Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 47: Pura-Pura Musuhan


__ADS_3

"Haduh ... kenapa kasih tahu mendadak, sih! Hari ini aku mau bersantai ...," gerutu Arvy kepada sang manajer. Ia berjalan dengan langkah cepat menuju ruang pertemuan untuk pembahasan tentang syuting.


"Aku sudah mengingatkanmu satu minggu sebelumnya akan ada acara reading untuk film terbarumu," Marco berusaha membela diri.


"Hahaha ... mengingatkan itu seharusnya tadi malam! Mana mungkin aku ingat jadwalku satu minggu kemudian?" Arvy tak mau kalah.


"Tapi aku bisa ingat jadwalmu selama enam bulan ke depan." Marco ikut berjalan setengah berlari untuk mengimbangi kecepatan langkah Arvy.


"Itu sudah tugasmu. Kamu memang dibayar untuk itu!"


"Jangan lupa lawan main di film kali ini adalah Adila."


Arvy sontak menghentikan langkah saat nama kekasihnya disebut.


"Jangan bilang kalau kamu lupa lagi. Aku sudah memberikanmu salinan skrip dan menjelaskan siapa lawan mainmu. Kamu menjawab sendiri waktu itu bahwa kamu mau menerimanya dan kamu juga sudah tanda tangan."


Arvy merasa tidak ingat saat mengatakan hal itu. Ia benar-benar tidak tahu jika akan dipasangkan dengan Adila di film terbarunya. Jadwalnya terlalu banyak sampai ia percayakan pada Marco untuk mengurusnya.


"Kamu tidak ada hubungan apa-apa kan, dengan dia? Kamu bilang tidak pacaran dengannya. Jadi, tidak masalah kalau kalian satu projek." Marco menatap curiga dengan respon yang Arvy berikan. Meskipun ia curiga ada hubungan spesial antara artisnya dengan Adila, namun saat Arvy mengaku tidak, mau tidak mau ia harus percaya.


"Hahaha ... terserah padamu. Kami memang tidak ada hubungan," kilah Arvy. Ia melanjutkan langkah dengan pikiran yang semrawut. Pasti akan sangat canggung jika mereka bertemu. Adila juga tidak mengatakan apa-apa tentang projek film itu.


"Kak, aku mau ke ruang make up dulu mendandani penampilanku. Kamu duluan saja masuk ke ruang reading," pinta Arvy. Ia menuju ruang make up yang berada di sebelah ruang reading. Kantor tempatnya berada merupakan kantor milik salah satu produser ternama yang biasa memproduksi film dan drama seri terlaris.


Arvy tertegun saat masuk ke dalam ruang make up. Ada Adila di dalam sana. Keduanya saling bertatapan. Sudah lama mereka tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Sekarang, mereka dipertemukan karena sudah menandatangani kontrak film bersama.


Buru-buru Arvy mengunci pintu ruangan tersebut. "Apa ada orang selain kita di sini?" tanyanya.


"Tidak, tidak ada. Aku hanya sendiri di sini," jawab Adila.


Arvy menghela napas lega. Ia langsung menghampiri Adila dan memeluknya. Keduanya saling berpelukan cukup lama melepaskan kerinduan yang mendera mereka.

__ADS_1


Arvy mengangkat tubuh Adila dan mendudukkannya di atas meja rias. Dipandanginya wajah artis cantik yang kini juga menjadi idola banyak orang. Betapa beruntungnya ia bisa memandangi wajah wanita itu secara langsung.


Tangan Arvy masih memegangi pinggang Adila. Tatapan mereka berjarak sangat dekat. Arvy memajukan wajahnya, menyatukan bibirnya dengan bibir wanita cantik di depannya. Adila memejamkan mata, membalas ciuman yang diberikan Arvy kepadanya.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau kita punya projek bersama?" tanyanya.


"Saat produser memberitahu kamu telah menyetujuinya, aku juga ikut setuju. Aku kira itu tidak masalah untukmu."


Arvy menaruh kepalanya di bahu kiri Adila. "Bisa sering bertemu denganmu sudah tentu membuat aku senang. Namun, aku hanya takut kedekatan kita akan semakin diperhatikan. Jika muncul berita buruk tentang kita ... itu tidak akan baik untuk perkembangan karir kita."


