Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 117:


__ADS_3

"Eugh ...."


Irene terbangun dari tidurnya. Ia menoleh ke samping dan mendapati Alan tengah tertidur di sampingnya.


Seketika ia terbangun dan teringat kejadian semalam. Ia melihat dirinya sendiri. Pakaian yang ia kenakan telah diganti. Ada perasaan khawatir telah terjadi sesuatu di antara mereka. Namun, ia tak merasakan apa-apa.


Ia hanya mengingat sekilas saat mereka berciuman dan saat Alan membawanya ke kamar mandi. Setelah itu, ia tak mengingat apapun.


"Ah! Dandananku!" pekiknya.


Irene berlari ke arah kamar mandi. Ia melihat riasannya sendiri di cermin. Ia menghela napas lega. Penyamarannya ternyata belum terbongkar. Body painting masih melekat pada tubuhnya.


"Tapi, siapa yang mengganti bajuku?" pikiran anehnya datang kembali.


Tidak semua bagian tubuh Irene dilumuri cat. Kalau Alan yang mengganti pakaiannya, lelaki itu pasti telah melihat tubuhnya. "Aduh, apa dia sudah tahu, ya?" tanyanya pada diri sendiri.


Irene mencoba berpikiran positif. Ia pelan-pelan membuka pintu kamar mandi. Alan masih terbaring di ranjangnya.


Ia mengambil tas miliknya yang berisi peralatan make up. "Aku harap Kak Alan tidak tahu yang sebenarnya. Kalaupun tahu, semoga dia lupa karena mabuk!"


Irene mulai membersihkan cat yang menempel di tubuhnya dengan cairan khusus. Ia harus memberikan krim anti radang agar kulitnya tidak bermasalah akibat terlalu lama memakai body painting.


Sementara itu, Alan yang berada di dalam kamar mulai terbangun. Ia mencari keberadaan Irene yang tidak ada di sampingnya. Usai pelayan mrngatakan telah selesai mengganti pakaian Irene, Alan kembali ke kamar itu. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Irene.


"Irene ... Irene ...." panggilnya.


Tidak ada jawaban. Beberasa saat kemudian, ia mendengar suara dari dalam kamar mandi. Ia merasa lega karena Irene masih di sana.


Dilihatnya kondisi kaki yang semalam ia tusuk sendiri dengan pisau. Lukanya menjadi bengkak dan masih memerah meskipun darahnya sudah berhenti mengalir.


"Aduh!"

__ADS_1


Ia memekik saat berusaha menggerakkan kakinya. Rasa sakit di kaki kini makin terasa. Semalam ia benar-benar gila sampai harus menusuk dirinya sendiri.


"Loh! Kak Alan kenapa!"


Irene berseru saat baru keluar dari kamar mandi. Ia bergegas menghampiri Alan yang masih terbaring di ranjang. Ia kaget melihat luka yang ada pada kaki Alan.


"Ini ... Tidak apa-apa," ucap Alan.


Irene memperhatikan luka menganga itu. Semalam ia sempat mendengar suara teriakan Alan. Tidak mungkin ada orang yang hendak melukainya, apalagi pengamanan di kapal pesiar itu sangat ketat.


Irene berpikiran jika Alan sengaja melukai kakinya sendiri. Seharusnya semalam ia menggila bersama. Irene juga tahu kalau Alan berbeda dari biasanya. Pasti ada seseorang yang berniat buruk kepada dirinya dan Alan.


"Ini pasti ulah wanita ular itu. Tidak mungkin sembarangan orang bisa berbuat hal seperti ini kepada aku dan Kak Alan. Pasti Sovia!" gumam Irene dalam hati.


Ia bertekad akan memberikan pelajaran kepada wanita itu suatu saat nanti.


"Biar aku cari obat dulu!" ucap Irene.


Irene mengambil obat dari atas meja. Ia membersihkan luka Alan dengan cairan antiseptik. Ia merasa bersalah sekaligus bersyukur atas apa yang Alan lakukan. Meskipun lelaki itu tak mengatakan apa-apa, ia tahu Alan melakukan hal itu untuk dirinya.


Alan memandangi wanita yang terlihat serius merawat lukanya. Ia semakin terpesona dengan wanita sederhana itu. Apalagi mengingat semalam mereka sempat berciuman cukup lama.


"Di sana! Di sana!


"Apa? Masa sih? Yang benar saja?"


Alan dan Irene saling berpandangan. Di luar sana sepertinya terdengar suara berisik orang-orang.


"Ada apa, ya?" tanya Alan.


"Aku juga tidak tahu. Waktu aku bangun juga belum ada ramai-ramai seperti ini," kata Irene.

__ADS_1


"Kamu sudah makan?" tanya Alan.


Irene menggeleng.


"Kalau begitu, setelah ini ayo kita sarapan dulu," katanya.


***


Di depan pintu kamar Sovia penuh sesak dengan orang-orang yang ingin tahu dengan apa yang tengah terjadi. Dalam kondisi acak-acakan dan tanpa busana, Sovia terbaring di atas ranjang bersama seorang lelaki. Sontak hal tersebut menjadi tontonan.


Paman Sovia yang mendengar kabar dari salah satu anak buahnya segera datang. Ia sampai harus menyingkirkan orang-orang yang penuh sesak menghalanginya masuk.


Betapa syok dirinya melihat Sovia, keponakannya yang terkenal masih single tidur berdua dengan lelaki asing. Sebagai pemilik acara, ia benar-benar dibuat malu dengan kelakuan keponakannya itu.


Kedua teman Sovia menyusul datang. Mereka juga kaget melihat Sovia bersama lelaki lain. Mereka kira Sovia sukses tidur dengan Alan sesuai rencana. Keduanya saling bergandengan tangan takut terlibat dengan kejadian itu.


"Bangun kamu, Sovia!" ucap sang paman dengan nada kesal. Ia membangunkan paksa Sovia.


Sovia mulai mengerjapkan matanya. Ia lihat sang paman ada di dalam kamarnya. Ia menoleh ke samping, mendapati seorang lelaki asing tidur di sampingnya.


"Ahhh!" teriak Sovia kaget.


Sovia menarik selimut untuk menutupi dirinya. Ia sangat malu dipergoki pamannya, apalagi melihat orang-orang juga berkumpul di sana. Ia hanya bisa menunduk.


Hal yang sama dilakukan oleh Ranu. Ia hanya menjalankan perintah dari Sovia untuk meniduri seorang wanita. Tidak disangka, wanita yang ia tiduri justru Sovia sendiri.


"Sabar, Pak Brata. Mungkin semalam mereka berdua terlalu mabuk. Namanya anak muda, pasti gairahnya sedang tinggi-tingginya," ucap salah seorang dari mereka yang mencoba menenangkan paman Sovia.


"Kalian kenapa masih ada di sini? Ayo cepat bubar!" perintah seseorang mengusir kumpulan orang-orang dari sana.


Pak Brata masih belum bisa memaafkan apa yang keponakanannya itu lakukan. Susah payah ia membuat sebuah acara pesta yang mewah namun dirusak begitu saja oleh keponakannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2