
Irene dan Hamish duduk berhadapan di meja berpenerangan lilin di Jules Verne, sebuah restoran Prancis terkenal. Suasananya tenang, Menara Eiffel bersinar terang di kejauhan, dan suara musik Prancis mengalun lembut di latar belakang.
Sambil menyeruput segelas anggur merah, mereka mendiskusikan pernikahan mereka yang akan datang, yang dijadwalkan akan berlangsung keesokan harinya. Hamish tersenyum sambil menatap mata Irene, merasa bersyukur bisa menghabiskan makan malam romantis ini dengan wanita yang dicintainya.
"Makanan di sini rasanya enak," ucap Irene ketika mencicipi hidangan yang disajikan dalam makan malam tersebut.
"Aku selalu berusaha memilihkan sesuatu yang terbaik untukmu," kata Hamish. Ia meraih ke seberang meja dan meraih tangan Irene. "Rasanya baru kemarin aku merencanakan semua ini. Akhirnya besok kita akan menikah," ucapnya dengan binar mata yang terlihat bahagia.
Hamish mengenang perjalanan hidup yang membawa mereka akhirnya sampai ke momen ini. Berusaha lari dari kejaran orang-orang jahat, membangun kembali bisnis keluarga yang hancur, sampai akhirnya terjerumus dalam organisasi gelap seperti Big-O. Semua ia lakukan demi bertahan hidup dan memastikan saudara satu-satunya yang tersisa itu bahagia. Irene menjadi salah satu alasannya melakukan semua hal demi kebahagiaan saat ini.
"Aku sangat senang bisa memutuskan untuk menikah di Paris," kata Hamish. "Ini kota yang sangat indah, dan menyimpan begitu banyak kenangan untukku."
Irene hanya tersenyum.
Saat malam hampir berakhir, mereka berjalan keluar dari restoran, bergandengan tangan. Menara Eiffel berkilau terang di latar belakang, simbol cinta dan romansa yang mereka bagi. Mereka siap untuk memulai babak berikutnya dalam hidup mereka.
Hamish mengajak Irene duduk di salah satu bangku taman. Ia merangkul pundak Irene dan membiarkan wanita itu bersandar padanya. Perasaan Hamish saat ini seakan dipenuhi bunga-bunga.
Irene merasakan keresahan di dalam dirinya. Ia ingin memendam perasaan itu sendiri, namun semakin di tahan, semakin ingin meluap dari dalam dirinya. Irene akhirnya mengeluarkan keberanian untuk berbicara.
"Kak Hamish, aku harus mengatakan hal ini," kat Irene dengan suara yang bergetar.
"Apa itu, Sayang?" tanya Hamish seraya melepaskan rangkulan tangannya. Ia memandang Irene dengan serius dan wajah bahagia.
"Aku sudah memikirkan ini berkali-kali. Aku tidak bisa menjadi istrimu, aku ingin tetap menjadi adikmu," kata Irene.
Hamish terkejut dengan permintaan Irene yang tiba-tiba. Dia selalu percaya bahwa Irene adalah satu-satunya untuknya, dan dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa dia. Dia mencoba meyakinkannya berulang kali untuk berubah pikiran, tetapi Irene bersikeras sampai hari ini.
Wajah Hamish terdistorsi dalam kemarahan. "Bagaimana berani kamu? Apakah kamu tahu seberapa banyak yang telah aku lakukan untukmu? Berapa banyak yang aku korbankan?" bisiknya.
__ADS_1
"Aku tahu, dan aku minta maaf," kata Irene, suaranya hampir di atas bisikan. "Tapi aku tidak bisa melanjutkannya. Aku tidak ingin menyakiti perasaan Kakak, tetapi aku tidak bisa menikah dengan Kakak."
Ekspresi Hamish menjadi lembut, dan ia mengambil napas dalam-dalam. "Irene, aku mencintaimu lebih dari segalanya di dunia ini. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi. Jika kamu meninggalkanku, aku akan memastikan kamu menyesalinya," katanya, suaranya terdapat ancaman.
"Kak," rengek Irene, matanya membesar dalam ketakutan.
"Aku pastikan bahwa jika kamu meninggalkanku, aku benar-benar akan membunuh kakek nenek," jawab Hamish, matanya bersinar dengan kegilaan.
