Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 247: Pergi (I)


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Irene merasa gelisah ketika ia bersama Hamish menuju kediaman keluarga Narendra. Membawa iring-iringan tiga mobil dengan belasan anak buah yang Hamish ikut sertakan menurutnya sangat berlebihan.


Sebagai seorang perempuan yang mandiri dan berani, Irene merasa malu karena ia harus kembali ke rumah itu untuk mengambil barang yang ia tinggalkan di sana. Ia merasa telah terusir oleh Alan dan tidak pantas untuk kembali lagi. Namun, ia tahu bahwa ia tidak memiliki pilihan lain.


"Kak, biar aku saja nanti yang masuk ke dalam. Kak Hamish dan lainnya tunggu di depan gerbang," pinta Irene.


"Tidak. Aku tidak akan membiarkan kamu masuk ke dalam sendiri," kata Hamish memasang sikap waspadanya.


"Aku janji tidak akan macam-macam. Setelah membawa barang, aku akan langsung pergi," rayu Irene.


Hamish menoleh ke arah Irene dan memberikan tatapan seriusnya. "Aku juga ingin tahu seperti apa wajah lelaki yang berani mengusirmu."


Sebelumnya Irene telah bercerita agar Hamish tak perlu khawatir dengan Alan yang menjadi tunangannya. Ia bilang lelaki itu sudah mengusirnya dan tidak penting lagi jika ia pergi dari rumah itu. Namun, Hamish justru bertambah emosi dan hendak membunuh Alan. Ia tidak terima Irene diperlakukan dengan tidak baik.


"Kak," rengek Irene. "Bisa tidak berhenti membuat aku cemas? Kemauanmu sudah aku turuti, aku mau ikut Kakak ke luar negeri. Apa itu tidak cukup?"


"Biar mereka tahu siapa yang sebenarnya sedang mereka hadapi. Berani-beraninya mereka berbuat kasar kepadamu. Aku bunuh saja mereka semua!"


Hamish mengambil sepucuk pistol dari laci tersembunyi mobil. Irene langsung memegangi tangan Hamish untuk mencegahnya.


"Kak! Please ...," pinta Irene.


"Ini hanya untuk berjaga-jaga saja, tenanglah," kilah Hamish. Ia tetap memasukkan pistol tersebut ke dalam saku jasnya.


"Kalau sampai Kakak membuat kekacauan di dalam, aku tidak jadi pergi bersamamu!" ancam Irene.


Hamish menyeringai.


Beberapa saat kemudian, rombongan mereka sampai di depan gerbang kediaman keluarga Narendra. Beberapa penjaga gerbang tampak menghadang di depan gerbang.


"Sialan! Kenapa mereka menghalang-halangi di depan!" ucap Hamish dengan nada emosi. Ia hendak mengeluarkan senjatanya, namun ditahan oleh Irene.


"Biar aku saja yang bicara dengan mereka. Jangan berbuat macam-macam!" kata Irene.


Ia lantas turun dari mobil dan menghampiri ketiga penjaga gerbang itu.


"Nona Irene, Anda sudah kembali?" tanya salah satu dari mereka.


Keberadaan Irene di sana memang sudah dikenal. Ia dekat dengan seluruh pelayan dan pekerja yang ada di rumah. Bahkan setelah penampilannya berubah, ia tetap bersikap sopan kepada seluruh penghuni rumah.

__ADS_1


"Maaf ya, Pak. Aku datang bersama kakak dan para pengawalku. Ijinkan kami masuk sebentar, aku hanya ingin mengemasi barang-barangku," pinta Irene dengan nada lembut.


"Aduh, bagaimana, ya? Apa Nona sudah mengatakan kepada Tuan Muda?" penjaga tersebut terlihat ragu untuk mengijinkan Irene dan rombongannya masuk.


"Saya janji tidak akan terjadi apa-apa di dalam. Malah kalau tidak diijinkan, Kakakku mungkin akan mengamuk. Percaya saja kepada saya," bujuk Irene.


Akhirnya setelah berdiskusi bertiga mereka sepakat untuk membuka gerbang. Irene kembali ke dalam mobil dan duduk di samping Hamish.


"Ternyata kamu memang sudah sangat akrab dengan penghuni rumah ini," kata Hamish.


"Ingat, Kak! Jangan berbuat keterlaluan di dalam. Aku juga orangnya bisa nekad."


Sesampainya di halaman rumah, rombongan mobil berhenti. Hamish meminta anak buahnya untuk berjaga di luar. Ia membawa serta dua orang untuk ikut masuk ke dalam bersama Irene.


"Nona Irene?"


