Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 177


__ADS_3

Hari keberangkatan ke Swiss akhirnya tiba. Alan dan Arvy masih berada di longue menunggu jadwal pemberangkatan pesawat mereka. Irene masih berada di toilet dan belum kembali.


"Memangnya Kakak tidak bisa pergi berdua saja dengan Irene? Kenapa aku harus ikut segala coba?" keluh Arvy. Ia sampai harus membatalkan jadwal manggung dan syuting selama seminggu untuk menemani Alan.


"Kamu sudah terlalu banyak bekerja, seharusnya berterima kasih karena kakakmu yang baik ini memberikanmu liburan ke Swiss. Aku kan yang menanggung semua biayanya? Kamu tinggal nikmati saja liburannya," kilah Alan.


Arvy memutar malas bola matanya. "Itu cuma alasan Kakak saja kan, untuk menjadikanku obat nyamuk bagi kalian?"


Alan hanya tersenyum.


"Hai ... Aku bawa siapa ini?"


Irene datang membawa Adila bersamanya. Sontak Arvy dan Alan merasa kaget. Sangat kebetulan bertemu dengan Adila di bandara.


"Adila, kok kamu ada di sini?" Arvy melihat sekeliling takut ada paparazi yang mengikuti mereka.


"Tidak usah khawatir, area ini sudah aku booking dan tidak boleh ada orang asing yang masuk selain kru," ucap Alan. Ia membayar area lounge tertutup agar privasi mereka lebih terjaga.


"Kamu mau pergi kemana? Kenapa tidak bilang padaku?" tanya Arvy penasaran.


"Aku yang mengajaknya, Kak. Kita berempat akan ke Swiss," sahut Irene.


"Adila juga ikut ke Swiss?" Arvy sampai membulatkan matanya karena tidak percaya.


"Kemarin aku ketemu Irene di toko. Dia menawarkan aku untuk menemaninya pergi, makanya aku mau," jawab Adila.


"Aduh, seharusnya kamu tolak. Irene itu licik, nanti kamu malah disuruh-suruh," sindir Arvy.


Irene mengarahkan tatapan tajamnya. "Aku mau pacaran dengan Adila. Jangan harap Kak Arvy punya kesenpatan bersama Kak Adila, ya!" tegasnya.


Irene menggandeng tangan Adila agar ikut bersamanya masuk ke dalam pesawat karena salah satu petugas bandara telah memberikan peringatan untuk segera masuk. Alan dan Arvy saling berpandangan. Mereka mengikuti saja kedua wanita itu masuk ke pesawat.


Irene duduk bersebelahan dengan Adila. Mereka tampak bahagia dan tertawa-tawa. Sementara, Alan dan Arvy hanya bisa memandangi keseruan mereka.


Alan sedikit kecewa karena Irene lebih memilih duduk dengan Adila dibandingkan dirinya. Wanita itu seakan sengaja mencari alasan untuk menghindar darinya. Ia sangat paham jika Irene merasa tidak nyaman setiap kali berada di dekatnya.


Setibanya di Swiss, Alan dan Arvy menikmati malam dengan meminum alkohol bersama di kamar Alan. Irene dan Adila sudah beristirahat di kamar masing-masing.

__ADS_1


"Hah ... Kenapa aku jadi merindukan omelan kakek? Meskipun sering dipandang sebelah mata karena aku tidak mau kuliah, tapi aku tahu kakek sangat menyayangiku," kata Arvy sembari meneguk minumannya.


"Kakek melakukan semua hal untuk kebaikan kita," ucap Alan bijak.


"Ya, aku tahu." tapi, Kak Alan juga tidak perlu memaksakan diri untuk melakukan hal yang tidak disukai. Sekalipun itu kemauan Kakek."


Alan meneguk minumannya. Alkohol membuat tubuh mereka menjadi hangat di tengah suhu udara Swiss yang dingin.


"Kak Alan tidak perlulah sampai harus menikahi Irene hanya karena wasiat kakek," ucap Arvy.


Alan menyunggingkan senyum. "Aku mau menikahinya karena aku menyukainya," ucapnya. Mungkin karena alkohol ia bisa begitu terbuka terhadap Arvy.


"Hahaha ... Jangan melawak, Kak." Arvy tak percaya dengan ucapan kakaknya.


