
Alex duduk sendirian di ruang kerjanya, terpaku dalam pemikirannya. Wajahnya terlihat penuh kebimbangan dan kebingungan. Baginya, Erika adalah seseorang yang berarti dan istimewa dalam hidupnya. Namun, dia terlalu takut untuk mengungkapkan perasaannya dengan jujur. Konflik dalam dirinya membuatnya merenungi pilihan yang sulit.
Saat itulah, pintu ruangannya perlahan terbuka dan Irene masuk dengan langkah hati-hati. Dia melihat Alex yang terlihat kusut dan bingung, dan mencoba mengetahui apa yang sedang terjadi.
"Oh, kamu datang, Ren?" sapa Alex.
"Aku disuruh Kak Alan datang. Tapi, dia ada urusan sebentar. Jadi, aku mampir sebentar ke ruanganmu, Kak."
"Kalau begitu, duduklah!" Alex bangkit dari tempatnya dan mengarahkan Irene menuju ke sofa ruangannya.
"Erika sudah bercerita banyak padaku, Kak. Tadi dia juga menangis," kata Irene tanpa basa-basi.
Alex hanya bisa diam.
"Jujur, memangnya Kak Alex benar-benar tidak ada perasaan dengan Erika?" tanya Irene memastikan.
Alex mengangkat kepalanya, tatapan matanya dipenuhi dengan ketidakpastian. Dia merasakan kegugupan dan keragu-raguan menghampirinya saat Irene mengungkapkan kejadian yang terjadi.
"Irene, aku... Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Erika adalah seseorang yang sangat berarti bagiku. Aku tidak ingin kehilangannya sebagai sahabatku."
Irene merasa gemas dengan jawaban ambigu itu. "Kak, jawab yang pasti, dong! Sebenarnya Kakak suka sama Erika atau nggak? Jangan pakai embel-embel sahabat."
"Kita kan memang sejak dulu sudah jadi sahabat."
Irene menghela napas panjang. "Kak Alex, Erika sedang menghadapi situasi yang sulit. Dia ingin tahu kebenaran perasaanmu. Apakah kamu benar-benar tidak memiliki rasa terhadapnya?" ia mengulang pertanyaan yang sama.
Alex terdiam sesaat. "Aku... Aku tidak tahu, Irene. Mungkin, selama ini aku telah menekan perasaanku terhadapnya. Aku sangat menghargai Erika. Sejak dulu posisi Erika tidak pernah berubah dalam hatiku."
"Kak, kamu harus mempertimbangkan apa yang sebenarnya kamu inginkan. Apakah kamu rela melihat Erika menikah dengan lelaki pilihan keluarganya? Setelah itu hubungan kalian tidak akan lagi sama," nasihat Irene.
Alex semakin bimbang. "Aku tidak tahu, Irene. Aku tidak ingin kehilangan dia, tapi aku juga tidak ingin menahannya dalam kebahagiaan yang tidak sesuai dengan hatinya."
Irene mengambil jeda sejenak, membiarkan kata-kata mereka saling terserap dalam keheningan ruangan. Dia tahu betapa rumitnya situasi ini, dan dia ingin membantu Alex menemukan kejelasan dalam hatinya sendiri.
__ADS_1
"Pertimbangkan baik-baik apa yang sebenarnya kamu rasakan terhadap Erika. Jangan biarkan rasa takut menghalangi kebahagiaanmu dan kebahagiaannya. Jika kamu benar-benar peduli padanya, maka ada baiknya kamu mengungkapkan perasaanmu. Tapi, kalau memang tidak ada, ya sudah, tinggalkan Erika."
Alex menatap Irene dengan campuran antara harapan dan kegelisahan. Kata-katanya meresap ke dalam hati.
Di tengah perbincangan, ponsel Irene berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari Alan.
"Halo, Kak?" sapa Irene sembari mendekatkan telepon ke telinga.
"Kamu dimana?"
"Aku di ruangan Kak Alex sebentar." Irene menutup mulut. Ia keceplosan.
"Apa? Kenapa kamu ada di sana?"
Seperti yang sudah diduga, Alan pasti akan marah mendengarnya.
"Ada urusan sebentar, kok. Ini aku sudah selesai," kilah Irene.
"Aku kan sudah bilang tunggu di ruanganku saja. Kenapa malah di sana?"
Irene mematikan sambungan teleponnya. "Kalau begitu, sudah dulu ya, Kak! Aku dicari-cari Kak Alan!" katanya.
"Dicari atau dimarahi?" ledek Alex. "Dia pasti marah kamu datang ke sini, kan," tebak Alex.
Irene hanya tertawa kecil. "Sudahlah! Aku bisa mengatasinya sendiri."
