
"Mau kemana?" tanya Irene.
Meera menunjukkan raut kesal dengan keberadaan wanita tersebut. "Memangnya apa urusanmu?" Ia menunjukkan sikap angkuh.
"Kalau kamu mau mengecek rekaman CCTV di ruang kelas, tidak ada. Ruang kelas kita kita ada CCTV-nya."
Meera terkejut Irene bisa membaca niatnya.
"Kamu pasti sedang gugup, ya?"
"Hahaha ... untuk apa aku gugup? Kan kamu yang mencuri." Meera mengelak.
Irene dan Hansen sudah meminta waktu untuk membuktikan pelaku sebenarnya. Akan tetapi, sampai saat ini Irene sendiri belum menemukan bukti kuat agar Meera mau mengaku. Dia tahu Meera tidak akan seceroboh itu meninggalkan bukti kejahatannya. Terbukti dengan tidak adanya CCTV di ruang kelas. Ia sudah hampir putus asa sampai akhirnya bertemu Meera di sana. Wanita itu pasti sudah mendengar desas-desus yang disebarnya kalau ada rekaman CCTV yang menunjukkan siapa pelakunya.
"Polisi sudah mendapatkan sidik jari yang tertinggal di jam tangan Jeha. Aku dengar salah satunya ada sidik jari milikmu," ucap Irene.
Meera hanya terkekeh mendengarnya.
"Kenapa? Kamu takut sekarang?" Irene semakin mengintimidasi.
Meera menatap ke arah Irene dengan tatapan meremehkan. "Itu tidak mungkin ... aku memakai sarung tangan saat memegangnya. Kamu pikir aku orang bodoh yang tidak punya perhitungan?" Ia menertawakan perkataan Irene. Dia sangat berhati-hati dalam melakukan perbuatan itu. Ia pastikan sidik jarinya tidak akan membekas pada jam tangan milik Jeha.
Irene mengernyitkan dahi. Meera tanpa diduga mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan. "Apa kamu baru saja mengaku?"
Tawa Meera terhenti. "Apa?" Ia memikirkan kembali apa yang baru saja diucapkannya. Tanpa sengaja ia telah mengakui jika dirinya yang telah mengambil jam tangan Jeha.
"Aku salah apa sampai kamu begitu gigih ingin menjatuhkan aku? Bukankah kita harus menjadi teman satu sama lain?"
"Teman?" Meera memberikan tatapan tajam kepada Irene. "Sejak kapan kompetisi ini dibuat untuk mencari teman? Kita ada di sini untuk saling bersaing dan mengalahkan yang lain. Kamu bilang kita harus berteman? Hahaha ... ucapanmu sangat kocak! Memangnya siapa yang mau berteman dengan orang sepertimu?"
"Kehadiranmu sudah menghancurkan citra lomba yang biasanya diikuti oleh mahasiswa berkualitas dan eksklusif. Aku dengar kamu hanya mahasiswa pindahan baru, kan? Bisa-bisanya dijadikan perwakilan kampus. Apa ada main-main di belakang? Tidak mungkin semudah itu bisa lolos dalam lomba seketat ini. Kamu pasti membayar orang kan?"
Irene menyayangkan pemikiran Meera. "Apa selama beberapa hari ini kamu belum bisa menilai kemampuanku? Kalau aku curang, kenapa di kelas tidak ada yang mengungguliku. Termasuk kamu. Memangnya kamu pantas ada di sini?"
"Kamu ...." Meera geram dengan perkataan Irene yang merendahkannya.
__ADS_1
"Dari pada iri bukankah lebih baik kamu berusaha untuk mengungguliku?" Irene tertawa. "Jangan-jangan kamu memang orang bodoh. Bisa-bisanya jadi perwakilan."
Plak!
Satu tamparan kelas mendarat di pipi Irene.
"Mulutmu memang seperti sampah, ya. Terlihat sekali kalau kamu orang yang licik sesuai dengan dugaanku."
"Bukankah orang licik itu yang tega memfitnah orang lain seperti yang kamu lakukan?"
Meera menyeringai. "Tapi, kamu tidak bisa membuktikan kalau aku bersalah, kan? Tidak ada rekaman CCTV, juga tidak ada sidik jari. Memang aku yang telah mengambil jam tangan Jeha di toilet dan memasukkan ke dalam tasmu. Pada akhirnya, kamu sendiri yang akan dibenci oleh semua orang."
"Meera! Kamu jahat banget!"
Tiba-tiba Jeha dan Winda muncul dari dalam ruangan tersebut. Meera terlihat sangat terkejut. Ia merasa sedang dijebak oleh ketiga teman sekamarnya itu.
"Sudah lama kita berteman, kenapa kamu jadi seperti ini? Bukankah biasanya kamu orang yang ramah?" Jeha merasa kecewa dengan Meera. Mereka sudah lama berteman, tidak pernah ada masalah. Baru kali ini ia digunakan sebagai alat untuk menjebak orang lain. Jeha hampir saja memusuhi Irene kalau dia tidak mendengar sendiri bahwa Meera adalah pelakunya.
"Aku ramah kepada orang yang pantas! Kalian ... mudah sekali menganggap dia teman. Memangnya kalian sudah kenal baik dengannya? Lagipula, circle pertemanan kita jadi jelek karena dia. Bisa-bisanya orang seperti ini kalian kagumi." Meera ingin tertawa dan menangis mengingat pusat perhatian mereka telah beralih pada Irene. Seharusnya pusat perhatian itu selalu ada padanya.
