
"Kita laporkan saja mereka ke polisi." Harris mengambil ponsel dari dalam sakunya.
"Sabar dulu, Om." Alex menahan keinginan pamannya. "Mereka ini memang masih anak-anak, pikirannya suka labil. Ini juga salahku yang sudah membuat mereka kesal." Ia mencoba membela adik-adiknya.
"Mereka sudah cukup dewasa untuk bertanggung jawab pada perbuatan yang mereka lakukan, Alex." Harris menepis tangan Alex.
"Sebenarnya kami hanya ingin pamer kemampuan kepada kalian," ucap Irene.
Perkataan Irene membuat semua perhatian tertuju padanya, termasuk Harris yang tidak jadi menghubungi polisi.
"Selain Kakak itu, kami juga bisa meretas sistem perusahaan ini. Yang tadi hanya sedikit main-main, iya kan, Ares ...." Irene menoleh ke arah Ares.
Ares yang tidak tahu dengan rencana Irene hanya mengangguk saja dan tetap berlagak sok tenang. Padahal, pikirannya sudah ruwet ketika mendengar kata-kata tentang penjara.
"Kalau mau, kami bisa membocorkan data perusahaan kepada pihak lain. Terserah nanti mau dipenjara atau tidak, aku rasa akan ada perusahaan lain yang akan merekrut kami sebagai karyawan mereka. Mungkin juga pihak kepolisian sendiri. Sayang kan, anak-anak cerdas seperti kami tidak diberi wadah yang benar untuk berprestasi."
"Mengingat ini merupakan perusahaan keluarga Narendra, sebagai teman Ares yang baik, tentunya kami berharap bisa diterima bekerja di sini. Kalau ditolak, mungkin kami akan bekerja di perusahaan lain."
"Eh, berani-beraninya mengancam orang tua!" Harris kembali murka. Januar berusaha menahan saudaranya.
"Kami tidak sedang mengancam, Om ... kami hanya sedang pamer kemampuan, kok." Irene tetap ngeyel.
Alex semakin bingung oleh kedua adiknya. Memang benar, ia pernah menolak kemauan Irene dan Alex untuk bekerja di perusahaan. Tapi, maksudnya agar mereka belajar bisnis dulu di luar. Persaingan di dalam perusahaan lebih ketat daripada di tempat lain. Tidak ia sangka jika kedua anak itu malah meretas sistem perusahaan demi mendapatkan perhatian.
"Ares, Om tidak menyangka kalau kamu ternyata cukup cerdas," puji Januar.
"Ares memang sehebat itu, Om ... saya juga diajari oleh dia. Tadi juga Ares yang suruh saya membantu. Katanya mau memberi pelajaran untuk orang yang sudah berani menolaknya masuk ke perusahaan." Irene menepuk-nepuk pundak Ares.
Perkataan Irene sangat horor untuk Ares. Wanita itu terlalu berlebihan memujinya, sekaligus ingin menjadikan dia kambing hitam karena sebenarnya ide itu berasal dari Irene sendiri.
"Baiklah, kalau begitu, mulai besok Ares bisa masuk untuk magang di perusahaan."
Ares membulatkan mata mendengar perkataan pamannya. Ia tidak menyangka bahwa keisengannya bisa membawanya untuk masuk diterima di perusahaan itu.
__ADS_1
"Januar! Maksudmu apa? Ares bahkan belum lulus kuliah. Jangan mengubah sistem yang sudah ada di sini!" Harris tampaknya keberatan dengan keputusan Januar.
"Memangnya kenapa? Ares masih tetap bisa bekerja sembari kuliah. Kita sudah tahu kemampuan hebatnya. Bukankah perusahaan ini memang bertujuan untuk memajukan keturunan keluarga Narendra yang berbakat? Ijasah hanyalah selembar kertas, yang terpenting ilmu yang dikuasainya."
"Aku tidak yakin dia bisa bekerja sambil kuliah." Harris meragukan kemampuan Ares.
"Saya mampu, Om. Jangan khawatir!" sahut Ares. Ia mematahkan keraguan sang paman dengan percaya diri.
"Om juga percaya padamu, Ares. Jangan sia-siakan dukungan Om," ucap Januar.
"Pasti, Om."
