Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 278


__ADS_3

"Uh ... Capek!" keluh Irene saat kembali ke hotel.


Ia langsung menjatuhkan diri di atas ranjang setelah seharian berada di luar bersama Alan. Tenaganya seakan telah habis.


"Mandi dulu, Sayang. Nanti ketiduran," kata Alan dengan lembut seraya mencium kening istri tercintanya.


"Hm, capek! Malas!" jawab Irene.


Alan menggelengkan kepala sambil tersenyum. Ia tengah melepaskan jas dan kemeja yang dikenakan sebelumnya. Ia menggantinya dengan kaos polos yang lebih nyaman.


"Apa perlu aku mandikan?" goda Alan.


Irene tertegun sejenak. "Tidak usah! Aku mandi sendiri saja!" ucapnya seraya bangkit dan langsung berlari ke arah kamar mandi.


Ia melepaskan gaun yang sebelumnya dikenakan saat makan malam. Rasa malasnya langsung hilang ketika melihat bathtube yang telah dipenuhi dengan air dan taburan bunga di atasnya.


Irene mengembangkan senyuman lebar. Ia merasa Alan telah mempersiapkan kejuta kecil itu untuknya.


Usai melepaskan pakaiannya, ia berjalan ke arah bathtube dan masuk ke dalamnya. Suhu hangat air membuat tubuhnya terasa rileks. Wangi dari bunga turut menenangkan perasaannya.

__ADS_1


"Ah, nyaman sekali," ucap Irene.


Ia membalikkan badan, membuka tirai bambu yang menutupi jendela. Dari sana ia bisa menyaksikan pemandangan malam yang indah sembari berendam.


"Padahal aku pernah ke sini sebelumnya. Tapi, setelah menikah rasanya jauh lebih indah," gumamnya.


Irene tersenyum-senyum sambil membayangkan momen-momen indah yang telah dilewati bersama Alan. Sampai saat ini rasanya ia belum percaya akhirnya telah menjadi istri dari lelaki itu.


Awal pertemuan yang tidak baik dan sering berbeda pendapat, bahkan ia sampai berkata pada dirinya sendiri tidak akan jatuh cinta kepada lelaki itu. Nyatanya, mereka akhirnya menikah.


Sret!


Dengan senyuman tengilnya, Alan berjalan mendekat ke arah Irene. Lelaki itu hanya mengenakan bathrobe saja untuk menutupi tubuhnya.


"Kalau mau masuk bilang dulu, Kak! Aku kan belum selesai mandi!" protes Irene sambil memanyunkan bibirnya.


"Memangnya kenapa? Kamar mandi ini cukup luas kan, untuk dua orang. Tidak usah khawatir sesak," kata Alan yang semakin berjalan mendekat ke arah Irene.


Irene merasa panik sekaligus canggung melihat Alan ada di sana. Ia membenamkan dirinya dalan bathtube hingga sebatas leher.

__ADS_1


"Tunggu di luar sebentar, Kak. Biar aku selesaikan mandinya, nanti gantian!" pinta Irene.


Alan tertawa kecil. "Tidak usah, kita mandi berdua saja," kata Alan.


"Tidak mau! Keluar dulu dari sini, Kak!"


"Aku mau berendam juga. Kita berendam bareng saja," kata Alan dengan percaya dirinya. Tanpa sungkan ia membuka bathrobe yang dia kenakan di hadapan Irene.


"Ah! Ada orang gila!" Irene langsung berbalik badan seraya menarik tirai bambu itu agar kembali turun. Alan sama sekali tidak ada malu-malunya melakukan hal itu kepadanya.


Perasaan Irene semakin resah. Ada perasaan malu dan canggung yang meliputi meskipun yang ia hadapi saat ini adalah suaminya sendiri.


Byur!


Terdengar suara air yang meluap. Irene merasakan pergerakan orang di belakangnya. Kedua tangan Irene sigap menutupi bagian tubuh privat miliknya secara reflek. Ia hampir tak bisa bernapas karena tegang dengan kehadiran Alan di sana.


"Kamu sedang apa berbalik badan begitu? Lebih enak kalau hadap-hadapan, kan?" goda Alan sembari memainkan telunjuknya di punggung Irene.


***

__ADS_1


__ADS_2