Seorang pelayan tampak terkejut melihat kedatangan Irene. Ia lebih terkejut lagi melihat orang-orang yang datang bersama Irene. Mereka seperti preman yang menyeramkan.


"Ijinkan aku masuk. Aku ingin mengambil barang-barangku," kata Irene.


"Tapi, Nona ...."


Terdengar suara seruan dari arah dalam. Indira berjalan mendekat ke arah pintu. Ia menatap dengan sinis keberadaan Irene di sana.


"Untuk apa kamu kembali lagi?" tanya Indira dengan nada ketus.


"Maaf, Tante. Aku mau mengambil barang-barangku yang tertinggal," ucap Irene dengan nada lembut.


Indira tertawa kecil mengejek. "Hahaha ... Apa itu hanya alasanmu saja untuk bisa bertemu dengan putraku?"


"Tidak sama sekali, Tante. Aku hanya mau mengambil barang yang tertinggal. Setelah ini aku akan pergi ke luar negeri bersama kakakku," jawab Irene.


"Boleh saja, tapi harus ditemani pelayan. Aku takut kamu akan mengambil sesuatu di rumah ini!" ejek Indira.


Hamish tidak terima. Ia mengeluarkan pistol di dalam saku jas dan mengarahkan tepat ke kepala Indira.


"Ah!" Sontak Indira terperanjat kaget.


"Kak Hamish!" tegur Irene. Ia kesal menghadapi lelaki yang tempramen itu.

__ADS_1


"Jangan menghalangi Irene atau aku bunuh kalian semua!" ancam Hamish. Kedua anak buahnya yang lain ikut mengeluarkan pistol yang mereka bawa.


Indira langsung terdiam. Para pelayan juga tak berani berbuat apa-apa.


Irene melenggang masuk dengan bebas ke dalam rumah megah bak istana itu. Ia seperti tengah dikawal oleh bodyguard pribadinya.


Irene mengajak ketiga lelaki itu ikut bersama naik lift menuju ke lantai atas. Sementara, anak buah Hamish yang lain berjaga di depan. Ada pula yang masuk dan memastikan para pelayan tetap tenang.


Ketika mereka tiba di lantai atas, Irene merasa seperti sedang dikejar-kejar oleh masa lalu. Ia teringat kembali pada saat-saat sulit yang pernah ia alami di rumah itu. Namun, ia tetap berusaha untuk tetap tenang dan fokus pada tujuannya.


Sementara itu, Hamish merasa semakin waspada karena ia tidak tahu siapa yang akan muncul dan apa yang akan terjadi. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melindungi Irene dengan segala cara.


Tiba-tiba, mereka mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Hamish segera mengambil posisi bertahan, siap melindungi Irene. Namun, yang muncul adalah seorang lelaki yang ternyata hanya seorang pelayan. Todongan senjata Hamish membuat pelayan itu terdiam di tempatnya.


Irene segera mengambil barang yang ia cari dan bersiap-siap untuk pergi. Namun, tiba-tiba muncul seorang lelaki yang Irene kenal dengan baik. Ares baru keluar dari kamarnya.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Ares.


Hamish dan kedua anak buahnya mengacungkan pistol ke arah Ares.


Ares mengira rumahnya tengah dirampok.


"Irene?" ia terkejut saat melihat Irene keluar dari kamar dan membawa dua buah koper yang penuh dengan barang.


"Oh, Ares," sapa Irene. "Sudah, Kak. Turunkan senjata kalian. Jangan membuat orang takut," pintanya.


"Jadi ini lelaki itu?" tanya Hamish dengan raut wajah kesal.


"Bukan, dia bukan Alan. Dia Ares, teman kampusku," kata Irene.


Tetap saja Hamish tidak merasa senang dengan lelaki itu. Ia menganggap semua yang mendekati Irene adalah musuhnya. Tidak akan ia biarkan siapapun memiliki Irene selain dirinya.


"Kamu sedang apa? Apa yang terjadi?" tanya Ares penasaran. Ia juga sempat memandang ke bawah. Di sana tampak orang-orang asing juga tengah mengepung rumah. Ada ibunya juga di lantai bawah.


"Aku hanya mau mengambil barang, Res. Aku mau pergi lagi. Jangan khawatir, tidak akan terjadi apa-apa di sini," kata Irene.


"Memang orang-orang ini siapa?" tanya Ares ingin tahu. Setelah Irene pergi, ia sangat khawatir dengan kondisi wanita itu. Saat Irene kembali, ternyata datang bersama sekumpulan lelaki yang berpenampilan seperti preman.


"Mereka pengawalku. Abaikan saja. Besok aku mau pindah ke luar negeri."

__ADS_1


__ADS_2