"Bagaimana dengan saya? Saya juga mau magang di sini." Irene ikut-ikutan mencalonkan diri.
"Kamu bukan bagian dari keluarga Narendra, jadi tidak bisa!" tegas Harris.
"Ya sudah, kalau begitu kita akan perang setiap hari, Ares. Aku akan mengganggu perusahaanmu, karena aku akan mendapatkan pekerjaan di perusahaan saingan," ancam Irene.
Harris hendak memprotes keputusan Januar, namun ia tidak bisa.
"Kita kembali saja ke ruang rapat," ajak Januar.
Harris mengalah. Keputusan tertinggi perusahaan memang masih dipegang oleh Januar. Jika ia sudah mengambil keputusan, maka tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengalah.
Alex masih berdiri di sana memandangi dua anak muda yang tampak bahagia dan tidak merasa bersalah sama sekali.
"Maaf ya Kak, kami terpaksa melakukan ini supaya bisa diterima kerja di sini," ucap Irene dengan senyuman lebarnya.
"Kalian memang nakal."
"Sebenarnya ini ide Irene, Kak." Ares membela dirinya.
"Siapapun yang punya ide, kamu juga sudah ikut-ikutan, Res." Alex kembali menghela napas. "Sudahlah! Setelah ini kalian pulang saja. Aku masih harus menyelesaikan rapat yang tertunda gara-gara kalian."
__ADS_1
Alex juga ikut pergi meninggalkan mereka. Kini, tersisa Ares dan Irene beserta hacker perusahaan yang ada di sana.
"Apa kita pulang sekarang?" tanya Ares.
"Untuk apa lagi kita di sini? Bukankah misi kita sudah berhasil?"
Ares dan Irene memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan, perasaan mereka sangat senang. Bahkan, keduanya kompak teriak-teriak dari atas motor saking girangnya.
Ares tidak menyangka rencana konyol Irene yang sangat beresiko bisa membawa mereka masuk perusahaan tanpa perlu melampirkan pengalaman bekerja. Berbekal keisengan memanipulasi sistem perusahaan, mereka berhasil direkrut untuk bekerja.
"Ares!" Seru Irene yang duduk di belakang.
"Kenapa?" tanya Ares dengan nada berteriak karena suara tak terdengar jelas saat mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.
"Sepertinya ada yang sedang mengikuti kita!" seru Irene lagi.
Ares langsung menatap ke arah spion. Benar saja, di belakang mereka ada tiga iring-iringan motor yang membuntutinya. Dari warna dan jenis motornya, Ares sepertinya tahu siapa mereka.
Ares memacu motornya lebih kencang lagi. Irene berpegangan erat pada pinggang Ares. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan jarak pengejar jauh dari mereka.
Setibanya di area yang sepi, tiba-tiba ada pohon tumbang yang melintang di jalan. Terpaksa Ares menghentikan laju motornya. Seakan semua sudah direncanakan, sepertinya mereka sudah tahu akan bertemu dengan Ares di jalan dan ingin mencelakainya.
"Aku minta maaf padamu, tapi sepertinya kita memang akan mati bersama hari ini," ucap Ares seraya meminta Irene turun dari motornya.
Tiga motor yang sejak tadi membuntuti mereka akhirnya menyusul. Mereka ada enam orang. Salah satunya Fathir, musuh bebuyutan di kampus. Meskipun sudah sepakat untuk berdamai, Ares dan Fathir masih sering bentrok.
"Coba kita lihat ini ... sepertinya mereka memang benar-benar pacaran. Matamu sudah buta ya, Res, sampai memilih dia jadi pacar," ejek Fathir.
"Kalau itu membuatmu senang, anggap saja kami pacaran!" ucap Ares. Ia tidak ingin melibatkan Irene dalam bahaya. Ujung dari pertemuan mereka pasti perkelahian.
"Hahaha ... fans-mu akan sangat kecewa setelah tahu seperti apa wanita yang kamu pilih."
"Aku hidup untuk diriku sendiri, bukan demi penilaian tentang orang lain. Kalau kamu sudah selesai dengan urusan kita, izinkan aku pergi. Jangan jadi pengecut mengajakku berkelahi di depan wanita."
__ADS_1