"Maafkan aku ya, Ren, pernah bersikap buruk kepadamu. Dan terima kasih selama ini kamu tetap mendukungku," kata Alex. Ia kembali mengingat perbuatannya terdahulu kepada Irene.
"Hal yang sudah berlalu tidak perlu diungkit-ungkit lagi, Kak. Aku percaya kamu bisa jadi orang yang lebih baik," kata Irene optimis. "Aku duluan ya, Kak!" pamitnya.
Irene bergegas ke ruangan Alan, di mana Alan sudah duduk dengan wajah cemberut dan kesal. Irene merasa perlu meredakan kemarahan Alan, jadi dia mendekat dan memeluknya dengan penuh kelembutan.
"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud membuatmu kesal. Aku hanya perlu sebentar ke ruangan Alex untuk membahas masalah Erika," kata Irene sembari memeluk suaminya dengan mesra.
__ADS_1
Alan menatap Irene dengan ekspresi campur aduk antara kesal dan penasaran. "Kenapa kamu harus ke ruangan Alex untuk membahas masalah Erika? Bukankah itu bisa kamu bicarakan di tempat lain?"
Alan selalu kesal setiap melihat istrinya dekat dengan lelaki lain sekalipun saudaranya sendiri. Ia tahu jika Irene bukanlah wanita yang suka tebar pesona. Ia tahu istrinya hanya mencintai dirinya. Namun, sisi posesif dalam dirinya terkadang tidak rela untuk berbagi perhatian Irene dengan orang lain.
Irene melepaskan pelukan dan menjawab dengan lembut. "Aku tahu kamu kesal, Sayang, tapi percayalah padaku. Ada alasan kuat mengapa aku harus bertemu dengan Alex. Kami hanya membahas masalah Erika, tidak ada yang lain."
Alan menghela nafas panjang, mencoba meredakan kemarahannya. "Baiklah, ceritakan padaku apa yang terjadi."
Irene menjelaskan dengan jelas bahwa Erika menangis di hadapannya dan mencurahkan isi hatinya. Dia ingin memastikan bahwa Alex tidak memiliki perasaan terhadap Erika dan bersedia menerima jika Erika menikah dengan pilihan keluarganya.
"Aku merasa penting untuk memberi tahu Alex apa yang Erika rasakan. Aku ingin memastikan bahwa dia tahu bahwa Erika sedang mengalami kesulitan emosional dan mempertimbangkan pernikahan yang tidak diinginkannya."
Alan masih tampak kesal, tetapi mendengar penjelasan Irene membuatnya merasa lebih tenang. "Aku tetap kesal karena kamu mengabaikan permintaanku untuk menunggu di ruanganku, tetapi aku mengerti niat baikmu. Jaga hubunganmu dengan Alex dalam batas yang tepat, ya?"
Irene mengangguk sambil tersenyum, merasa lega bahwa Alan mulai melunak. "Tentu, Sayang. Aku tahu batasannya. Lagi pula, Kakak juga tahu sifatku."
"Baiklah, aku percaya padamu. Ayo, pelukan lagi!" pinta Alan sembari merentangkan kedua tangannya.
Mereka saling berpelukan, meleburkan ketegangan di antara mereka. Irene merasa lega bahwa Alan akhirnya memahami niat baiknya, sementara Alan merasa lebih tenang karena Irene tidak melibatkan diri dalam situasi yang rumit.
Mereka pun berciuman ringan namun lambat laun Alan sepertinya semakin terpancing melakukan hal yang lebih. Tangannya sudah bergentayangan menggerayangi tubuh Irene.
"Sayang, Sayang ... Berhenti. Kamu lupa kita masih ada di kantor?" tegur Irene. Ia memegangi tangan Alan yang sudah hinggap dengan lincah di salah satu dadanya.
Alan mengambil sebuah remot di atas meja. Ia menekannya sehingga pintu ruangan terkunci dan tirai-tirai jendela kaca menutup sendiri.
"Kalau diingat-ingat, kita belum pernah melakukakannya di dalam kantor, kan?" tanya Alan dengan tatapan yang penuh arti.
"Apaan sih, Kak! Keburu jam makan siang habis, ayo pergi!" ajak Irene.
Alan menarik pinggang istrinya hingga tubuh mereka menempel. "Satu kali saja, Sayang. Oke," rayunya.
Irene menggeleng. "Nanti kamu tidak bisa konsentrasi bekerja kalau kita melakukan di sini. Kamu akan terbayang-bayang terus malah nggak fokus kerja," ujarnya.
__ADS_1
Alan memeluk wanitanya dengan erat. "Biarkan saja! Aku bisa memanggilmu untuk datang kalau sedang ingin seperti ini." ia seperti sudah terhanyut dalam fantasinya sendiri.