Irene terkejut, hatinya berdebar-debar. "Kamu tidak bisa melakukan itu! Kamu tidak akan berani! Mereka kakek dan nenek kita!"
"Oh, tapi aku akan melakukannya," kata Hamish, senyum jahat melintas di wajahnya. "Dan tidak ada yang bisa kamu lakukan untuk menghentikanku." tegasnya.
"Kita pulang sekarang!" paksa Hamish.
Tangan Irene ditarik paksa oleh lelaki itu. Irene sampai harus berjalan terseok-seok mengikuti langkah kaki Hamish yang cepat. Malam romantis itu seketika berubah menjadi petaka. Hamish sangat murka.
"Masuk!" paksa Hamish. Ia mendorong Irene dengan kasar ke dalam mobil.
Mobil tersebut mulai berjalan menyusuri jalanan Kota Paris yang masih ramai oleh kendaraan. Irene memperbaiki posisi duduknya. Di sampingnya ada Hamish yang terdiam dan masih marah padanya.
"Anak buahku masih berjaga-jaga di sekitar rumah kakek. Berani kamu kabur, tahu akibatnya!" ancam Hamish.
Irene menghela napas panjang. Ia duduk mendekat ke arah jendela memandangi lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang berjalan.
Saat mobil melintas di depan hotel yang sebelumnya ia tinggali, tiba-tiba matanya menangkap sosok yang sepertinya ia kenali. Irene berusaha melebarkan matanya. Seperti yang ia lihat, ternyata benar bahwa lelaki itu adalah Alan. Lelaki yang ia cintai ada di Kota Paris, tempatnya kini ia berada.
Irene hanya bisa meratap sembari memandangi Alan yang pasti tidak akan mengetahui keberadaannya. Seandainya bisa, ia ingin berteriak menyebut namanya dan mengatakan bahwa ia ada di sana. Ia ingin Alan membebaskannya. Ia tak mau menikah dengan Hamish.
***
__ADS_1
"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?"
Resepsionis menyambut Alan dan Aji dengan ramah. Anak buah Alan yang lain masih menunggu perintah di luar area hotel yang disinyalir sebagai tempat Irene tinggal.
"Saya sedang mencari Tuan Hamish Abraham dan Nona Irene Abraham. Kami sudah membuat janji ingin bertemu. Apakah benar mereka tinggal di sini?" tanya Akan dengan nada sopan.
"Sebentar, Tuan. Akan saya cek lebih dahulu."
Resepsionis itu mencari nama yang Alan sebutkan pada layar monitor. "Benar, Tuan. Di hotel kami ada reservasi kamar atas nama Tuan Hamish Abraham. Mereka sudah menginap selama tiga hari di sini, kamar nomor 305."
"Bisakah Anda menghubungi kamarnya? Katakan saya ingin bertemu," pinta Alan.
"Baik, akan saya coba hubungi."
Sementara sang resepsionis masih sibuk, Alan meminta Aji untuk membawa anak buahnya menuju kamar yang dimaksud dengan bahasa isyarat. Alan tetap di sana untuk mengalihkan perhatian.
"Maaf, Pak. Tidak ada yang mengangkat telepon di kamarnya. Apa mungkin Anda punya nomor pribadinya?" tanya sang resepsionis.
"Oh, begitu, ya! Baiklah, aku akan coba meminta ke asistenku saja. Terima kasih atas bantuannya."
Alan lantas pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia tak keluar hotel, melainkan naik ke lantai atas menyusul anak buahnya yang lain.
Alan dengan santainya menaiki lift. Sesampainya di depan kamar yang dimaksud, Aji sudah menunggu kedatangannya.
"Bagaimana?" tanya Alan.
"Kamarnya kosong, Pak," kata Aji.
Alan menoleh me arah atas tempat CCTV terpasang. "Kamu sudah menangani itu?" tanyanya.
__ADS_1
"Sudah, Pak. Selama 30 menit seluruh CCTV di hotel ini akan mengalami gangguan"
Alan lantas masuk ke dalam kamar tersebut. Ia mengecek seluruh ruangan dan menemukan selembar sweater milik Irene yang tertinggal di sana. Ia yakin Irene sebelumnya memang ada di sana. Sweater yang Irene kenakan merupakan hadiah darinya.