Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 120:


__ADS_3

"Haduh! Susah berurusan dengan manusia kepala batu seperti ini! Mending aku pulang ke desa. Lama-lama stres dekat orang ini!"


Irene meluapkan kekesalan puncaknya. Ia masih tidak mau kalah debat dengan Alan yang kini bersamanya di dalam mobil menuju kantor. Sepanjang jalan ia menggerutu dan adu argumen dengan Alan.


Mendengar Irene mau pulang, Alan terdiam. Ia ingin Irene tetap berada di sana, di rumahnya.


"Pak, nanti sampai di rumah jangan langsung pergi. Antar aku sekalian ke stasiun. Aku mau pulang!" ancam Irene.


Alan menelan ludah. Ia tahu Irene orang yang cenderung kekeh pada kemauan. "Oke, oke! Kita ke rumah sakit saja!" Alan mengalah. "Cepat alihkan arah ke rumah sakit terdekat!" perintahnya.


"Baik, Pak."


"Puas sekarang?" tanya Alan kepada Irene saat sang asisten membelokkan mobilnya ke arah rumah sakit.


Irene tersenyum senang telah mengalahkan perdebatan dengan Alan. Sebenarnya, di balik kegalakannya tersembunyi kepedulian yang besar terhadap lelaki itu.


Sesampainya di rumah sakit, luka Alan diobati dan dibalut dengan perban. Irene merasa lega, kekhawatirannya sedikit berkurang.


Alan memandangi wajah Irene yang masih fokus melihat pekerjaan sang dokter. Irene sosok wanita yang menyebalkan sekaligus menyenangkan. Tak bisa diungkapkan sisi menariknya wanita biasa itu di mata Alan hingga ia bisa terpesona.

__ADS_1


"Aku sudah menyuruh asisten Kakak kembali ke kantor. Jadi, kita akan pulang naik taksi online yang baru aku pesan," kata Irene.


"Kenapa kamu menyuruh asistenku pergi? Memangnya kamu yang menggajinya? Aku sudah memenuhi keinginanmu untuk berobat ke rumah sakit. Sekarang, aku mau kembali ke kantor!"


"Tidak boleh! Kakak harus pulang dan istirahat di rumah. Kalau tidak mau, aku tidak akan peduli dan langsung pergi."


"Kamu ini sangat aneh, ya! Kenapa jadi suka mencampuri urusanku? Apa kamu tidak sadar kalau kamu masih kecil?" Alan gregetan kepada Irene.


"Memangnya kenapa kalau aku lebih muda dari Kakak? Yang namanya kedewasaan itu tidak bisa dipandang dari umur. Kalau Kak Alan merasa sudah sangat tua, pantas juga aku panggil Om!" Irene justru meledek Alan.


"Aku sumpahin kamu beneran nanti nikah dengan om-om!" Alan sampai menunjuk-nunjuk Irene.


Irene menjulurkan lidah mengejek. "Sudahlah, menurut saja apa susahnya?"


Irene langsung tercengang. Ia seolah sedang ketahuan memiliki perasaan yang rumit terhadap lelaki itu. "Begini ya, pemikiran ala orang dewasa? Lucu sekali?" Irene berpura-pura tenang. "Sangat jelas aku melakukan ini demi kebaikan Kakak. Kalau memang tidak suka, aku mau pergi!"


Alan tertawa kecil melihat salah tingkah Irene. "Baiklah, ayo kita pulang!" ajak Alan.


Ia tidak sembarangan mengambil keputusan. Sepertinya di perusahaan juga tidak ada masalah yang urgen sehingga ia bisa beristirahat di rumah sesuai keinginan Irene.

__ADS_1


Irene kembali memapah Alan berjalan. Di luar rumah sakit, taksi pesanan Irene rupanya telah menunggu. Keduanya segera masuk untuk diantarkan pulang ke rumah.


Dalam perjalanan pulang, lagu baru milik Arvy diputar. Alan mendengarkan dengan seksama lagu milik adiknya itu. Lagunya terdengar bagus. Namun, ia merasa ada sesuatu yang aneh.


Ia rasa lagu Arvy memiliki kemiripan dengan gaya Hyena dalam menciptakan lagu. Penyanyi misterius yang karyanya masih viral dan terkenal di dunia maya tanpa diketahui secara jelas seperti apa wajah penyanyi aslinya.


"Ini tidak mungkin, kan? Arvy bukan orang yang suka menjiplak orang lain. Tapi, kenapa lagunya seperti ini, ya?" gumam Alan.


"Kenapa, Kak?" tanya Irene.


"Ah, tidak apa-apa." Alan tak mau memberitahukan apapun kepada Irene.


***


"Tuan Besar ... Sepertinya telah terjadi sesuatu dengan Tuan Alan," seorang pelayan mengunjungi perpustakaan tempat kakek tengah membaca.


"Memangnya kenapa?" kakek meletakkan kacamata bacanya dan menoleh ke arah pelayannya.


"Tuan Alan ... Kakinya seperti pincang."

__ADS_1


Mendengar hal tersebut, kakek segera beranjak dari tempatnya untuk menemui Alan. Ia jadi khawatir dengan informasi yang baru ia dengar.


Kakek melihat Irene masuk rumah sembari memapah Alan. Bukannya merasa khawatir, kakek justru tersenyum lebar. Ia merasa keduanya semakin dekat.


__ADS_2