Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 182


__ADS_3

"Irene, aku punya berita kurang menyenangkan untukmu."


Myria menemui Irene di rumah sakit dan mengajaknya bicara berdua di area taman rumah sakit.


"Apa itu, Tante?" tanya Irene. Ia berusaha menguatkan hati untuk mendengarkan kabar terburuk yang akan disampaikan oleh bibinya. Meskipun Adila hanya teman, namun ia merasa punya tanggung jawab karena dia yang telah mengajak Adila.


"Tim yang aku kirimkan menemukan mayat wanita dengan ciri-ciri yang mirip dengan Adila, Irene," ucap Myria dengan raut wajah menyesal.


"Dimana kamu menemukan Adila?" terdengar suara sahutan dari Arvy yang ternyata berada di dekat mereka. Ia terlihat panik mendengar ucapan Myria tentang kekasihnya.


"Dia ... Sudah dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit ini untuk dilakukan identifikasi lebih lanjut. Mungkin sudah sampai di ruang jenazah."


"Orang tua Adila juga sudah datang. Aku akan memberitahukan kepada mereka."


Mata Arvy tampak berkaca-kaca. Rasanya ia tidak akan sanggup jika Adila benar-benar meninggalkannya dengan cara seperti itu. Ia bahkan belum mewujudkan harapannya untuk menikahi kekasihnya.


***


Mereka berkumpul di ruang jenazah mengikuti dokter yang telah mengidentifikasi mayat tersebut. Ibu Adila tampak menangis sesenggukkan, sementara ayah Adila terlihat tegar untuk menguatkan istrinya. Alan menggandeng tangan Irene yang sedari tadi sudah menangis.


"Kondisi mayatnya mengalami luka parah di bagian wajah sampai tidak bisa kami kenali. Tapi, dari ciri-ciri pakaian terakhir yang dikenakan, diduga mayat ini merupakan Nona Adila. Jika kalian tidak siap secara mental, lebih baik jangan melihatnya," nasihat dokter.


"Silakan dibuka saja, Dokter. Kami datang ke sini memang untuk melihatnya," ucap ayah Adila.


Ia dan istrinya jauh-jauh terbang untuk menyusul putrinya yang dikabarkan hilang. Hampir seminggu Adila belum ditemukan. Apapun kondisinya, ia berharap Adila tetap bisa ditemukan.


Dokter perlahan membuka kain penutup yang menyelimuti mayat tersebut. Benar apa yang dokter katakan, wajahnya terlihat hancur dan tidak bisa dikenali.


"Adila ... Tidak ...." Ibu Adila berteriak histeris saat melihat jasad putrinya. Wanita itu sampai pingsan saking syoknya. Untung saja ayah Adila sigap menahan tubuh istrinya.


Petugas medis membantu membawa ibu Adila ke ruang perawatan. Ayah Adila ikut serta.

__ADS_1


Di ruangan tersebut tersisa Alan, Irene dan Arvy. Mereka menguatkan hati memandangi mayat Adila yang ada di hadapan mereka. Irene menangis tersesu-sedu. Ia memeluk Alan dan menyembunyikan wajahnya di tubuh Alan.


Arvy berjalan mendekat dan mengamatinya dengan seksama. Ia tahu betul seperti apa Adila.


"Ini bukan Adila. Aku yakin ini bukan Adila," ucap Arvy.


"Arvy, kamu jangan seperti itu. Mereka juga susah melakukan identifikasi," ujar Alan.


"Pendapat mereka bisa saja salah, Kak. Aku yakin ini bukan Adila. Dia tidak memakai cincin yang aku berikan. Di atas dada kirinya juga ada tatto kupu-kupu kecil. Tapi, dia tidak punya."


Meskipun wajah wanita itu tidak bisa ia kenali, namun beberapa ciri-ciri Adila ia hafal. Arvy tak mengakui wanita itu sebagai Adila.