"Ya! Kalian yang gila!" teriak Meera. "Orang-orang yang menganggap dia spesial sepertinya punya penyakit mata. Apa sih yang kalian lihat dari dia? Apa spesialnya? Kita semua yang ada di sini juga anak-anak cerdas dan terpilih. Dia hanya beruntung saja bisa unggul dldi kelas. Mau sepintar apapun dia, tetap saja dia tidak pantas berteman dengan kita!"
Meera meluapkan emosinya. Ia tidak terima Irene mendapatkan begitu banyak cinta dari teman-temannya. Bahkan para pembimbing juga memujinya, padahal dirinya yang selalu dalam urutan ketiga tidak pernah mendapat sanjungan yang sama. Ia merasa kecerdasan mereka tidak terlalu jauh, dari masalah penampilan ia lebih baik. Bahkan, wanita seperti Irene bisa dekat dengan seorang presdir yang tampan. Ia rasa semua irang memang sudah tidak waras.
"Irene tidak pernah menganggap dirinya yang terbaik. Itu yang membuatnya mudah disukai," sahut Hansen. Dia baru menyusul karena Irene terlalu lama belum kembali ke kelas. Ternyata Irene sedang menghadapi Meera.
Meera menjadi gamang melihat kehadiran Hansen. Sebenarnya, ia cukup mengagumi lelaki itu. Mendengar Hansen membela Irene, hatinya terasa sakit.
"Padahal dia selalu unggul di kelas, namun masih mau belajar dari yang lain. Ia juga tidak sungkan mengajari teman tanpa takut akan tersaingi dalam kompetisi ini. Apa kamu pernah melakukan hal seperti itu? Adakah peserta lain yang melakukan hal sama seperti Irene?"
Meera terdiam tak mampu menjawab pertanyaan Hansen. "Kalian kompak sekali membelanya dan menyudutkan aku," ucapnya lesu. "Sekeras apapun kalian berusaha membelanya, dia tetap akan dicap buruk karena mencuri. Lagi pula kalian tidak punya bukti untuk menuduhku sebagai pencuri." Ia menyeringai.
Irene mengangkat ponsel di tangannya dengan santai, menunjukkan perekam suara yang sedang berjalan. "Apa ini yang kamu maksud?" tanyanya.
Meera sudah tidak bisa mengelak lagi. Ia tidak berpikir Irene akan merekam percakapan mereka. Rasanya hidup Meera berakhir sudah. Ia akan masuk penjara.
__ADS_1
"Tolong ubah sikapmu. Kamu tidak akan menjadi yang terbaik dengan menjatuhkan orang lain."
"Aku bisa saja melaporkanmu pada polisi, Meera. Tapi, karena kamu temanku, aku akan memaafkanmu," ucap Jeha.
Meera tidak bisa berkata apa-apa lagi. Akhirnya ia menyerah dengan sikap keras kepalanya. "Aku akan pergi meninggalkan tempat pelatihan ini dan semoga tidak pernah bertemu dengan kalian lagi!" Ia berjalan dengan langkah cepat meninggalkan teman-temannya dengan perasaan kesal.
Jeha memeluk Irene dan meminta maaf bahwa dirinya sempat meragukan Irene meskipun ia tahu Irene tidak mungkin melakukannya.
*
*
*
Seminggu yang berharga akhirnya terlewati dengan suka cita. Pelatihan untuk kompetisi lomba telah berakhir. Seluruh peserta dari berbagai kampus akan pulang ke asal masing-masing.
Malam terakhir diisi dengan acara api unggun untuk mempererat keakraban di antara peserta. Mereka bernyanyi dan menari riang tanpa mempedulikan bahwa sebenarnya mereka sedang bersaing. Semuanya merasa bahagia dan menganggap seminggu itu sebagai pengalaman berharga yang tidak mungkin dilupakan seumur hidup.
Hansen datang mendekati irene yang tampak sendiri sembari tertawa memperhatikan kekonyolan teman-temannya yang sedang menari. "Untukmu." Ia memberikan segelas minuman segar untuk Irene.
"Oh, Hansen. Terima kasih, ya!" Irene menerima dan langsung meminumnya.
"Kamu tidak ikut menari?"
"Hahaha ... aku tidak bakat menari. Lebih menyenangkan menonton mereka dari sini."
"Besok kita sudah harus pulang. Aku harap bisa lebih sering lagi bertemu denganmu di kampus."
Irene menoleh ke arah Hansen. "Tentu saja. Itu harus. Jeha dan Winda juga katanya tertarik untuk pindah ke kampus kita. Pasti akan lebih menyenangkan nantinya. Teman kita bertambah banyak."
Hansen tersenyum. Sebenarnya bukan seperti itu yang ia harapkan. Tapi, Irene terlihat senang menceritakan kedua temannya yang akan pindah ke kampus mereka.
"Selama pelatihan kamu masih menjadi yang terbaik. Tapi, aku akan berusaha untuk bisa mengunggulimu di kompetisi nasional. Bersiap-siaplah bersaing kembali denganku."
Irene tersenyum. "Tentu saja. Aku sangat menantikan kompetisi di antara kita."
__ADS_1