutkan pembahasan ini besok di tempat biasa. Hari ini aku akan sibuk dengan sepupuku," kata Hamish.


"Baik, Bos. Kami pamit dulu," kata Feng dengan tatapan mata tajamnya ke arah Irene.


Kepergian Feng diikuti oleh keenam anak buahnya yang lain. Suasana seketika berubah menjadi hening.


"Irene, kamu tidak boleh bilang kepada siapapun tentang ini," kata Hamish dengan suara lembut.


Akan tetapi, Irene tidak bisa menutup mata dan membiarkan hal ini terjadi. Ia merasa bahwa ini adalah tindakan yang sangat salah dan berbahaya bagi orang-orang di sekitarnya. Irene memutuskan untuk berbicara dengan Hamish tentang pentingnya menjaga keamanan dan kesejahteraan orang-orang yang mereka cintai.


"Kak, bisnis ini sangat berbahaya. Kamu harus menghentikannya dan melaporkannya kepada pihak berwajib," ujar Irene dengan nada tegas.


"Apa yang kamu bicarakan? Melapor sama artinya menyerahkan diri pada polisi Irene. Kamu mau melihat aku dipenjara?" kata Hamish dengan nada rendah.


"Kak, bagaimanapun juga, bisnis ini tidak baik. Aku akan pergi saja kalau Kak Hamish tak mau berhenti!" jawab Irene dengan suara mantap.


Hamish tampak menghela napas. "Tunggu aku sebentar," katanya seraya pergi masuk ke dalam kamar. Tak berapa lama berselang, Hamish kembali kembali menghampiri Irene.


"Bisa-bisanya Kakak ikut organisasi seperti itu!" kesal Irene.


Sebelum pembahasan berlanjut, Hamish membekap mulut dan hidung Irene dengan sapu tangan. Irene berusaha melawan, namun karena sapu tangan tersebut telah diberi obat bius, kesadarannya perlahan menghilang.

__ADS_1


"Kamu sudah tahu dan aku tidak akan membiarkanmu pergi, Irene. Di luar akan sangat berbahaya karena kamu sudah tahu," kata Hamish seraya memapah tubuh Irene yang pingsan ke dalam kamarnya.


***


__ADS_2