"Kita sama-sama jaga rahasia ini dan melakukan pekerjaan secara profesional." Adila mengelus rambut Arvy dengan penuh rasa sayang.


Arvy mengangkat kepalanya, menatap wajah Adila dengan seksama. "Apa di film ini kita akan jadi peran utama?" tanyanya.


Adila tertawa. Arvy benar-benar tidak membaca sama sekali naskah yang diberikan produser. "Tentu saja iya. Untuk apa produser membayar seorang artis ternama seperti Arvy Galaksi hanya untuk jadi pemeran pembantu?"


"Aku khawatir nanti kamu ciuman dengan lawan main." Arvy menunjukkan raut manjanya.


"Berapa kali adegan ciuman yang harus dilakukan? Kalau adegan seperti itu denganmu, aku akan sangat serius melakukannya. Kalau bisa setiap episode ada adegan itu, aku juga tidak keberatan."


Ucapan Arvy membuat Adila tertawa sampai perutnya sakit.


"Kamu juga suka kan, kalau ada adegan ciuman denganku?" tanya Arvy.


Adila mengalungkan tangannya di leher Arvy. "Tentu saja suka ... kapan lagi kita bisa pacaran secara terbuka tanpa ketahuan. Lalu kita juga dapat bayaran."


"Kalau fans menjodohkan kita, suka dengan chemistry kita nanti, aku akan langsung menembakmu secara langsung." Arvy sudah tidak ingin menutupi hubungan mereka. Selama ini hal itu menjadi penyebab utama pertengkaran di antara mereka. Jarang bertemu membuat mereka kerap salah paham.


"Sepertinya itu tidak mungkin terjadi. Bisa saja aku akan dihujat karena menjadi pasanganmu."


"Kita tutup saja akses media sosial selama syuting berlangsung. Terserah fans mau bilang apa, aku tetap mencintaimu." Arvy mendaratman ciuman singkat di bibir Adila.

__ADS_1


"Kita keluar sekarang. Akan aneh kalau dua pemeran utama malah telat datang," ajak Adila.


"Memangnya kamu tidak mau menghabiskan waktu lebih lama lagi denganku?" Arvy cemberut. Ia masih ingin bersama wanita itu.


"Mau ... tapi, kalau kita telat datang dan ketahuan, sepertinya para manajer kita akan mengurung kita dan tidak mengizinkan kita bertemu lagi."


Arvy menghela napas. "Kamu benar. Apalagi Marco. Dia pasti akan memberikan ceramah 24 jam selama 1 minggu. Lebih baik memang kita diam-diam saja." Arvy mengalah. Ia kembali menurunkan Adila ke bawah.


Arvy membuka pintu. Saat membukanya, tanpa sengaja ia melihat manajernya dan manajer Adila sedang berjalan ke arah mereka. Buru-buru Arvy kembali menutup pintu itu.


"Kenapa?" tanya Adila bingung.


"Marco dan Helen ada di luar!" Arvy jadi panik takut keduanya ketahuan. "Mereka itu memang seharusnya dinikahkan saja supaya tidak terlalu cerewet mengurusi kita." Arvy masih mencari cara agar tidak dicurigai.


"Duh, aku memang lupa kalau hanya pamit sebentar kepada Helen," Adila ikut bingung.


"Adila, jambak rambutku!" pentah Arvy.


"Hah, kenapa?" Adila semakin tidak paham dengan kemauan Arvy.


"Cepat lakukan saja dan pura-pura marah padaku!" pintanya lagi.


Klek!


Pintu ruangan terbuka. Adila langsung menjambak rambut Arvy.


"Aduh, aduh ... dasar cewek bar-bar jelek! Harusnya aku menolak saja kalau lawan mainnya jelek kayak kamu!" Arvy pura-pura kesakitan.


"Aku juga tidak sudi main denganmu! Dasar artis sok terkenal! Sombong!" Adila saking meresapi perannya, ia menjambak rambut Arvy dengan keras sampai Arvy benar-benar kesakitan.


"Ada apa ini?" seru Marco. Ia kaget saat membuka pintu artisnya sedang bertengkar.

__ADS_1


Marco dan Helen segera berlari berusaha memisahkan keduanya. Mereka masih saling ejek dan saling pukul seperti anak kecil yang bertengkar. Membuat manajer mereka juga ikut kebingungan. Rambut Arvy dan Adila sama-sama berantakan.


__ADS_2