"Aku serius," kata Alan. Tatapannya juga seakan memperjelas bahwa ia tak berbohong.


Arvy mematung dan memandangi Alan sembari tertegun. "Apa yang Kak Alan suka dari wanita jelek dan menyebalkan itu? Aku benar-benar tidak percaya," gumamnya.


Alan hanya tersenyum. "Rahasiakan ini dari siapapun, Arvy. Jangan sampai ada yang tahu," pinta Alan.


"Hahaha ... Kalau aku bilang juga tidak akan ada yang percaya, Kak."


Irene keluar dari kamarnya mengenakan pakaian hangat. Ia sudah ditinggal oleh Adila yang lebih dulu keluar bersama Arvy. Di depan pintu kamar, tak sengaja ia melihat Alan juga baru keluar dari kamarnya.


"Mau makan siang?" tanya Alan.


Irene mengangguk.


"Kalau begitu, kita makan siang bersama saja. Mereka sudah pergi duluan," ajak Alan.


Keduanya berjalan beriringan menuju area restoran yang terdapat di hotel itu. Mereka terlihat canggung sampai tidak ada obrolan selama mereka berjalan.


Padahal mereka yang akan menikah, namun pasangan yang lebih mesra adalah Adila dan Arvy. Mereka sangat menikmati momen liburan di Swiss yang jauh dari jangkauan paparazi.


"Excuse me, here is the menu," ucap seorang pelayan restoran yang menghampiri meja mereka. Ia memberikan buku menu kepada Alan dan Irene.


"Give me rosti and spaghetti carbonara, please," kata Irene. Ia tak butuh waktu lama untuk memikirkan makanan enak yang ada di sana.

__ADS_1


"What's about you, Sir?" tanya sang pelayan kepada Alan.


"Same with her."


Pelayan tersebut meninggalkan meja mereka setelah mencatat apa yang mereka pesan. Alan masih menatap Irene dengan sorot mata kekagumannya.


"Kenapa, Kak?" tanya Irene yang mulai risih dipandangi terus. Ia merasa ada yang salah padanya sampai aalan tak henti-hentinya memperhatikannya.


"Kamu kelihatan sudah sering datang ke sini," ujar Alan.


Irene hanya tersenyum.


"Kamu sama sekali tidak kesulitan memesan makanan dan Bahasa Inggrismu juga sangat fasih."


Irene merasa dirinya sedang dicurigai. "Sebelum ke sini aku sempat mencari tahu tentang Swiss, Kak. Aku menghafal makanan-makanannya yang sekiranya cocok di lidah, makanya mudah memilih jenis masakan terenak," kilah Irene. "Kalau kemampuan Bahasa Inggrisku, itu belajar otodidak saja lewat internet. Apalagi di kampus juga dituntut untuk bisa bahasa asing."


"Pasti kamu tidak akan kesulitan selama di sini. Aku sebelumnya mengkhawatirkanmu."


Irene tersenyum merasa diperhatikan.


"Look at him! He's so damn handsome ...."


"He's my type!"


Irene melirik ke arah meja sampingnya. Tampak dua wanita bule cantik yang sedang mengarahkan pandangan ke meja mereka. Mereka tengah memuji ketampanan Alan dan mencemoohnya sebagai wanita jelek yang merusak pemandangan.


"Apa na fsu makannya tidak terganggu duduk semeja dengan wanita jelek itu? Hahaha ...." Irene hanya tersenyum mendengarkan ucapan gila mereka.


"Kamu tidak perlu mempedulikan ucapan mereka," nasihat Alan. Ia juga mendengar apa yang kedua wanita itu bicarakan.


"Tenang saja, Kak. Aku sudah terbiasa mendengar ucapan buruk seperti itu. Aku tidak akan terpengaruh sedikitpun," kata Irene. Ia melanjutkan makannya dengan lahap.


"Aku sudah membeli perlengkapan ski. Nanti kalau Arvy dan Adila sudah pulang, kita atur jadwal main ski bersama. Kamu mau, kan?"


"Tentu, Kak! Tujuan kita datang ke sini untuk bermain salju. Aku tak sabar menantikannya." Irene terlihat bersemangat.


"Aku suka melihat dirimu yang tersenyum manis seperti ini," puji Alan.

__ADS_1


Irene jadi sedikit malu. Ia kembali terdiam dan menikmati makanannya.


__ADS_2