Arvy keluar ruangan menemui ayah Adila yang masih menemani sang istri. Arvy menyampaikan bahwa dirinya yakin jika itu bukan Adila. Ia menyarankan agar ayah Adila mengajukan permohonan tes DNA.


Seharusnya prosedur tes DNA memerlukan waktu yang cukup lama dan panjang. Namun, karena bantuan Myria, mereka bisa menyelesaikannya dalam waktu yang singkat. Apalagi itu untuk kepentingan identifikasi yang tidak dapat ditunda-tunda.


"Hasil dari tes DNA yang telah kami lakukan ternyata mayat tersebut bukanlah Nona Adila," kata dokter.


Drrtt .... Drrtt ....


Ponsel Arvy berbunyi. Masuk panggilan dari pihak kedutaan besar yang kemarin sempat dihubunginya.


"Halo?" sapa Arvy.


"Halo, Pak Arvy. Kami ingin menyampaikan informasi. Kemarin, ternyata orang yang Anda laporkan telah menghilang, atas nama Adila Saputri, baru saja datang ke kantor kami."


"Apa?" Arvy terkejut.


"Benar, Pak. Nona Adila Saputri datang melaporkan kartu identitasnya telah menghilang dan meminta untuk diuruskan agar bisa pulang ke tanah air."


"Lalu, dia sekarang dimana?" tanya Arvy.

__ADS_1


"Kami tidak tahu, Pak. Kalau menurut penuturan Nona Adila sendiri, dia ingin langsung pulang ke tanah air. Bahkan pihak kami yang membantu membelikan tiket untuknya."


Arvy tertegun. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Kalau begitu, terima kasih atas informasinya, Pak," ucapnya seraya mematikan sambungan telepon.


"Kenapa, Arvy?" Alan sangat ingin tahu dengan adiknya. Wajah Arvy terlihat pucat.


"Apa ada kabar tentang Adila?" sambung ibu Adila yang penasaran.


"Barusan aku mendapatkan telepon dari pihak kedutaan besar. Mereka bilang kemarin sempat melihat Adila datang ke kantor mereka dan meminta untuk diuruskan surat-surat identitas yang baru."


"Benarkah? Lalu, dimana Adila sekarang?" Ibu Adila terlihat cukup senang mendengarnya.


"Mereka bilang, Adila meminta pulang kentanah air. Makanya pihak kedutaan besar menguruskan kepulangannya. Kalau menurut mereka, Adila sudah pulang."


"Ini aneh," gumam Irene. Ia merasa ada yang janggal dengan keterangan yang diberikan pihak kedutaan besar.


"Kalau memang Adila baik-baik saja, seharusnya ia menghubungi salah satu dari kita. Kalaupun dia lupa nomor ponsel kita, dia bisa meminta bantuan kepada tim penyelamat untuk diantarkan ke penginapan kita," ujar Irene.


Apa yang Irene katakan memang ada benarnya juga. Mereka juga berpikir itu janggal.


"Sudahlah, kita coba berpikiran positif saja dulu. Bagaimana kalau kita kembali ke tanah air untuk membuktikan kebenarannya?" usul Alan. "Kalau memang Adila sudah pulang, kita juga pasti akan bertemu dengannya."


"Pa, ayo kita pulang sekarang. Sepertinya Adila memang sudah pulang ke rumah, Pa." bujuk Ibu Adila.


Arvy masih merenungi perkataan Irene. Kalau memang Adila selamat dan baik-baik saja, seharuanya Adila sudah menghubunginya terlebih dahulu.


***


Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya mereka kembali ke tanah air. Dari bandara mereka langsung menaiki mobil jemputan menuju kediaman keluarga Adila. Sayangnya, ternyata Adila tak berada di sana.


Mereka kembali kebingungan karena Adila tidak ada dimanapun termasuk di rumah besar itu. Alan mengajak Irene pulang ke rumah untuk istirahat.

__ADS_1


__ADS_2